
"Malam om,malam tante!!" Sapa Delice,Agatha,Clara dengan kompak saat tiba di ruang makan.
"Malam juga,silahkan duduk." Ujar William ramah.
Tapi ketiganya malah memindai sekeliling melihat ruangan makan yang begitu luas dengan masing-masing pelayan berdiri di belakang kursi siap untuk menata hidangan yang akan mereka makan. Saking sibuk memperhatikan sekitar ketiganya sampai lupa duduk.
"Ekhmm!!" Dehem Zee menyadarkan ketiga temannya,dengan gelagapan mereka langsung duduk dibangku masing-masing.
"Hehe,rumah lo bikin melongo terus sih." Bisik Agatha. pelan pada Zee yang berada di sebelahnya,namun bisikannya masih bisa di dengar semuanya.
"Kalau gitu sering-sering aja main ke sini,suruh Zee ajak kalian nginap di sini kapan-kapan. Lagian om senang,dia sekarang sudah punya teman." Ujar William lagi dengan senyuman ramah yang masih lekat di bibirnya.
"Cih sejak kapan pak tua itu jadi baik? Mama tiri Cinderella itu kasih dia makan apa? Atau jangan-jangan pak tua itu salah dikasih racun makanya mendadak bego? Lagian sejak kapan peraturan membolehkan untuk berbicara di meja makan? Bukan cuma gue yang selalu ngelanggar peraturan itu ,kalau gue di rumah? Lah? Kok gue baru nyadar gue trouble maker?" Puluhan pertanyaan di kepala Zee berseliweran membuat Zee blank sendiri.
"Zee? Kenapa makanannya gak dimakan?" Tanya William heran melihat Zee yang belum membalikkan piringnya.
"...."
"Zee!!" Seru William sedikit lebih keras membuat Zee menoleh datar,padahal dalam hati ia mengumpat karna kaget,memang Zee paling pinter kalau urusan control face.
Zee menatap sekeliling sebentar,dan benar saja semuanya sudah makan kecuali dirinya."Huff...." Ujat Zee menghembus napas pelan sambil membalikman piringnya. Sebenarnya ia juga tak kalah canggung dengan situasi sekarang,selama tigabelas tahun Zee jarang sekali makan malam di rumah,ia hanya sesekali sarapan bersama. Itupun berujung keributan dengan papa atau abangnya.
Melihat majikannya sudah membalikkan piring,bi Surti yang secara khusus adalah pelayang Zee dari kecil langung menghampiri majikannya.
"Non mau makan apa?" Tanyannya lembut.
"Zee ambil sendiri." Tolak Zee halus,sebenarnya ia malas dilayani bak tuan putri. Tidak terbiasa saja, sedari dulukan ia lebih sering sendiri.
Zee langsung mengambil potongan daging dan meletakkan di piringnya,kemudian beralih pada pisau dan garpu. Ia memilih makan beef stick malam itu,sedangkan anggota keluarganya tampak memakan spaghetti yang tersedia. Sementara ketiga temannya yang memang asli orang indonesia,tentu saja mengambil menu yang ada nasinya.
Zee sendiri? Ia memang jarang mengkonsumsi nasi dalam jumlah banyak,mungkin karna dirinya bukan asli orang indonesia dan sewaktu neneknya masih hidup dulu mereka memang menerapkan budaya Eropa,jadi Zee terbiasa saja.
Makan malam berlalu dengan tenang, tidak ada keributan seperti biasanya. Padahal dulu setiap Zee berada di rumah,makan malam atau sarapan mereka pasti akan berakhir dengan keributan. Jika makan siang mungkin jarang mereka lakukan bersama,karna jika siang hari semua anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing.
"Tinggg!!" William dan Zee berbarengan meletakkan sendok ke atas piring pertanda mereka sudah selesai makan.
Keduanya saling toleh,karna tumben saja berbarengan selesai. Karna biasanya Zee selalu saja jadi orang yang lebih dulu pergi dari ruang makan,baru kali ini baik William maupun Zee merasakan makam malam tanpa keributan sedikitpun. William jadi berpikir untuk sering-sering menyuruh Zee membawa teman-temannya menginap di rumah.
"Kalau mau nambah lagi,silahkan. Kalian kan masih dalam masa pertumbuhan,jadi harus makan banyak." William berbicara pada teman-teman Zee layaknya menasehati anak kecil.
__ADS_1
"Oh,come on dad she is not a child!!" Ujar Zee dalam hati.
Sedangkan William mengalihkan padangannya pada Zee yang tampak anteng menunggu yang laib selesai makan. Karna aturannya begitu,mereka baru akan beranjak dari meja makan jika semuanya sudah selesai makan. Namun biasanya Zee selalu melanggar itu.
"Kamu kenapa gak makan lagi? Badan kamu makin kecil,Davian gak ngasih kamu makan?" Tanya William setelah puas menatap putri bungsunya itu dengan lekat.
"Uhuk...uhuk.." Davian mendadak tersedak mendengar tuduhan papanya.
"Di kasih kok!! Dia aja yang jarang makan di rumah." Ujar Davian sambil meletakkan sendok di piringnya yang
Sudah kosong,kemudian minum untuk mengakhiri makan malamnya.
"Papa becanda,lagian mana mungkin juga kamu biarin adik kamu kelaparan. Papa ingat,waktu itu kamu pernah antar Zee sekitar jam sembilan malam untuk makan di restoran karna Zee ngambek."
Ucapan William membuat Zee dan Davian mengingat awal mereka baikkan,setelah Zee ribut besar dengan Sassya dan papanya siang itu.
Keduanya tak menyangka jika William ternyata mengetahui hal itu, ia kira selama ini papanya yang dingin dan egois itu benar-benar tidak peduli,ternyata ia salah.
"Gue gak ngambek waktu itu!!" Elak Zee tiba-tiba,membuat William menatapnya berbinar karna Zee tidak mencuekinya.
"Kenapa bicara gue lo sama papa,hm? Davian gak ngedidik kamu dengan benar selama di apartemen?" Tanya William dengan nada dingin,namun wajahnya tidak garang seperti biasa.
"Gak,bang Vian malah ngajarin gue berantem,sampai gue masuk rumah sakit." Jawab Zee santai setengah mengadukan kejadian ketika mereka membela Clara di cafenya. Ngomong-ngomong soal Clara,sepertinya sudah dua kali Zee berantem karna membela calon kakak iparnya itu.
"Demi cewek lo juga bego!! Lo sih jadi cowok lemah,ngelawan cowok satu aja gak bisa." Ledek Zee lagi,sedangkan yang lain masih setia menonton drama adik kakak itu.
Kecuali Sassya dan Melissa yang merasa geram melihat ketiga orang di depannya ini mendadak sangat dekat.
"Gue lemah? Tapi kenapa lo yang masuk rumah sakit? Berati elo yang lemah."
"Fine!! Besok kuliah siang,lu jugakan? Gue bakalan kasih tantangan,kita berdua manjat pohon mangga yang ada di dekat gudang belakang. Siapa yang manjatnya paling tinggi dan dapat mangga paling banyak berati dia yang kuat. Kalau gak bisa berati dia lemah,gimana?"
"Fine,kalau gue menang... Lo harus kerjain semua pekerjaan kantor gue selama tiga hari,gimana?"
"Kenapa jadi lo ngasih challege juga?"
"Suka-suka gue lah,kan kalau gue menang. Kalau lo gak mau ya berusaha aja buat ngalahin gue."
"Ok...deal!!"
__ADS_1
"Heh,siapa yang suruh kalian berdua ngambil mangga di belakang? Mangga itu mau papa buatin manisan." Seru William tiba-tiba.
Davian dan Zee langsung menatap William sinis."Kan pohong mangga di belakang ada dua!!" Protes keduanya dengan nada tinggi membuat William terjengkit kaget.
"Gak usah ngegas juga!! Papa ini udah tua,kalau kenapa-napa bagaimana?" Tanya William sendu sambil mengusap-usap dadanya.
"Cih,sadar juga kalau situ udah tua." Jawab Zee makin tidak sopan(readers di rumah gak usah niru Zee ya,gak baik.)
"Oh God,temen gue lucknat banget!!"
"Tau!! Kasian om William,punya anak lucknat kayak lo!!
"KasianJuga sama Clara yang bakal punya adik ipar pedes kayak lo."
Delice dan Agatha tiba-tiba masuk ke dalam drama tanpa diundang. Zee melengos malas mendengar ucapan kedua sahabatnta,sedangkan Willam mengamati mereka satu persatu.
"Yang namanya Clara yang mana?" Tanya William tiba-tiba. Clara yang merasa namanya di sebut jadi was-was sendiri,ia menatap teman-temannya tajam seolah mengancam 'Awas aja lo berdua!!'
"Yang namanya Clara yang mana?" Sekali lagi William bertanya dengan nada datar.
"S...sa..saya om." Ujar Clara lirih sambil menunduk. William langsung menatap Clara datar dan intens. Sassya yang melihat itu langsung tersenyum senang,ia yakin William pasti tidak setuju Clara dan Davian punya hubungan. Namun...
"Oh,kamu yang namanya Clara? Cantik sih,pantesan anak saya suka. Tapi kamu sabar-sabar ya pacaran sama Vian. Dia kadang terlalu dingin, tapi masih lebih hangat dibandingkan Zee. Tapi kayaknya Zee udah kasih kamu lampu hijau,jadi tenang aja gak akan ada penghambat hubungan kalian,karna om juga kasih lampu hijau buat orang yang bisa bikin anak-anak om senang."
"What he hell!! Pekik Clara dalam hati,ia kira William akan marah besar bahkan meminta Zee membawa teman-temannya pulang. Ternyata dugaannya salah,pria itu malah merestui hubungan mereka.
Kemudian William beralih pada Zee.
"Kamu sendiri? Sudah punya pacar? Atau pria yang di rumah sakit kemarin pacar kamu? Siapa namanya ya?" William tampak mengingat-ingat, sedangkan Zee langsung meraih gelas di depannya agar tidak gugup.
"Ah iya,namanya Arkhan. Papa sempet ngobrol sama ,anaknya baik. Papa setuju kamu sama dia..."
"Uhuk...uhukk..." Kini giliran Zee yang tersedak mendengar ucapan William.
"Apaan sih,kok papa malah jadi biro jodoh. Udahlah Zee mau ke kamar, mau ngerjain tugas!! Zee duluan!! Pamit gadis itu sambil beranja dari meja dan pastinya langsung di susul oleh ketiga temannya.
Tinggalah William dan Davia yang menatap tingkah Zee sambil geleng-geleng.
"Dasar gengsian!!" Ujar William.
__ADS_1
"Gak beda jauh sama papa!!" Balas Davian membuat William melotot,yang dipelototi malah tertawa. Sehangat itu hubungan mereka,tanpa memikirkan perasaan dua orang lain yang berada di situ tengah menatap mereka geram.
"Lihat saja besok!!"