
Mata Zee menatap nanar bangunan di hadapannya sekarang. Bangunan yang sempat ia tinggslkan beberapa hari lalu. Bangunan yang mengisi hari-harinya selama 18 tahun dengan semua kenangan baik ataupun buruk di dalamnya.
"Gue gak ikut masuk ke dalam ya bang? Gue males ribut sama papa." Pinta Zee dengan tatapan datar tanpa bergeming dari posisinya.
Davian menoleh sejenak pada adik semata wayangnya itu. Tapi bagaimanapun Zee harus bertemu dulu dengan papanya. Papanya harus minta maaf setelah apa yang ia lakukan pada Zee kemarin,begitulah pikir Davian.
"Masuk ya dek,nemenin gue ngambil baju. Lagian lo gak mau ambil foto-foto nyokap di kamar? Sekalian bawa sebagian pakaian lo. Sayangkan kalau nanti gak kepakai? Urusan papa biar gue yang tanggung jawab. Gue pastiin dia gak bakal nampar lo lagi kali ini,gue yang bakal lindungin lo." Ujar Arkhan mantap sambil mengelus pelan puncak kepala Zee.
Zee menghela napas pasrah. Lagian ia masih punya hak atas pakaian di kamarnya. Karna pakaian di situ Zee beli dengan uangnya sendiri bukan uang papanya. Lagian gimana mau pakai uang papanya jika jatah bulanan Zee sudah di seludup oleh si mama tiri lucknat di rumahnya itu.
"Ya udahlah gue ikut masuk,tapi lo janjikan buat jadi tameng gue nanti?" Tanya Zee tak yakin,Davian mengangguk dan langsung menggenggam tangan Zee sambil berjalan masuk ke rumah.
"Loh,banh Vian!! Kak Zee!! Kalian habis darimana? Udah beberapa hari gak keliatan?" Tanya Sassya dengan wajah polosnya membuat Zee ingin sekali membunuh gadis di depannya ini.
"Gak usah pura-pura lupa oneng!! Lo udah pernah nyamperin gue ke Bogor kemarin. Sok-sok-an nanya dengan tampang bangsat lo itu. Jijik gue liatnya." Gerutu Zee dalam hati. Ingin rasanya ia melabrak Sassya sekarang, namun ia tidak mau mencari ribut di rumah papanya sekarang."Sabar Zee,lo bisa labrak dia di kampus besok."~Ucap Zee lagi dalam hati sambil terus berlalu naik ke atas menggunakan lift. Baik Zee ataupun Davian tidak ada yang menjawab pertanyaan Sassya tadi.
"Sialan baru ngilang beberapa hari. Ternyata tu anak gak kapok nyari masalah sama gue!! Awas aja,gue bakalan buat perhitungan sama lo besok!! Dasar sialan!!" Umpat Sassya geram, sambil mengehentak- hentakkan kakinya dan berjalan menuju ke kamarnya.
♡♡♡
"Tumben bang Vian nyuekin Sassya? Bang Vian ada masalah sama dia?" Tanya Zee di sela-sela merapikan barang-barang milik Davian di kamarnya.
__ADS_1
"Gak mood,lagian gue udah janji bakalan jadiin lo adek gue satu-satunya. Prioritas gue sekarang itu elo bukan dia ataupun siapa." Jawab Davian sekenanya.
"Gue ke kamar bentar ya bang,nyimpan barang-barang yan mau di bawa. Abis itu temenin gue ke paviliun,gue mau pamit sama mbak Surti diakan yang udah jagain gue dari kecil. Masa gue minggat gak bilang dia." Ucap Zee sambil berlalu ke luar kamar Davian.
♡♡♡
Di dalam kamar Zee memandangi foto keluarga lamanya dengan tatapan sendu."Maafin Zee mama,oma,dan juga opa. Zee gagal jagain papa dan keluarga kita,Zee gagal jagaian mama dan oma. Gara-gara Zee semuanya jadi kacau gini,tapi Zee janji. Zee bakalan ngawasin papa dari jauh,mama juga gak usah khawatir. Zee udah berhasil ngejauhin bang Vian dari pengaruh dua ular itu. Nanti Zee juga pasti bawa papa keluar dari pengaruh mereka. Kalian gak usah khawatir Zee pasti bisa nanganin ini semua." Ucap Zee panjang lebar,tangannya mengusap pelan foto keluarganya itu.
Tanpa Zee sadari dari balik pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat,ada Sassya yang tengah berdiri di situ sambil mengepalkan tangannya.
"Ohh,jadi ini rencana lo? Lo sengaja minggat dari rumah buat ambil alih perhatian Davian? Gak segampang itu Azellea,gue gak bakal diam aja. Gue bakal rusak dan hancurin semua rencana lo kedepannya. Gue gak bakal berenti sampe lo bener-bener menderita dan tahu gimana rasanya gak punya keluarga kayak gue dulu." Ujar Sassya pelan sambil meninggalkan kamar Zee.
Sementara Zee yang baru selesai menyimpan barang-barangnya menoleh ke arah pintu dengan tatapan menyelidik."Perasaan kayak ada yang ngintip deh tadi!! Apa perasaan gue doang ya??" gumam Zee heran.
♡♡♡
"Bang Vian udah selesai?? tanya Zee sambil masuk ke kamar Davian.
"Udah,yuk berangkat sekarang. Udah jam 8 nih,kita juga belum makan malam nih. Sekalian ke cafe lo lah nanti." Jawab Davian sambil meraih kopernya dan koper Zee untuk di bawa turun ke bawah.
~♥♥♥~
__ADS_1
Sementara itu di lantai bawah ternyata William sudah menunggu kedatangan Zee dan Davian dengan wajah sinisnya.
"Kalau mau keluar dari rumah,harusnya sendiri gak usah bawa-bawa anak saya." Sindir William saat Zee dan Davian lewat di hadapannya.
"Anak papa yang mana nih yang papa msksud?"
"Apa perlu Vian ingatin kalau anak papa bukan Vian ataupun Zee,tapi kita berdua. Kalau misalkan papa mutusin ikatan salah satu dari kita berdua,sama aja dengan papa misahin ikatan darah antara semua keluarga William dan Michelle termasuk papa dan mama Diana dulu." Tegas Davian.
"Kalau papa mau Zee keluar dari rumah ini. Papa juga gak bisa nahan Vian supaya bertahan sama papa. Kakak mana yang mana yang tega liat adek kandungnya di usir dari rumah tanpa ngelakuin apapun. INGAT PA!! VIAN BUKAN PAPA YANG SEMUDAH ITU NGEBUANG ORANG YANG JELAS-JELAS SEDARAH SAMA VIAN."
"Asal papa tau Vian masih punya hati dan Vian ingat janji Vian ke mama dulu. Kalau apapun yang terjadi suatu saat,Vian harus lindungin Zee. Makasih buat semua yang papa kasih ke kita selama ini. Mulai hari ini dan seterusnya papa bebas buat gak ngasih kita apapun,kecuali kalau papa masih punya rasa tanggung jawab sebagai orangtua. Lagian mulai hari ini kita bakal coba mandiri jadi papa gak perlu khawatir. Vian sama Zee pamit ya,gak usah di cariin. Papa jaga kesehatan aja di sini."
Willian termanggu mendengar setiap kata yang terucap dari mulut putra sulungnya itu. Rasanya ia tidak percaya jika ia baru saja kehilangan dua anaknya sekaligus. Belum lagi perkataan Davian tentang mendiang istrinya membuat pikirannya berkecamuk. Namun di sisi lain egonya masih cukup besar untuk menghalangi kepergian mereka.
Setelah berucap panjang lebar,Davian langsung menarik Zee keluar dari rumah. Tak lupa keduanya mampir sebentar di paviliun sesuai kemauan Zee tadi.
♥♥♥♥
"Non Zee sama den Vian bakalan balik lagikan kapan-kapan? Non Zee gak serius pergi dari sinikan? Masa non Zee tega ngebiarin bibi di sini sendiri. Terus bibi di sini ngurusin siapa dong?" Tanya bi Surti dengan beruraian air mata membuat Zee mengulum senyumnya.
"Iya,Zee balik kok kapan-kapan. Sekarang belum waktunya,ada yang harus Zee urus dulu. Bibi doaian aja semoga lancar. Titip papa sama rumah ya bi,selama Zee sama bang Vian gak di sini bibi harus kasih tahu semua kegiatan papa. Pantau terus dan jangan lupa kabarin Zee." Pesan Zee sebelum benar-benar pergi.
__ADS_1
"Zee sama bang Vian pamit,jaga diri kalian di sini ya. Zee pasti bakalan kangen kalian." Ujar Zee lagi sambil memeluk satu persatu pembantu perempuan yang melihat kepergiannya dan Davian. Sedangkan untuk pelayan laki-laki Zee hanya menyalami mereka. Kemudian segera menyusul Davian yang sudah lebih dulu mengantarkan koper ke mobil.
~♥♥♥~