
"Lo bertiga dari tadi kenapa ngikutin gue sih??"
Zee si gadis cuek tanpa ekspresi itu akhirnya membuka suara setelah menahan kekesalan sedari beberapa menit sejak jam kuliah pertama usai.
Ia kesal karena sedari tadi ada tiga makhluk aneh yang terus-terusan mengikuti dirinya bahkan sampai ke dalam toilet dan itu berhasil membuatnya naik darah.
"Yah,malah pura-pura tuli lagi."
Zee mengguman kesal ketika melihat ketiga makhluk yang duduk di seberang mejanya itu malah tampak berbisik-bisik seolah tengah sibuk membahas sesuatu.
"Aneh banget."
Tak ingin pusing memikirkan tiga makhluk yang ia cap aneh tadi. Zee memilih mengeluarkan handphone dan headsednya kemudian mulai menonton serial anime kesukaannya.
Hingga beberapa detik Zee merasa ada orang lain yang ikut duduk di kiri dan kanannya. Perlahan kepalanya menoleh.
"Heh!!!" Kaget Zee tak santai.
Bagaimana tidak,dua dari tiga makhluk aneh tadi sudah ada di sampingnya dan kali ini tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit di jelaskan.
"Duduk di sini boleh kan??" Tanya makhluk aneh pertama yang duduk di sebelah kiri Zee.
"Krik..krikk...krikk..."
"Heh,tuli ya?? Temen gue nanya tuh!!!" Kali ini makhluk aneh yang ada di sebelah kanan Zee ikut berbicara bahkan sampai menarik headset yang di kenakan Zee membuat mata Zee menajam.
"Gak sopan!!!" Batin Zee menaham geram.
"Ada ya orang yang diajak kenalan susah banget. Gila,baru kali ini nih ada orang yang di ajak ngomong susahnya melebihi presiden. Pak Jokowi aja kalau ketemu gue nyapa kali ya. Lo tau gak sih gue siapa??"
"Gak."
"Oh My God!!! Gue ngomong panjang lebar dan jawaban lo cuma 'gak',gitu doang,really???"
"Hm."
"Tha,kenalan baik-baik kali. Lo kayak emak-emak nawar harga cabe di pasar deh." Tegur makhluk di sebelah kiri Zee.
Sepertinya ia salah satu yang paling waras di antara mereka. Pikir Zee.
"Tadi nama lo siapa?? Kita mau kenalan nih." Makhluk yang di juluki si paling waras tadi kembali buka suara.
__ADS_1
"Kepo!!" Jawab Zee sinis. Gadis itu memilih pergi saja dari kantin. Bisa gila ia kalau berada di situ lama-lama.
"Eithhh,tunggu dulu. Kita belum kenalan. Gak papa kalau lo gak mau nyebut nama lo,biar kita aja yang nyebut nama kita. Soalnya rugi kalau lo gak kenal sama the most wanted Vripagold ini!!"
Si makhluk gila di sebelah kiri Zee itu kembali berbunyi bahkan kali ini tangannya ikut-ikutan menarik pergelangan tangan Zee.
"Siniin tangan kanan lo." Menarik tangan kanan Zee untuk di salami.
"Gue Agatha Danice Admaja. Anak dari Tuan Admaja dan Nyonya Ivanka,putri tunggal,lagi kuliah di Vripagold,tapi sekarang istirahat,jurusan sama kayak lo,duduk di kursi kedua deretan lo,umur sekarang 18 tahun,status jomblo karena gak mau,dan yang paling penting mulai hari ini gue jadi teman lo karena lo udah mau kenalan sama gue."
"What???" Batin Zee. Apa ia tak salah dengar??
"Yang ngajak kenalan situ woi!! Kenapa kesannya kayak gue yang ngebet ya??"
"Okay sekarang giliran gue!!"
"Anjirttt!!" Pekik Zee kaget untuk yang ketiga kalinya.
"Makhluk apa lagi ini??" Batin Zee tak habis pikir.
Baru saja ia berjenalan dengan makhluk aneh,kali ini ada makhluk yang lebih aneh lagi. Sudah tidak di kenal,muncul dari bawah meja pula.
"Sejak kapan dia di bawah sana?? Gila yah ni kampus isinya anak sultan berkelakuan otan." Lagi-lagi Zee membatin.
Gadis itu berusaha menarik tangan Zee agar mau di salami. Namun segera Zee tepis. Untung saja keduanya terhalang meja jadi makhluk asing satu ini bisa sedikit ia hindari.
Walaupun begitu,ia tetap tak bisa pergi kemana-mana,karena di sampingnya ada dua herder rabies yang entah kenapa dengan sengaja merentangkan tangan untuk menghalangi gerak tubuhnya.
"Ternyata mereka semua gak waras!"
"Buruan!!" Suruh Zee malas. Ia pasrah saja menyuruh gadis di depannya ini berkenalan. Bisa saja ia menghajar mereka,tapi apa kata dunia ketika ada mahasiswa yang baru pindah malah sudah menghajar orang.
Belum lagi masalah papanya,bisa saja orang tua itu datang ke kampus karena Zee membuat onar di hari pertamanya di kampus Vripagold.
"Ih,lo gak sabar ya pengen kenalan sama gue??"
Lagi-lagi makhluk aneh ini berbicara seolah Zee yang ngebet kenalan.
"Najis!!!"
"Ya udah deh,siniin tangan lo."
__ADS_1
Dengan pasrah Zee mengulurkan tangan kanannya."Sabar-sabar Zee,anak kecil itu!! Masih bocah,bukan tandingan lo!!"
"Gitu kek dari tadi!!" Si gadis aneh versi dua itu menarik tangan Zee dengan cepat.
"Kenalin. Delice Aurora Ivander,anak ayah sama bunda gue dan juga anak ke tiga dari 3 bersaudara. Cantik, pinter,baik,kuliah di Vripagold sekelas sama lo lagi. Umur gue masih muda,ntar pas ultah gue undang deh, gue juga jomblo soalnya yang di suka gak peka."
"Curhat lo??"
"Dan yang terakhir,mulai hari kita lo jadi teman gue. Fix no debat."
"........."
"Gila aja kalau gue mau."
"Kok lo diam aja sih??"
"Terus??"
"Ya jawab kek,siapa nama lo?? Mau gak temenan sama gue?? Gitu doang susah."
"Hm"
"Ya ampun,nona bule. Please deh,lo gak ngerti bahasa Indonesia ya?? Ini gue ngomong panjang lebar cuma dijawab 'hm'. Lo sariawan??"
"Udah-udah,nanti aja kita tanya namanya. Si Clara belum kebagian tuh."
Zee mengernyitkan dahinya."Clara?? Siapa lagi yang di maksud nih orang??"
"Ha..hai...gue boleh kenalan kan? Gak panjang-panjang kok,gak perlu salaman juga kalau lo gak mau. Nama gue Clara,Clara Aldebaran. Lo boleh panggil Clara atau Lala. Kita bertiga teman sekelas dan pengen lo jadi temen kita,gimana??"
1....detik....2....detik....3....detik.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Zee.
Bukan karena tak mau menjawab,tapi karena ada hal yang lebih menarik perhatian Zee. Jauh di depan sana,dari jarak sekitar lima meter ada seseorang yang terus menatap Zee dan Zee sadar itu.
Orang yang tengah menatap Zee itu adalah Sassya,si adik tiri. Tapi bukan tatapan permusuhan seperti yang biasa ia lihat,ini tatapan lain yang entah kenapa sulit untuk Zee pahami.
"Woi!! Lo dengar kita gak sih??"
Gadis yang menyebutnya namanya Delice tadi tampak marah karena terus diabaikan oleh Zee.
__ADS_1
"Gue harus ke kelas!!"
Tanpa basa-basi Zee menerobos di antara Agatha dan Clara,yang ada di otaknya saat ini adalah lepas dari tatapan Sassya dan juga menghindari ketiga makhluk aneh ini. Ia tidak mau berhubungan dengan siapapun di kampus ini. Terlalu asing dan berisiko. Sahabatya hanya Dark Night. Tidak ada yang lain.