
Sementara itu di sisi lain,Zee kini tengah di hadapkan dengan masalah baru. Ke tiga makhluk aneh yang sepanjang hari kemarin ia hindari,kini nyatanya datang lagi dengan kegilaan versi baru. Tingkah mereka benar-benar berhasil membuat Zee ingin mogok kuliah.
"Please mau ya Zee!!"
"Terima gelangnya aja deh!!"
"Lo gak harus jadi sahabat kita sekarang,tapi kalau lo udah nerima kita baru deh lo pakai gelangnya."
"Iya Zee,sekarang lo simpen aja dulu gelangnya. Ya.....ya...ya...ya,mau ya...."
Zee menggeleng."GAK."
"Tapi..."
"Lo bertiga kenapa sih?"
"Mau temenan sama lo Azellea!!"
"Kenapa?"
"Apanya??" Tanya Delice tak paham dengan pertanyaan Zee yang super singkat.
Zee berdecak."Maksud gue kenapa harus gue??"
"Oh itu,ya karena kita melihat adanya aura-aura kecocokan antara kita dan elo. Benar gak gengs??" Ucap Delice ngaco.
"Bener!!" Jawab Clara dan Agatha kompak.
"Please Zee,kasih kita kesempatan seminggu deh buat deketin lo. Gimana???" Kali ini Agatha yang bertanya dengan nada yang sangat amat memohon.
Zee mendelik."Ok,seminggu."
"Tapi Zee..."
"Ada tapinya??" Tanya Zee sinis.
Agatha mengangguk."Kalau dalam seminggu itu kita berhasil buat lo jadi temen kita. Jangka waktunya harus di perpanjang,gimana? Deal gak?"
"Hm!!"
"Ih jawab 'iya' Azellea. Kita mana ngerti bahasa 'HM'."
"Iya." Jawab Zee malas.
"Yeayyyy!!" Sorak ketiga gadis itu kompak. Mereka bertiga tampak berpelukan dengan wajah berbinar persis seperti adegan di kartun teletubies. Zee jadi bertanya,sebenarnya ketiga gadis di depannya ini umur berapa?
"Nih Zee,simpen ya gelangnya. Itu gelang kita buat khusus untuk orang yang kita anggap sahabat."
Clara menyerahkan gelang tali berwarna coklat yang bertuliskan 'GWACANA' itu pada Zee. Mata Zee sedikit mengkerut. "GWACANA maksudnya apaan dah??" Batin Zee.
__ADS_1
Sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Zee,ia sangat penasaran dan ingin sekali bertanya. Tapi hal itu tidak ia lakukan karena tidak mau membuat ketiga gadis di depannya ini GR dan mengira ia sudah menerima mereka sebaga temannya. Memang dasarnya Zee,gengsi di pelihara.
Zee memilih memasukkan gelang pemberian mereka ke dalam tas dan mulai mengeluarkan tablet miliknya untuk mencatat materi kuliah karena dosen sudah masuk ke kelas mereka beberapa detik yang lalu.
Satu jam berlalu,kuliah pertama Zee sudah usai. Zee mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan melihat ada cukup banyak panggilan tak terjawab dan juga pesan dari beberapa orang terdekat Zee,salah satunya adalah Kaivan.
Zee mengernyitkan dahinya. Tumben sekali Kaivan menelponnya sepagi ini. Zee memilih ke luar kelas untuk menelpon balik Kaivan,beruntung ketiga gadis aneh itu tidak mengikutinya jadi ia agak tenang hari ini.
"Halo Kai kenapa?" Tanya Zee begitu panggilan tersambung.
"Lo di mana Chelle??"
"Gue? Di kampus lah,kenapa?"
"Oh,gak papa. Syukur deh,gue kira lo di mana."
"Aneh banget,setiap hari juga ke kampus sampai siang. Kalau gak di kampus ya di bengkel,di cafe,di mansion,bukannya lo udah hapal tempat-tempat gue??"
"Iya Chelle iya,gue cuma mastiin aja. Siang ini jalan-jalan mau gak??"
"Kemana?"
"Kedai Ice Cream Rainbow? Gimana?"
"Boleh,udah lama kita gak ke sana."
"Oke gue jemput ke kampus lo."
"T...tapi,.."
"Tut..."
Zee mematikan telepon secara sepihak dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas saat merasakan ada seseorang yang ssdang mengawasinya. Zee tidak tahu pasti apakah ini firasat atau bagaimana. Tapi sepertinya sedari tadi pagi Zee selalu merasa terkena pantulan silau kaca yang ia yakini itu adalah pantulan kaca teropong.
Mata Zee mengedar menatap sekelilingnya,saat ini ia sedang berada di belakang gedung kampus dan tak ada satu orang pun yang terlihat di situ tapi entah kenapa Zee tetap merasa jika ia tidak sendirian di situ.
"Jangan-jangan hantu. Hii!!" Batin Zee mendadak bergidik.
Dengan mengambil langkah cepat Zee segera keluar dari tempat tersebut dan masuk kembali ke dalam kampus. Sepanjang jalan ia terus merasa was-was hingga hampir terjingkat saat ponsel di tasnya kembali berbunyi.
"Halo Kai,kenap...."
"Kai siapa??"
"Eh?" Kaget Zee sambil melihat layar ponselnya yang kini menampilkan nama pemanggil yang ternyata adalah abangnya,Davian.
"Kenapa?" Tanya Zee dengan nada malas.
Terdengar helaan napas berat dari seberang sana."Pulang dek,papa semalaman gak tidur karena nungguin lo yang gak pulang-pulang. Lo baru pulang ke rumah sekali dalam seminggu ini dan lo udah kabur lagi. Lo niat bikin papa sakit?"
__ADS_1
"Gue gak peduli!!"
"Dia papa kita dek!! Papa kandung kita,kenapa lo setega ini??"
"Kalian juga tega sama Zee,buat apa Zee pulang kalau cuma buat di marahin sama papa??"
"Lo salah makanya papa marah,andai lo bisa sedikit lebih baik sama Sassya dan mama hubungan lo sama papa juga gak bakalan serenggang ini."
"Cih,gak akan!!"
"Zee!! Jangan sampai gue..."
"Gue bakalan pulang!!" Putus Zee cepat. Ia sudah tau jika Davian pasti akan menyuruh orang untuk mencari keberadaannya jika ia sampai tak pulang malam ini.
"Bagus,gue tunggu lo sebelum jam delapan malam."
"Hm"
Telepon di akhiri. Zee segera mematikan ponselnya dan melanjutkan langkahnya menuju kelas. Tanpa ia sadari dari jarak beberapa ada seseorang yang baru saja merekamnya dan tersenyum misterius setelahnya.
♡♡♡
"Lo habis ini ada acara Kai??" Tanya Arkhan pada Kaivan yang saat ini tengah sibuk mengemasi laptopnya ke dalam tas.
kaivan mengangguk."Ada jam dua nanti. Kenapa?"
"Yah,sayang banget. Padahal tadi gue niatnya pengen ngajak lo keliling fakultas manajemen,gue mau nyari masa depan gue."
"Kalau gila,gak usah ajak gue." Ujar Kaivan kejam. Pria itu segera beranjak dari kursi dan meninggalkan Arkhan yang kini tengah meratapi nasibnya.
Di belakangnya ada Nathan dan Davian yang hanya bisa menghela napas berat melihat kelakuan Arkhan.
"Udahlah bro,kalau jodoh juga bakalan ketemu. Daripada pusing,mending sekarang lo jemput adek lo ke kelas terus cari informasi tentang future lo itu." Ujar Nathan memberi saran.
Kedua mata Arkhan mengernyit." Lah iya,ya. Siapa tau aja mereka kenal. Tumben lo pinter?"
"Udah lama."
"Ya udah deh gue go nih."
"Hati-hati di tolak!! Gue doain tuh cewek udah punya pacar!!" Teriak Nathan karena Arkhan sudah menjauh.
Nathan menoleh ke samping dan mendapati Davian tengah memasang raut cemas sekaligus menahan marah marah. Tentu saja Nathan agak terkejut dengan raut wajah Davian yang aneh sedari tadi.
"Lo kenapa??" Tanya Nathan.
Davian menggeleng."Gue pulang duluan."
♡♡♡
__ADS_1
Like vote komen