
Sampai di depan lorong mata Davian membelalak saat melihat Zee terduduk di lantai sembari memejamkan mataya,raut wajahnya masih datar tapi Davian tahu adikknya sedang menahan sakit terlihat dari kerutan yang kadang muncul di sudut matanya. Di tambah lagi jidatnya berdarah.
"APA-APAAN INI?"
♡♡♡
Sontak saja teriakan Davian membuat bi Ana yang sedang berjongkok membersihkan pecahan kaca langsung berdiri dengan badan gemetar. Begitupun dengan Zee yang tadinya memejamkan mata sontak menoleh.
"Tu..tuan muda..?"
"Abang?"
"KENAPA BISA KAYAK GINI? KAMU BISA KERJA GAK SIH?" Tanya Davian geram,ia lagsung mengangkat tubuh munggil Zee dan menggendongnya.
"SEKARANG JUGA KAMU KELUAR DARI RUMAH SAYA. PAPA SAYA TIDAK MEMPERKERJAKAN PELAYAN CEROBOH SEPERTI KAMU!!"
Sontak saja ucapan Davian membuat bi Ana kembali terduduk di depan kaki Davian. Begitupun Zee yang langsung memukul dada bidang sang abang.
"Bang!! Bi Ana gak salah,Zee tadi yang nabrak!! Bi ana gak liat kalau Zee tadi lari ke arah dia. Tadi Zee kepeleset terus nabrak bi Ana,jadi bi Ana gak salah,Zee yang salah."
"Dan Bi Ana,lebih baik ambil sapu buat bersihin ini. Maaf ya udah bikin bibi repot."
"Abang anterin Zee ke kamar!!"
Mau tak mau Davian akhirnya menuruti kemauan Zee, bagaimanapun juga kaki Zee butuh pengobatan saat ini. Untuk urusan bi Ana,walaupun masih marah,tetap saja Davian tidak mungkin memecat orang itu setelah mendengar penjelasan Zee tadi.
Begitupun dengan bi Ana,setelag mengucapkan terimakasih pada Zee dan Davian. Wanita paruh baya itu langsung berlari ke dalam mansion untuk mengambil alat bersih-bersih.
Sedangkan Zee sudah dibawa masuk oleh Davian.
♡♡♡
"Kenapa sih lo ceroboh banget dek?" Kesal Davian sambil meletakkan tubuh Zee dengan pelan di atas sofa kamarnya.
"Namanya juga kepleset,siapa yang bisa ngatur coba." Jawab gadis itu santai membuat Davian greget sekali.
"Ckkk..."
__ADS_1
Davian kehabisan kata-kata,sudah malas meladeni adeknya yang paling pintar jika urusan debat. Ia memilih menelpon bi Surti pengasuh Zee sejak kecil,agar menelpon dokter Andi yang merupakan dokter pribadi keluarga mereka. Kemudian dirinya beralih menuju kotak P3K yang tersedia di dekat pintu kamar Zee.
♡♡♡
"Pelan-pelan bang,lu kira kulit badak apa!!" Geram Zee pada Davian yang menekan luka di kaki dengan kuat.
"Ini udah pelan bego!! Lo diam deh!!"
"Ishh..au..sakit anjing!! Itu luka bukan tompel!!"
"Gue juga gak bilang ini tato bego!!"
"Udah...udah sini gue obatin!!" Lerai Clara jengah pada dua kakak beradik yang malah saling umpat.
Dengan senang hati Davian menyerahkan kapas pembersih ke tangan Clara.
"Kamu cakar juga gak papa,kalau dia marah bilang sama aku. Nanti aku marahin balik!!" Ujar Davian santai sambil berjalan keluar kamar. Clara hanya bisa menggeleng heran mendengar ucapan pacarnya itu. Padahal tadi ia mati-matian marah pada bi Ana,sekarang ia malah menyuruh Clara mencakar Zee,walaupun semua tau Davian bercanda tapi tetap saja aneh.
"Siniin Clar,gue obatin sendiri. Lo bertiga mending turun ke bawah,sarapan sana. Gue nanti aja tunggu bi Surti."
Jawab Delice sungguh,walaupun sebenarnya mereka bertiga sudah cukup lapar.
"Lo bertiga kan harus kuliah jam sepuluh nanti,kalau gue izin kayaknya."
"Kita bertiga juga!!" Jawab ketiganya kompak,dan Zee hanya mengangkat bahu cuek. Tidak masalah jika mereka juga tidak berangkat kuliah,jadi ia punya teman di rumah.
"Ya udah kalau gitu,gue telpon bi Surti suruh antar sarapannya ke sini." Ujar Zee sambil mengambil telepon rumah yang berada di atas meja di depan tempat duduknya.
Baru saja ia menekan nomor telepon rumahnya,pintu kamarnya terbuka menampakkan dokter Andi, yang datang diikuti Davian,William,Melissa dan bi Surti di belakangnya.
"Kok bisa gini sih Zee? Kenapa bisa luka?" Tanya William begitu sampai di dekat Zee,yang di tanya hanya menggeleng acuh. Zee malas menjawab melihat kehadiran Melissa di situ membuat moodnya rusak.
"Iya nak kenapa? Mama denger kamu kepleset? Bener? Bukan karna bi Ana sengaja celakain kamu?" Tanya Melissa yang malah mengambing hitamkan bi Ana.
"Gue kepleset,bukan salah bi Ana. Gak usah nuduh orang lain yang enggak-enggak. Seandainya ada orang di sini yang mau nyelakain gue,itupun bukan bi Ana. Bisa aja itu malah elo, gak usah ngambing hitamin orang lain. Drama lu basi tau!!"
Melissa membelalak mendengar ucapan Zee,sontak saja wanita paruh baya menangis sembari berjalan mendekati Zee. Sedangkan penghuni kamar yang lain tidak ada hanya diam tak terlibat keributan antara Zee dan Melissa.
__ADS_1
"Maksud kamu apa nak? Mama gak tau apa-apa? Mama dikamar dari tadi,kenapa kamu bisa nuduh mama sedangkan kamu terluka karna bi Ana."
"HARUS BERAPA KALI SIH GUE BILANG LO BUKAN MAMA GUE!!"
"Azellea!!"
"Papa gak usah ikut campur!! Kalau papa mau belain dia,papa mending keluar dari kamar Zee. Asal papa tau, sampai kapanpun mama Zee cuma Diana,bukan wanita yang gak jelas asal-usulnya kayak dia. Zee gak pernah sudi ada orang yang gantiin posisi mama di sini."
"Dek!!"
"Apa? Abang mau belain mereka juga? Silahkan Zee gak peduli."
"Bukan bego!! Luka di jidat lu berdarah lagi tuh,obatin dulu baru lanjut marah-marah." Ujar Davian santai sambil mengangkat tubuh Zee yang tadinya duduk di sofa jadi berpindah ke tempat tidur.
"Dok,obatin adek saya dulu."
Suruh Davian pada dokter Andi,dokter muda itupun mengangguk dan mulai mengobati luka di kaki dan dahi Zee.
Sementar Davian sudah beranjak mendekati orangtuanya."Papa sama mama keluar dulu ya. Zee butuh istirahat,Vian harap papa ngerti. Vian gak ngelarang papa mau ke sini lagi nanti,atau sekarang. Tapi Vian saranin gak usah ajak Sassya ataupun dia." Ujar Davian dingin sambil menunjuk Melissa yang berdiri di samping William.
Akhirnya dengan pasrah pasangan suami istri itu berlalu keluar kamar, dengan Melissa yang sudah mengumpat geram di dalam hati.
Davian bernapas lega saat melihat kedua orangtuanya keluar dari kamar sang adik. Bukan apa-apa hanya saja ia pun sudah geram melihat Melissa yang begitu pintar berakting di depan orang-orang.
Padahal ia sudah tau alasan Zee menginap rumah papanya adalah semata-mata untuk mengawasi Melissa. Hal itu Zee lakukan karna ia mendapat informasi dari bi Surti jika beberapa hari yang lalu Melissa hampir ribut dengan papanya karna ketahuan memindahkan sertifikat-sertifikat dari ruang kerja William.
Zee curiga jika Melissa bukan berniat memindahkan,tapi malah berniat mengambil alih barang-barang yang seharusnya jadi milik Zee nantinya.
♡♡♡
"Tuan muda lukanya sudah selesai saya obati. Obatnya juga sudah saya berikan,anda hanya perlu mengingatkan nona muda untuk meminum obatnya dengan rutin setelah makan." Terang dokter Andi saat sudah selesai mengobati luka Zee.
Davian hanya mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih,dan dokter itupun berlalu keluar kamar.
"Bi Surti bisa minta tolong antarkan sarapan untuk kami berlima ke sini? Kami srapan di sini saja,kasian Zee kalau gak di temenin."
"Baik tuan,bibi ke bawah sebentar." Ujar bi Surti sambil pamit undur diri meninggalkan kamar majikannya.
__ADS_1