
Hari yang di tunggu oleh seluruh mahasiswa universitas Vripagold pun akhirnya tiba. Hari ini,atau lebih tepatnya malam ini adalah malam Anniversarry bagi kampus besar kepunyaan keluarga William itu.
Di Mansion,baik Sassya,Davian dan juga William tampak sudah bersiap-siap untuk pergi. Penampilan mereka sudah rapi,terutama Sassya gadis itu tampak sangat anggun dan **** dengan gaun pesta panjang berwarna gold full pres body dengan model sabrina yang menampilkan seluruh lekuk tubuhnya.
"Gak engap dek bajunya?" Tanya Davian memastikan.
Sassya menoleh ke arah Davian dengan tampang bingung."Gak kok bang,nyaman. Kenapa emang?"
Davian menggeleng dengan tampang agak ngeri. Entah kenapa ia yang engap sekaligus risih melihat baju yang di kenakan adik tirinya ini.
Davian melihat ke arah rambut Sassya yang tampak di sanggul lengkap dengan tiara kecil di atas kepalanya. Penampilan sang adik sudah mirip princess. Pantas memang jika Sassya di juluki gadis paling cantik di kampus.
"Udah siap semuanya?" William yang sudah selesai memasang dasi dengan bantuan Melissa tampak menginterupsi pembicaraan kedua anaknya ini.
Davian dan Sassya mengangguk kompak.
"Udah,papa ke sana bareng kita?" Tanya Davian memastikan.
William mengangguk."Satu mobil saja kita bertiga,supaya tidak memenuhi tempat parkir." Ujar William sedikit bergurau dengan bahasa kakunya.
Melissa menatap Sassya dan Davian secara bergantian."Anak mama cakep-cakep semua." Guraunya pada Davian dan Melissa.
Senyum jumaya langsung terpasang di wajah kedua remaja itu saat mendengar pujian yang terlontar dari mulut Melissa.
Tak lama setelahnya suara dentingan pintu lift membuat semua yang ada di situ menoleh,tampak Zee keluar dengan stelan piyama doraemon miliknya. Sontak saja penampilan Zee membuat William dan yang lainnya melongo. Melissa bahkan sampai terbatuk saking kagetnya.
Zee menatap seluruh orang yang ada di ruangan itu dengan tampang yang tak kalah bingung juga. Ia baru saja mau turun untuk makan malam tapi malah di sambut dengan pemandangan aneh di bawah.
"Kalian mau kemana?" Tanya Zee bingung.
Davian yang sudah geram langsung menghampiri Zee dan mengangkat gadis itu layaknya karung beras dan membawanya masuk kembali ke dalam lift.
"Davian gila!! Turunin gue!! Lo kenapa sih??" Zee meronta-ronta memukul pundak Davian agar di turunkan.
Davian tak bergeming oleh pukulan sang adik. Tangan satunya memencet tombol lift agar membawa mereka naik ke lantai tiga.
Setelah sampai di lantai tiga. Davian langsung membawa Zee ke kamarnya dan membanting tubuh munggil Zee ke atas kasur.
Zee yang kesal langsung melakukan kick up dan menendang perut Davian membuat pria itu sedikit mundur ke belakang.
"Baju gue kusut bego!!" Bentak Davian sambil mengibas baju jasnya yang sedikit kusut karena tendangan sang adik.
__ADS_1
Zee mendengus. Memang selain Kai,papanya dan Davian adalah orang ke dua yang sulit Zee kalahkan dalam hal bela diri.
"Ngapain lo bawa gue ke kamar. Gue laper!! Mau makan ini!" Kesal Zee.
"Makan apa lagi,kita mau ngadirin acara anniversarry kampus. Jangan bilang lo lupa lagi?"
Zee menoleh ke arah Davian dengan raut kaget."Emang malam ini acaranya?" Tanya Zee dengan komuk tanpa dosa.
Davian mendengus kesal. Untung ia bukan cewek,jika ia cewek pasti seluruh make up nya sudah retak karena marah-marah.
"Zee adikku tersayang. Gue tau lo pura-pura pikun biar gak berangkat ke sana,iyakan? Lo pikir dengan akting minus lo ini lo bisa nipu gue? Lo sengaja kan gak siap-siap? Sengaja kan mau pura-pura terlambat biar lo di izinan buat gak berangkat."
"E..enggak." Gugup Zee.
"Mana baju lo? Ganti sekarang atau lo mau gue yang gantiin?"
"Najis!! Gue bukan bayi!!" Kesal Zee.
Gadis itu segera turun dari kasur dan berjalan menuju walk in closet untuk mengganti bajunya.
"Gue kasih lo waktu tiga puluh menit buat siap-siap. Acaranya mulai jam delapan dan kalau lo belum sampai atau malah gak datang malam ini juga gue bakalan kirim lo pulang ke Swiss. Biar lo tinggal bareng uncle Robert dan aunty Cleo di sana."
"Mimpi,gue bakar paspor lo!!"
"Gue kabur ke London!! Ke rumah Grandma,terus urus lagi paspornya buat pulang ke sini."
"Gue laporin ke polisi sana kalau lo buronan. Gampang kan,paling juga sehari lo udah ke tangkap."
"Tega banget lo jadi abang."
"Tega aja,kalau gak sayang nyawa lo udah gue kirim ke perbatasan Natuna sedari kecil."
"Kenapa gak di kirim?"
"Bego!! Banget nih anak,lo mau gue di bunuh papa?"
Tak ada sahutan dari dalam. Davian mengeryit heran."Tumben." Batinnya.
"Dek lo masih di dalam."
"Em."
__ADS_1
"Ngapain anjirtt. Buruan keluar,udah jam tujuh lima belas."
"Sabar anjir!! Gue masih nyari baju!!" Teriak Zee dari dalam.
Davian mendengus. Jika begini bisa-bisa ia juga akan terlambat. Secercah ide tiba-tiba muncul di otak cerdas Davian.
"Dek!! Di mana paspor lo?"
Di dalam Zee yang tengah mengubek-ubek isi lemari tampak heran mendengar pertanyaan abangnya.
"Kenapa emang?" Tanya Zee sedikit berteriak.
"Buruan kasih tau kalau gak gue kunci lo di dalam saja sampai besok."
"Cari aja sendiri. Gue lupa!!" Balas Zee malas.
"Bang!!" Panggil Zee saat tak mendengar suara Davian di luar sana.
Zee memilih keluar untuk memastikan keberadaan sang abang. Namun saat sudah di luarĀ Zee tak mendapati siapapun di sana.
"Lah kemana tuh orang?" Gumam Zee.
Gadis itu menoleh ke sekeliling dan kaget saat mendapati boneka doraemonnya yang paling besar sudah tak ada di sana. Zee segera memeriksa ke pinggir kasur. Namun ia malah melihat secarik kertas yang di tulis oleh Davian.
Di kertas itu Davian mengatakan jika akan berangakt terlebih dahulu dan jika Zee tidak menyusul nantinya maka boneka itu akan Davian bakar beserta seluruh isi di dalamnya.
"Sial!!" Umpat Zee kasar.
Di saku bonekanya ada kunci laci gue. Belum lagi flashdisk data restoran serta cafe dan bengkelnya juga ada di sana.
"Davian bangsat!!" Teriak Zee frustasi.
Gadis itu segera berlari kembali ke ruang ganti. Setibanya di ruang ganti Zee langsung menarik sembarangan dress miliknya yang ada di sana lalu memakainya dan memadukannya dengan jaket denim. Katakan saja ia lupa jika dress kode miliknya seharusnya berwarna gold.
"Bodo lah,yang penting berangkat." Batin Zee.
Zee beranjak menuju meja rias untuk memasang soflen dan menyisir rambutnya. Setelah memastikan rambutnya rapi,Zee beralih pada wajah dan bibirnya. Ia hanya menyemprotkan spray ke wajahnya dan sedikit lipbalm untuk memoles bibir munggilnya tak lupa semprotan parfum sebagai sentuhan akhir.
Setelah merasa penampilannya cukup rapi,Zee langsung meraih tas selempang kecil miliknya yang ada di atas meja, tak lupa ia memasukkan ponsel dan dompet ke dalamnya.
Usai dengan segala keperluannya,Zee pun beranjak mengambil sepatu miliknya yang ada di rak,meraih kunci mobil dengan kecepatan kilat dan akhirnya melesat turun ke bawah.
__ADS_1