
Guys aku balikk😂😂 aku double up nih. Seneng gak?
Readers:B aja😶
Otor : Yaudah😪
♡♡♡
"Papa udah pulang?" Suara Melissa terdengar menyambut kedatangan William lengkap dengan senyuman antusias. Namun senyumnya perlahan luntur berganti dengan wajah kaget saat melihat Zee ikut muncul dari belakang William.
"Loh kamu ikut ke sini nak?" Tanya Melissa yang sudah bisa menetralkan wajahnya dan mengganti dengan wajah sumringah.
Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Zee dan mengelus lembut bahu Zee,namun langsung di tepis oleh Zee membuat Melissa tersenyum kaku.
"Kenapa gak ngomong sih nak, kalau mau ke rumah. Mama kan bisa masakin makanan kesukaan kamu,atau..."
"Sejak kapan lo bisa masak?" Tanya Zee sinis,sambil menatap Melissa dengan remeh.
"Sial." umpat Melissa dalam hati, namun wajahnya masih berusaha tersenyum."Maksud mama,mama bisa suruh koki di rumah ini buat masak kesukaan kamu. Atau mama bisa suruh pelayan-pelayan tadi belanja bahan-bahannya kan?"
"Makasih perhatiannya."
"Oh iya,kamar gue gak ada yang nempatinkan?" Tanya Zee pada kedua orangtuanya dengan sangat tidak sopan.
"Masih,papa suruh bi Surti buat bersihin setiap hari. Sengaja,takut kamu mendadak pulang kayak gini." Ujar William lembut.
"O" Jawab Zee makin singkat,sambil berlalu acuh menuju kamarnya.
♡♡♡
Zee bersiul-siul kecil sembari berjalan menuju kamarnya,namun saat melewati kamar Sassya langkahnya terhenti karna Sassya tiba-tiba muncul di depannya dengan raut wajah kaget.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Sassya sinis.
Zee mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya 'sopankah begitu?'
"Ini rumah gue? Papa juga gak sewot liat gue pulang. Harusnya lo malu ngomong gitu,sama nona muda 'sah' keluarga William." Jawab Zee songong,namun tepat.
"Dahlah minggir sana,ngerusak pemandangan aja." Ledek Zee,sambil mendorong kuat tubuh Sassya hingga gadis itu membentur pintu kamarnya sendiri.
"Dasar ******!!" Umpat Sassya geram, namun ia menahan diri untuk tidak ribut dengan Zee.
♡♡♡
Berselang dua puluh menit kemudian, dua buah mobil berhenti di depan gerbang mansion. Ternyata Davian, Clara,Agatha dan Delice yang datang.
Seperti Zee tadi,Davian pun membuka gerbang menggunakan remote control. Pintu gerbang yang terbuka dengan sendirinya membuat Clara melongo.
Tidak hanya Clara,Agatha dan Delice yang mobilnya berada di belakang mobil Davian pun melongo melihat fenome langka di depannya ini.
"Anjir canggih banget rumah ni orang?" Ujar Delice kagum. Apalagi saat Agatha membawa mobil masuk ke dalam gerbang.
__ADS_1
Delice mengira bangunan di depannya ini adalah rumah Zee, namun ia bingung karna Davian membawa mobilnya berbelok ke arah belakangan bangunan tadi. Mata Delice dan Agatha kembali melotot kagum saat melihat bangunan besar di hadapan mereka saat ini.
"Ini rumah Zee? Terus yang di depan tadi rumah siapa dong?" Tanya Delice bingung.
"Mana gue tau,udahlah pusing gue liat detail nih mansion. Mending kita turun,Clara sama bang Vian udah turun tu." Ujar Agatha sambil menunjuk keluar mobil.
Keduanya turun bersamaa dengan Davian yang berjalan mendekat ke arah mereka."Kunci mobil lo mana?" Tanya Davian pada Agatha.
"Mobil gue mau diapain emang?" Tanya Agatha heran. Davian menatap gadis itu datar."Gak bakal gue jual,cuma mau gue masukin ke garasi."
"Owh,kirain hehe." Ujar Agatha canggung sambil menyerahkan kunci mobilnya ke tangan Davian.
Davian langsung mengarahkan remote control ke arah bagasi,dan pintu bagasi terbuka membuat isinya terpampang jelas. Seketika oksigen di sekitar ketiga gadis lugu mendadak menipis.
Bagaimana tidak,puluhan mobil mewah yang mengisi garasi tersebut membuat mereka sesak napas. Davian yang melihat ketiga gadis itu bengong hanya bisa menggeleng heran sembari masuk ke dalam mobil Agatha untuk dimasukkan ke garasi,barulah setelahnya ia memasukkan mobilnya sendiri ke dalam garasi.
"Ayo masuk!!" Ajaknya pada ketiga gadis itu.
Sampai di depan pintu ketiga gadis itu kembali dibuat bingung.
"Gimana caranya? Nih pintu gak ada gagangnya." Celetuk Agatha heran.
Davian hanya tersenyum tipis, kemudian meletakkan tanganya di sensor sidik jari. Pintu kaca setinggi dua meter di hadapan mereka itupun terbuka lebar.
"Wow." Satu kata keluar bersamaan dari mulut ketiga gadis itu.
"Anjir!! Ini rumah apa istana? Udah penjagaannya ketat,semuanya otomatis lagi." Bisik Delice pada pada Agatha.
"Gue kira rumah semewah ini adanya cuma di film hollywood atau di novel. Ternyata di dunia nyata juga ada." Bisik Delice lagi.
Saking sibuknya bisik-bisik,keduanya sampai tak mendengar dentingan pintu lift yang terbuka bersamaan dengan wajah Sassya yang muncul dengan raut wajah kaget campur sinis.
"Ngapain kalian di sini?" Tanya Sassya sinis,Delice dan Agatha yang kaget mendengar suara Sassya sontak menoleh.
"Lah lo sendiri ngapain di sini?" Tanya Agatha dengan begonya.
"Ini rumah gue bego!! Lagian siapa yang kasih izin kalian masuk? Semua akses rumah ini pakai pasword,kalian dikasih tau siapa?" Tanya Sassya makin sinis.
Dua orang yang ditanya itu malah membulatkan mulutnya,"Nih rumah pake pasword tuh. Pantesan gak ada gagangnya." Ujar Delice polos.
"Ckk..lo berdua budeg? Kenapa bisa masuk ke sini?"
"Kita di ajak sama yang punya rumah kok,santailah orang cantik kayak kita mana mungkin nyelinap masuk diam-diam terus ngerusak rumah tangga orang." Delice berucap sembari menyindir gadis di depannya ini.
Sassya yang merasa tersindir tampak berang."Kalian..."
"Kenapa gak langsung ke kamar gue? Bang Vian mana?" Zee mendadak keluar dari lift dan berdiri di belakang tubuh Sassya yang lebih tinggi darinya.
"Gue di sini.." Ujar Davian yang baru saja datang dari arah ruang tamu bersama Clara.
"Darimana?" Tanya Zee heran,yang ditanya malah nyengir.
__ADS_1
"Gue lupa di rumah ada lift. Gue malah ajak Clara lewat tangga darurat. Udah sampai lantai dua baru gue sadar kalau ada lift." Jawab Davian makin nyengir kaku.
Zee melengos."Semenjak punya pacar,lo rada bego." Ujar Zee sinis, Davian hanya bisa tertawa kecil.
"Kalian udah izin papa,buat bawa orang asing nginap di rumah?" Sassya yang sedari tadi diabaikan,kembali angkat suara.
"Ngapain izin? Lo lupa,setelah selesai kuliah rumah,villa,perusahaan,aset tanah. Semuanya punya Zee,papa udah pindahin semuanya atas nama Zee sejak nenek masih ada. Gue juga gak ada hak di sini,karna gue punya perusahaan sendiri. Sedangkan papa, dia bakalan kembali ke London,dan lo ? Bakal keluar dari rumah ini." Tegas William membuat Sassya mengepalkan tangannya dalam diam.
Sedangkan Zee sedikit tertegun, sebenarnya ia juga tidak tahu jika aset keluarga mereka justru miliknya. Ia kira papanya tidak akan memberinya apa-apa. Ternyata orangitu masih punya hati juga.
"Dahlah bang,mending lo ke ruangan papa izin sana,gue males diadu domba."
"Kalian bertiga,ikut ke kamar gue." Suruh Zee pada ketiga temannya. Tentu saja dengan senang hati ketiga gadis itu mengikuti Zee masuk ke dalam lift.
"Dadah Sassyotttt!!" Ledek Delice sambil menjulurkan lidahnya. Untung Davian sudah pergi dari situ,jika tidak mungkin Delice tidak akan seberani itu.
♡♡♡
"Sassya Bellvara William.."
"Davian Ardana William.."
"Kamar lo mana Zee?" Tanya Delice yang sedari tadi membaca gantungan nama di depan pintu kamar yang ia lewati.
"Ujung." Sahut Zee singkat,dan benar saja di sebelah kamar Davian terpampang pintu kamar berwarna coklat tua bertuliskan "Azellea William Michelle.."
Di depan kamarnya ada tangga berbentuk silender yang menurun ke bawah. Itulah tangga darurat yang dimaksud William tadi,tangga darurat itu terhubung langsung ke ruang makan di lantai satu.
"Ayo masuk!!" Ajak Zee sambil membuka pintu lebar-lebar, mempersilahkan teman-temannya untuk masuk.
"Busyeettt...ini kamar apa bandara, anjirr!!" Ujar Clara yang kini mulai berani menujukkan sifat aslinya. Jika tadi ia lebih banyak diam karna jaga image,kali ini di depan teman-teman dan calon adik iparnya,Clara lebih membuka diri.
"Gila city view dari sini,keren banget!! Kalau gini ceritanya sih gua betah kagak keluar kamar sepanjang hari." Ujar Agatha di depan jendela kamar Zee yang terhubung dengan balkon.
"Kasur lo gede bet,ini mah muat berlima juga Zee. Mana empuk banget lagi,kasur gue aja kagak seempuk ini." Kini giliran Delice yang berjingkrak-jingkrak di atas kasur king size milik Zee.
Zee hanya bisa menghela napas sembari geleng-geleng melihat tingkah teman-temannya yang mendadak bego dan sedikit aneh menurutnya.
"Udahlah mending lo semua mandi!! Kamar mandi di kamar gue ada dua,toilet satu tapi bisa kok buat mandi. Kalau gak mau ya giliran, kalau mau minum ambil di kulkas. Kalau mau minuman yang lain,pakai aja telepon di dekat pintu itu. Lo bisa hubungi pelayan rumah ini buat nyediain keperluan lo pada."Â Jelas Zee panjang lebar bak tour guide.
Sedangkan teman-temannya melongo mendengar Zee yang berbicara banyak,dan lebih melongo lagi saat mendengar isi penjelasan gadis itu.
"Udah gak usab planga-plongo gitu, buruan mandi. Jam tujuh nanti kita harus makan malam,aturan di rumah ini setiap jam tujuh pagi dan malam semuanya harus sudah turun makan . Kecuali jika orang itu lagi gak berada di rumah atau lagi sakit." Jelas Zee lagi.
Ketiga temannya hanya bisa mengangguk kompak kemudian mengambil bathrobe yang sudah di sediakan Zee dan masuk ke kamar mandi.
♡♡♡
Pukul tujuh kurang sepuluh menit, keempat gadis itu keluar dari kamar untuk turun ke lantai bawah. Mereka berempat memilih turun menggunakan tangga darurat atas kemauan Delice.
Katanya ia penasaran dengan seluk beluk rumah Zee,apalagi Zee bilang mereka akan melewati lantai dua tempat mini gym dan bioskop mini milik keluarga William. Jadi gadis itu penasaran saja, dan Zee pun tidak keberatan. Itung-itung senam kaki.
__ADS_1