Story Of Azellea

Story Of Azellea
Bab 15 : Sorry


__ADS_3

Sepulang dari butiq,Zee memilih langsung pulang ke rumah. Badannya terasa sangat lelah sehabis berkeliling mall dan butiq bersama ketiga makhluk aneh tadi.


Begitu sampai di rumah Zee langsung membarinkan badannya di kasur. Napasnya berhembus berat saat kejadian tadi siang berputar di otaknya. Ucapan Sassya yang mengatakan jika besok semuanya akan ketahuan membuatnya geram sendiri. Tapi ia juga tidak bisa mengelak.


Tadi Delice,Agatha dan Clara juga sempat menanyakan maksud ucapan Sassya. Terpaksa Zee harus berbohong lagi dan untungnya mereka percaya,tapi setelah acara anniversarry nanti Zee yakin tak ada yang bisa ia tutupi lagi.


"Huh!!" Zee menghembuskan napasnya dengan kasar."Mending makan siang deh,gue lapar."


♡♡♡


Mata Melissa langsung menajam melihat kedatangan Zee di dapur. Ia kira gadis itu tidak akan turun makan siang mengingat William sedang di kantor dan Davian masih di kampus. Tapi sepertinya ia salah,Zee yang dulu bukanlah Zee yang sekarang. Ia terlalu sulit untuk di tindas kembali.


"Tumben betah di rumah? Biasanya juga lebih senang di luar." Sindir Melissa yang jelas tertuju pada Zee.


Zee yang awalnya berniat makan siang,mengurungkan niatnya dan memilih mengambil minuman dingin di kulkas.


"Kenapa memangnya? Ini rumah papa saya,berati ini rumah saya juga. Saya mau pulang atau tinggal di sini sekalipun itu urusan saya,anda tidak lupa kan dengan siapa anda bicara sekarang? Saya,William dan Davian adalah tiga orang yang memiliki ikatan darah yang sama. Barangkali anda lupa,jadi saya bermaksud mengingatkan bagaimana seharusnya anda bersikap."


"Kamu!! Sudah berani melawan mama sekarang??"


"Heh,mama? Mimpi anda semalam? Satu lagi,asal anda tau!! Dari dulu seharusnya saya memang tidak perlu tunduk dan takut pada anda. Di sini andalah yang menumpang dan keluarga saya lah yang di rugikan."


"Bicaramu sudah seperti orang yang tau segalanya. Asal kamu tau,aku tidak pernah merebut siapapun di sini,papamu  saja yang tidak bisa menjaga hati dan ibumu adalah perempuan yang bodoh,wajar kalau William mencari wanita yang lebih sepadan dengannya." Sinis Melissa.


Kedua tangan Zee terkepal erat,sedari tadi ia sudah menahan emosinya. Tapi jika sudah berhubungan dengan sang mama,Zee tidak akan tinggal diam.


Perlahan Zee berjalan ke arah Melissa yang tampak tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Tangan Zee sudah sedikit terangkat,bersiap memberikan pelajaran pada wanita angkuh tersebut.


Namun kedatangan Sassya membuat aksi Zee harus terhenti.


"Ada apa ini?  Lo sama mama kenapa?" Tanya Sassya yang langsung menyerobot di tengah-tengah antara Zee dan Melissa.


Zee melengos,mood nya untuk menghajar Melissa menjadi hilang seketika.


"Ibu sama anak,sama aja. Heran,kenapa papa betah nampung sampah-sampah kayak gini di rumah."


"Maksud lo apa sih? Gue tau lo gak pernah suka gue sama mama di sini. Tapi di sini kami juga punya hak,dan lo gak bisa seenaknya ngatain gue sama mama kayak gitu." Bentak Sassya dengan nada geram.


Zee terkekeh sinis." Drama lo bagus juga,tapi gak usah di tujukkin di depan gue. Jijik tau gak!!" Balas Zee dengan sinis.

__ADS_1


Tangannya meremas kaleng soda yang barusan ia pegang kemudian melemparkannya tepat ke dalam tong sampah di belakang Sassya.


Setelah itu Zee membalikkan badannya berjalan kembali ke kamar. Perutnya ikutan eneg setelah berbicara dengan dua makhluk menyebalkan barusan.


"Kenapa sih ma?" Tanya Sassya setelah tubuh Zee sudah tak terlihat lagi.


Melissa mengangkat kedua bahunya dengan acuh dan berbalik ke kamarnya meninggalkan Sassya yang masih di liputi tanda tanya.


"Eh ada non Sassya,mau makan siang juga non?"


Sassya sedikit tersentak kaget takkala mendengar suara pelayan yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Sassya menggeleng,"saya sudah makan bi,lagian bukannya ini sudah lewat jam makan siang ya?" Tanya Sassya sopan. Ia memang tidak berani bersikap seenaknya ketika sedang berada di mansion karena begitulah William mendidik mereka. Di rumah ini yang berani bersikap seenaknya hanyalah Zee.


"Memang sudah lewat nona,tapi barusan non Zee turun ke bawah untuk makan siang. Jadi saya kira non Sassya mau makan lagi. Tapi sepertinya non Zee tidak jadi makan,karena saya tidak melihatnya ke sini tadi."


Kening Sassya seketika berkerut mendengar penjelasan pelayan tersebut. Jika barusan Zee turun untuk makan,berati gadis itu belum makan mengingat ketika ia datang ke dapur tadi,Zee sedang bersitegang dengan Melissa.


"Bi,makan siang buat Zee masih ada kan?" Tanya Sassya pada pelayan.


Pelayan tersebut mengangguk."Tolong ambilin buat Sassya bi. Nanti Sassya anter ke kamar Zee."


Pelayan tersebut mengangguk patuh. Ia segera berlalu mengambil makan siang milik Zee,berselang beberapa menit setelahnya ia pun kembali dengan satu nampan berisi sepiring nasi,semangkuk sup dan juga air putih dan beberapa butir anggur.


Sassya mengangguk."Tenang aja bi."


♡♡♡


"Tok..tok...tok..."


"Sebentar!!" Teriak Zee saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.


Zee mempause vidio yang tengah ia tonton kemudian beranjak turun dari kasur dan keluar untuk membukakan pintu.


Saat pintu sudah di buka Zee tak menemukan siapapun di luar sana. Ia menoleh ke samping dan melihat ada nampan berisi makanan yang di letakkan di atas nakas yang ada di samping pintu kamarnya.


"Siapa yang anter?" Batin Zee.


Namun Zee sedang malas menghubungi pelayan untuk bertanya. Jadi Zee langsung membawa masuk makanan tersebut ke dalam kamarnnya.

__ADS_1


Di sudut dinding,seseorang tersenyum tipis melihat kelakuan Zee.


"Sorry." Ucapnya lirih.


♡♡♡


Zee melirik sup kambing yang sedari tadi ia biarkan di atas nakas untuk yang kesekian kalinya. Sebenarnya ia ragu untuk memakan sup tersebut. Tapi di sisi lain perutnya juga sangat lapar dan aroma dari sup kambing tersebut semakin menggugah rasa lapar Zee.


"Gue makan ajalah!!" Putus Zee setelah berpikir beberapa kali.


"Kalau keracunan paling mati." Gumam Zee sambil menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.


"Slurpp." Zee menyeruput kuah sup yang ada di mangkok dengan rakus.


"Enak njir!!" Batin Zee.


"Wah untung ada yang anterin nih makanan ke kamar gue. Coba bayangin kalau sampe gue ngelewatin makanan seenak ini,apa kabar sama perut gue nanti malam." Zee bermonolog dengan kedua mata berbinar.


Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya,hingga tak terasa seluruh makanan yang ada di nampan tandas olehnya.


Setelah selesai,Zee langsung membuka seluruh gorden dan jendela yang di kamarnya untuk menghilangkan bau. Tak ketinggalan pintu balkon pun Zee buka selebar mungkin.


Setelah selesai ia pun beranjak keluar untuk mengantarkan mangkok kosong ke dapur.


Namun saat hampir memasuki dapur,Zee sengaja mendengar suara Melissa tengah memarahi seseorang. Zee pun menghentikan langkahnya dan memilih bersembunyi di balik lekukan tangga.


"Udah berapa kali mama bilang,berhenti mencari perhatian Azellea. Sadar Sassya!! Kamu bukan adik kandung Zee,jangan berharap lebih kalau kamu tidak mau kecewa. Suatu saat kita akan pulang ke Singapura dan tinggal bersama papa kamu,tempat kita di saja bukan di sini. Jauhi Zee!!"


Suara Melissa terdengar sangat jelas di telinga Zee.


"Apa maksudnya??" Batin Zee.


"Papa? Singapura? Apa rencana mereka sebenarnya?" Batin Zee di liputi kebingungan.


"Glegh." Zee menelan ludahnya kasar saat melihat Melissa berbalik dan berjalan ke luar dapur meninggalkan Sassya yang tampak tengah menahan tangis.


Buru-buru Zee keluar dari persembunyian setelah Melissa tidak kelihatan. Ia langsung berjalan menuju wastafel melewati Sassya yang tampak mengusap sudut matanya.


"Kenapa lo??" Tanya Zee basa-basi.

__ADS_1


Sassya menggeleng."Bukan urusan lo!!" Ujarnya sedikit membentak dan setelah itu ia lari meninggalkan Zee yang tampak datar-datar  saja setelah ia bentak.


"Gak jelas." Gumam Zee.


__ADS_2