
"Ini sih namanya minta di usir berjamaah. Udah tau kita tadi di usir karena telat,lah sekarang kita ngikutin Azellea masuk sedangkan Azellea sendiri aja telat. Apa namanya kalau bukan minta di usir?" Tanya Delice frustasi.
"Tau lo Clar,bahkan dia aja salah pakai kostum." Gerutu Agatha ikut menimpali.
"Ya mana gue tau kalau dia bakalan ngajak kita masuk.".Ujar Clara membela diri.
"Kalian bertiga bisa diam gak." Tegur Zee yang sedikit risih mendengar ocehan ketiga gadis di belakangnya ini.
Ketiga orang itu langsung kicep saat mendengar suara Zee yang terdengar dingin. Delice mengakat kepalanya yang sedari tadi menunduk untuk melihat dimana keberadaan mereka. Ia cukup kaget saat tau jika mereka sedang ada di depan meja resepsionis.
"Saya dan teman-teman saya mau menghadiri acara anniversarry Vripagold. Bisa tunjukkan di mana ruangannya?" Tanya Zee dingin.
"Maaf nona,tapi acaranya sudah mulai dari tadi. Kalian terlambat sudah hampir satu jam,jadi tidak boleh masuk!" Suara resepsionis tersebut terdengar agak nyolot.
Zee kembali menarik sudut bibirnya sedikit. Tangannya terulur membuka tas kecil yang tadi di bawanya.
Mata Clara,Agatha dan Delice langsung fokus pada tas milik Zee tersebut,pasalnya tas Zee menggaet brand ternama yang membuat mereka agak bergidik membayangkan harganya.
Entah karena tadi mereka tidak fokus atau bagaimana hingga baru sekarang mereka menyadari jika selain tas mahal,dress hitam yang Zee kenakan ternyata juga bertabur berlian kecil berwarna hitam di area pinggang hingga ke bawahya.
Di sisi lain,Zee kini sudah mengeluarkan kartu undangan miliknya lengkap dengan kartu nama di atasnya.
"Ini kartu undangan saya,di belakang ini teman-teman saya. Mereka tadi terlambat karena menunggu saya,jadi apa kami boleh masuk?" Tanya Zee tegas dengan sorot mata tajam.
Wajah resepsionis tadi langsung pucat setelah membaca kedua kartu yang barusan di sodorkan oleh Zee.
"Maaf nona Michelle. S..saya benar-benar tidak bermaksud.."
"Tidak masalah. Tunjukkan saja jalan mana yang harus saya ambil agar segera tiba ke sana."
"Nona tunggu sebentar,saya akan panggilkan petugas keamanan untuk mengantarkan nona dan teman-teman nona ke sana."
Ketiga gadis di belakang Zee sontak mendongak menatap Zee dengan tatapan bingung. Belum lagi kartu undangan Zee barusan berwarna gold yang menandakan jika ia adalah tamu VIP. Karena tamu biasa akan membawa kartu undangan berwarna silver sama dengan mereka bertiga.
"Siapa sebenarnya dia ini?" Batin ketiganya.
"Lalu nama Azellea tadi kenapa kayaknya ada yang aneh? Tapi apa?" Batin Delice.
__ADS_1
Petugas keamanan yang baru saja datang langsung menunduk ketika menyadari jika yang berada di hadapannya ini adalah nona mudanya sendiri.
"Kami minta maaf atas kelalaian kami nona. Anda boleh masuk. Saya akan antarkan anda lewat pintu belakang,jadi nanti anda bisa langsung ke belakang podium tanpa harus melewati tamu lain."
"Tidak usah,saya lewat pintu utama saja. Saya sudah terlambat,jadi saya rasa akan lebih baik jika saya duduk di belakang saja bersama teman-teman saya."
Zee berkata sembari melirik pada Delice,Agatha dan Clara yang juga kini tengah menatapnya dengan raut bingung sekaligus penasaran.
"Baik kalau begitu,nona-nona silahkam ikuti saya. Sekali lagi maaf atas kelalaian kami." Ucap petugas keamanan tadi.
Zee mengangguk singkat,kemudian melangkah ke dalam hotel tanpa menyapa dua resepsionis
yang tampak menunduk takut melihat keberadaannya.
"Kok bisa sih?" Tanya Delice yang jelas tertuju pada Zee.
Zee mengangkat bahunya acuh."Kebetulan." Jawab Zee singkat.
Begitu tiba di sana,Zee dan teman-temannya langsung di perbolehkan masuk ke dalam karena petugas yang berjaga di depan pintu juga mengenal Zee dengan baik.
"Ting." Dentingan pintu lift yang terbuka di tengah-tengah acara tentu menarik perhatian seluruh tamu undangan.
Tak hanya tamu undangan,seluruh tamu VIP termasuk William,Davian dan Sassya juga tampak kaget ketika melihat siapa yang baru saja masuk. Apalagi salah satunya adalah orang yang sedari tadi mereka tunggu-tunggu dan tentunya sangat mereka kenal.
Zee berhenti di tengah-tengah ruangan,tepat di atas red karpet yang berada di tengah-tengah lantai ruangan. Tatapannya mengedar mencari kursi kosong di antara padatnya tamu undangan.
Suasana masih sunyi senyap karena MC menghentikan aktivitasnya atas perintah Davian. Hingga suara William terdengar ketika Zee tampak memutar balik badannya hendak kembali ke luar.
"Mau kemana Michelle?" Tanya William dari atas podium
Kembali semua tamu undangan tampak berbisik-bisik menebak siapa gadis yang asing tersebut. Tentu jika Clara,Agatha dan Delice,mereka sedikit kenal karena ketiganya termasuk most wanted di kampus setelah Sassya. Tapi Zee,dia hanyalah anak baru dan pasti tak banyak yang kenal.
Lain halnya dengan Zee yang mendengar namanya di panggil secara formal oleh sang papa,mau tak mau ia menoleh karena artinya William sedang sangat serius sekarang.
"Pulang." Satu kata terucap dari mulut Zee.
Davian yang berdiri di sebelah William langsung turun dari podium menghampiri sang adik.
__ADS_1
"Adek apa-apaan sih?" Bisik Davian ketika sampai di depan Zee.
Zee mengangkat kedua bahunya acuh.
"Gue telat satu jam,acaranya juga udah mau selesai. Satu lagi,gue juga gak minat datang kalau bukan karena di ancam. " Balas Zee ikut berbisik.
Namun percakapan keduanya masih cukup di dengar oleh Delice Agatha dan Clara. Apalagi Zee dan Davian memang berdiri sangat dekat dengan mereka bertiga.
Satu hal yang baru mereka sadari. Zee adalah nona pertama di keluarga William. Nama Michelle sudah tak asing di kalangan para pengusaha. Selama ini Michelle sering di sebut secret princess dan hari ini identitasnya terkuak.
Pantas saja tadi Zee bisa dengan mudah masuk ke dalam hotel. Tentu saja itu karena dia adalah anak pemilik hotel ini.
"Lo gak boleh pulang. Lo datang aja gue sama papa udah bersyukur banget. Jadi gue gak bakalan biarin lo pulang,apalagi lo belum sampaikan sepatah katapun di atas podium sana." Bisik Davian lagi.
"Sekarang ayo ikut gue ke depan. Tempat lo bukan di sini,lo tamu VIP." Davian menarik pinggang Zee bermaksud agar Zee tidak melarikan diri dan ia bisa membawa Zee ke podium. Namun naas Zee malah menginjak kaki Davian dengan kuat membuat pegangan Davian terlepas.
Buru-buru Zee menarik tangan Delice dan mengajaknya duduk di pojokan dengan cara meminta tamu beberapa tamu undangan untuk pindah kursi.
Tentu dengan mudah Zee bisa mendapatkan kursi yang ia mau,karena para mahasiswa di situ sedikit paham jika Zee sama pentingnya dengan orang-orang di atas podium itu,walaupun statusnya belum jelas.
"Davian silahkan kembali ke sini. Papa rasa acaranya harus di lanjut,mengingat sekarang sudah hampir pukul sembilan malam."
Davian yang di perintah hanya bisa menghela napas kesal sembari melirik Zee yang tampak sudah duduk di apit Delice,Agatha dan Clara di pojokan sana. Andai ini di rumah,mungkin sekarang Zee sudah di angkat bak karung beras lagi oleh Davian.
"Iya pa." Jawab Davian lemas sembari kembali naik ke atas podium.
Zee bernapas lega ketika Davian akhirnya kembali ke atas. Acara pun berlanjut,MC kembalik menyampaikan banyak hal yang bukannya membuat Zee tertarik tapi malah membuatnya bosan.
Baru lima belas menitan ia duduk,Zee sudah beberapa kali menguap saking bosannya,ia sampai mengantuk. Zee nyaris terlelap,jika saja suara MC tidak memanggil namanya untuk maju ke depan di acara pemotongan kue.
"Azellea....woi,nama lo di panggil. Di suruh ikutan motong kue ke depan." Panggil Delice sedikit menggoncang-goncang bahu Zee yang masih terlelap.
Zee membuka matanya dengan malas karena merasa tidurnya di ganggu. Telinganya kembali menangkap suara MC yang memintanya untuk maju ke depan. Mau tak mau Zee akhirnya berdiri dari duduknya dan melangkah menuju podium.
Begitu sampai di sana Davian langsung menarik tangan Zee agar berdiri di dekatnya. Setelah memastikan Zee berada di depannya,Davian tampak mulai berbicara.
"Teman-teman sekalian,perkenalkan di sebelah saya ini adalah adik kedua saya,namanya Azellea William Michelle. Kalian boleh memanggilnya Michelle,dia pemilik resmi Universitas Vripagold Internasional sekaligus pemilik Golden Emerald Hotel yang saat ini sedang kita pakai." Jelas Davian dengan tegas di setiap kalimatnya.
__ADS_1
Sedangkan Zee hanya bisa menghela napas berat. Sedari tadi ia sudah melihat beberapa kameramen di sudut hotel. Ia tahu jika papanya dan Davian sengaja memanfaatkan acara ulang tahun kampus sebagai ajang konferensi pers. Pantas kemarin papa dan abangnya sampai memohon agar dirinya datang bahkan keduanya sampai mengancam Zee.
"Licik" Batin Zee