
Jam sembilan malam, keempat orang itu keluar dari kantor polisi. Setelah memberi penjelasan serta dimintai keterangan perihal peristiwa penembakan yang Zee lakukan tadi. Barulan mereka diperbolehkan pulang.
Setelah sampai di apartemen Zee langsung mandi dan membersihkan badanya yang sudah cukup lengket. Kemudian keluar lagi untuk mengobati lukanya di ruang tamu.
♡♡♡
Di ruang tamu.....
"Arghhh....anjing!! Woii pelan-pelan bang!!"
"Ini udah pelan,makanya jangan nakal jadi cewek."
"Kalau gue gak ngelawan gue mati bego!!"
"Shhhtth.....lo nekan pakai tenaga dalam ya?"
"Lo nonjok orang tadi pakai tenaga apa hah?"
"Ishh,baru terasa sakitnya!!"
"Curiga gue lo kesurupan reog tadi. Masa bisa ngalahin 6 orang. Giliran di olesin alkohol teriak-teriak kek orang mau melahirkan."
"Sialan...!!"
"Pletak!!" Sebuah botol betadin berhasil mengenai jidat Davian membuat sang empunya meringis.
"Udahlah males gue ngobati lo!!"
"Obatin Ar!! Apaan udah kayak orang mau dimutilasi gitu." Davian yang geram memilih melempar kotak P3K pada Arkhan yang sedari tadi berdiri bak patung melihat kelakuan Zee dan Davian.
Akhirnya,dengan pasrah Arkhan mulai membersihkan luka Zee. Memberi betadin,lalu menutupi beberapa bagian luka yang cukup parah dengan kain kasa dan plester. Setelah beres,ia menyerahkan kembali kotak P3K pada Davian.
"Kalau udah selesai gue pulang ya. Udah hampir jam 10 malam. Gue bisa di omelin bunda kalau gak pulang sekarang." Ujar Arkhan sambil mengusap kepala Zee yang kini tengah duduk bersandar di sofa.
"Iya makasih ya. Hati-hati di jalan...dan...." Zee menggantung ucapanya,gengsi untuk mengatakan kalimat selanjutnya di hadapan abangnya dan Qira yag duduk di sebelahnya.
"Dan apa??"
"Kalau udah sampai,jangan lupa kabarin." Ujar Zee lirih.
"Cihh jijik!!!" Ledek Davian sambil berpura-pura muntah.
"Lo pulang sekarang?" Tanya Davian pada Arkhan yang langsung diangguki cowok itu.
__ADS_1
"Ayo gue anter ke bawah!! Gue juga mau ambil barang di mobil,lagian adek gue kayaknya susah jalan ke bawah." Ujar Davia sambil merangkul bahu Arkhan.
Keduanya pun turun meninggalkan Qira dan Zee yang masih setia bersandar di sofa,dengan mata terpejam.
"Kayaknya harapan lo buat nginep sama gue terkabul." Ucap Zee datar dengan mata masih terpejam. Namun tak lama ia bangkit dari sofa tanpa kaku sedikitpun membuat Qira menatapnya heran.
"K...kaki kamu gak sakit lagi?"
"Gak!!" Jawab Zee cuek sambil melangkah ke kamar dengan luwes.
"Heh!! Tunggu!! Terus aku gimana?"
"Ckkk,tidur bareng gue lah. Mau gimana lagi,di sini cuma ada dua kamar. Papa gue aja kalau ke sini nginap di kamar bang Vian. Lo mau di sana juga?"
"Enggak!!" Jawab Qira panik yang langsung berlari menyusul Zee yang hampir sampai di depan pintu kamarnya.
Keduanya pun masuk ke dalam kamar. Zee menyuruh Qira menunggu di kasur,kemudian ia keluar lagi dengan satu style baju tidur doraemon lengkap dengan sandal bulu seperti yang sedang ia pakai saat ini.
"Nih pake baju tidur gue!! Gak usah protes sama gambarnya,semua baju tidur gue gambar doraemon." Ujar Zee acuh sambil melemparkan baju tidurnya tadi pada Qira.
Gadis itu menatap Zee yang sudah berlalu ke meja belajar dengan tidak percaya. Padahal ua sering melihat tampilan Zee saat di kampus dab cewek itu tidak pernah berpakaian imut. Selalu saja tomboy dan terkesan 'Lakik'.
Tapi...lihatlah sekarang,hampir semua barang di kamarnya ada motif doraemon. Mulai dari gorden, sprei,bedcover,bantal,walpaper dinding,gantungan kunci,boneka, sandalnya bahkan jam wekernya juga doraemon.
Dan....
"Kamu maniak doraemon?" Tanya Qira kagum.
"Kenapa? Mereka lucu kok." Jawab Zee polos,ia bahkan menggoyang-goyangkan HPnya yang sudah dibungkus case doraemon.
Qira tampak menggaruk kepalanya yang mendadak gatal." Kamu unik." Ujar Qira,sebelum akhirnya memilih izin ke kamar mandi. Bisa gila ia jika melihat tingkah Zee yang sulit ditebak.
♡♡♡
Malam berlalu....
Pagi ini Zee sudah lebih dulu bangun. Tanpa membangunkan Qira,Zee berjalan mengambil handuknya,dan pergi ke kamar mandi.
Usai mandi dan mengganti pakaian,barulah Zee membangunkan Qira dan menyuruh gadis itu untuk mandi karena ia harus mengantar Qira ke kampus dulu. Setelah itu Zee harus pergi ke kantor,ia tidak kuliah hari ini.
♡♡♡
"Udah selesai?" Tanya Zee begitu melihat Qira keluar dengan handuk kimono yang menempel di badannya.
__ADS_1
"Pakaian ganti lo pilih sendiri di walk in closet. Ada daleman baru punya gue yang belum kepakai di situ. Pake aja kalau muat."
Kalimat Zee terdengar lugas saat menyebut daleman membuat Qira kikuk sendiri.
"I..iya,makasih Zee!!" Jawab Qira tak enak. Ia begitu merepotkan Zee dua hari ini. Bahkan semalam Zee berkata akan menjemputnya di kampus jika ia sudah pulang kulian.
♡♡♡
"Bikin apa bang?" Tanya Zee begitu sampai di meja makan,melihat Davian sedang sibuk berkutat dengan celemek melekat di tubuhnya.
"Pancake. Ada yang udah jadi tuh buat lo berdua,gue terakhir aja. Gue kuliah siang hari ini." Ujar Davian tanpa beralih dari kompor dan adonan di tangannya.
"Makasih abang!!" Ujar Zee manis.
"Ayo Qir,dimakan. Pancake nya gak bakal masuk mulut lo kalau diliatin doang."
"Iya,makasih Zee. Makasih kak!" Ujar Qira sopan pada Zee dan Davian.
"Jangan pulang kesorean Zee. Kita harus menghadiri rapat pemegang saham sekaligus mengikuti konferensi pers nanti sore. Papa bakalan ngenalin lo ke publik sebagai calon penerus perusahaan utama William.Corp."
"Hmm" Jawab Zee malas .
"Lo gak suka dikenalin ke publik?" Tanya Davian,karena merasa respon Zee tak antusias.
"Entah,asing aja. Gue lebih baik kayak dulu. Banyak yang kenal,banyak penjilat."
"Tapi saat itu pasti bakalan datang,bahkan seharusnya dari umur lo 17 tahun dulu. Kalau aja gak ada problem papa juga gak bakal nunjuk gue di setiap kegiatan perusahaan. Mungkin aja sekarang papa ngerasa lo udah siap."
"Atau lo mau digantiin sama Sassya? Lo juga tau kalau Sassya pengen jadi model,jadi satu-satunya cuma lo. Gue punya perusahaan sendiri."
"Gue gak lagi bahas Sassya,dia gak punya hak sama sekali!!"
Zee langsung menggeser kursi nya ke belakang,dan beranjak dari tempat duduknya.
"Sorry Qir,gue ambil tas sama kunci mobil dulu ke kamar. Habis itu kita berangkat."
Nada suara Zee kembali dingin, sedangkan Qira yang tak paham situasi yang baru saja di bahas dua orang itu memilih diam dan segera menyelesaikan sarapannya.
♡♡♡
Zee berangkat tanpa berpamitan pada Davian. Padahal Davian tak salah, abangnya itu hanya mengingatkan. Tapi setiap mengingat tugas yang akan diembannya atau nama Sassya di pembahasan mereka,mood Zee selalu saja rusak. Emosinya sulit dikontrol.
"Huuhhh,jadi dewasa itu sulit."
__ADS_1
♡♡♡
like vote coment