
Matahari sudah mulai terbit ketika motor Zee sampai di depan gerbang rumahnya. Setelah turun untuk membuka pasword gerbang rumahnya. Zee kembali menaiki motornya dan membawa masuk melewati puluhan penjaga yang tampak kaget dengan kedatangannya.
"Nona muda?"
"Andakah itu?"
"Kapan anda keluar dari rumah?"
"Bagaimana cara anda keluar ?"
"Nona bagaimana kami bisa menjelaskannya pada tuan muda dan tuan besar?"
Rentetan pertanyaan Zee terima begitu ia menbuka helm yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya.
Dapat Zee lihat jika seluruh pengawal yang ada di situ tampak ketakutan. Zee tentu sudah tau alasannya,dahulu setiap Zee berhasil kabur dari rumah dan pulang keesokan paginya. Pasti seluruh penjaga yang bertugas hari itu akan ikut mendapat hukuman dari William. Karena mereka dianggap lalai menjalankan tugasnya sebagai penjaga.
"Kalian semua tenang,Zee yang bakal ngomong sama papa!! Bisa Zee jamin kalian gak bakalan dimarah." Ujar Zee pasti,setelah meletakkan helm di jok motornya. Barulah Zee berlalu masuk ke mansion utaman.
♡♡♡
Benar saja,baru Zee membuka pintu mansion utama. Di sana sudah ada William,Davian,Sassya dan Melissa yang masing-masing menatap Zee dengan tatapan berbeda.
Sambil menggaruk belakang kepalanya yang entah kenapa mendadak gatal,Zee kemudian berkata."Zee ke atas dulu deh!! Mau mandi,marah-marahnya besok aja ya. Soalnya nanti ada pesta. Bukannya kita semua harus siap-siap? Iyakan? Iya!! Yaudah Zee ke atas!!"
Dengan mengambil langkah seribu, dalam sekejap saja Zee beserta bayangannya sudah hilang di telan lift.
♡♡♡
Begitu sampai di dalam kamarnya,Zee langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur king size miliknya. Rasa lelah dan mengantuk langsung menyerbu Zee begitu tubuhnya menyentuh benda empuk tersebut.
Hingga dalam beberapa menit saja,Zee sudah terlelap. Seolah lupa dengan kejadian apa saja yang baru ia alami,Zee terus tertidur hingga satu jam kemudian. Suara deringan ponsel di sakunya membuat Zee terkejut.
Zee meraba-raba saku jaketnya, mencoba mencari benda yang sudah berani mengganggu tidur nyenyaknya.
Namun yang diraba Zee justru kantong yang jaketnya yang berisi bungkus rokok. Setelah dikeluarkan,Zee meremas benda itu dengan kasar dan melemparkannya ke dalam tempat sampah.
Kemudian ia beralih mengambil HP nya yang kembali berdering dan mengangkatnya teleponnya tanpa melihat nama pemanggil. Karena ia menduga itu pasti papanya atau Kaivan yang mau memarahinya.
"Papa atau pun abang!! Kalau kalian nelpon buat marahin Zee. Tunda dulu!! Zee masih ngantuk!! Kan udah Zee bilang marah-marahnya besok aja!! Kalian..."
"Lo habis dimarahin?" Suara dingin seseorang di seberang telepon membuat mata Zee yang tadinya masih setengah tertutup berubah jadi setengah melotot.
"Bang Kai?!" Zee menatap nanar layar teleponnya yang menunjukkan wajah datar Kaivan. Zee kira itu tadi telepon biasa,ternyata malah vc membuatnya sedikit malu.
"Jawab gue!! Lo habis dimarahin? Dipukul gak?" Kaivan bertanya dengan nada khawatir seperti biasanya membuat Zee sedikit heran.
Bukannya tadi pria itu masih marah padanya. Bahkan Zee pria itu jugalah yang membuat Zee hampir tidak tidur semalaman.
"Chelle denger gue gak sih?"
__ADS_1
"Ah iya,denger...denger...!" Zee mendudukan badannya setelah memastikan nyawanya terkumpul sempurna. Ia balas menatap Kaivan yang masih memasang raut wajah khawatir.
"Jadi lo beneran dipukul?" Nada suara Kai mulai terdengar meninggi.
"Dipukul siapa?" Zee yang belum ngeh malah bertanya balik.
"Ckkkk,tadi lo ditelpon bilang kalau mau marah-marah nanti aja? Itu dituju buat siapa? Gak mungkin gue kan?"
"Ohhh,soal itu. Tadi gue kira itu bang Kai atau papa yang nelpon gue buat ngomelin gue karena gue kabur semalam. Di tambah tadi di ruang tamu gue nyuekin mereka,habislah riwayat gue setelah ini."
Zee mengadu seperti biasanya pada Kaivan. Karena dari cara berbicara Kaivan,Zee yakin jika Kaivan sudah kembali normal seperti biasanya.
"Ya udah kalau gak dimarahin ke bawah. Gue di luar rumah lo,gue bawa cake coklat buatan mama."
Mata Zee langsung berbinar mendengar kata 'cake coklat'.
"Gue turun sekarang,lo tunggu di situ!!"
♡♡♡
Dengan setengah berlari,Zee keluar kamarnya dan langsung menerobos lift yang memang bertepatan terbuka karena Sassya baru saja naik.
"Woi mau kemana lagi lo?" Teriak Sassya sedikit kaget karena dilewati bak sampah oleh Zee. Namun karena pintu lift sudah kembali tertutup Sassya tak mendapat jawaban dari Zee. Lagian jika tadi masih terbuka pun belum tentu Zee mau menjawab.
♡♡♡
"Adek mau kemana lagi lo? Lo dicariin papa!!" Teriakan Kaivan yang sedang duduk di sofa ruang tamu tak dihiraukan oleh Zee. Gadis itu terus berlari keluar mansion dan begitu sampai di depan pagar Zee langsung memencet remote control yang tadi sempat ia ambil sebelum turun.
"Uwahh,gak nyangka mama buatin gue cake lagi. Udah lama banget gue gak makan ini. Makasih ya!!" Zee mengambil papper bag yang diulurkan oleh Kaivan dengan antusias.
"Ayo masuk dulu Kai!! Di dalam ada abang gue kok. Kita bisa makan bareng."
"Gak usah Zee,thanks lah. Kapan-kapan gue mampir,pagi ini gue ada urusan. Tadi Elis bilang mau beli sepatu buat ke acara lo,sepatu yang kemarin katanya kegedean. Jadi gue mau nemenin dia ke mall."
Zee menatap Kaivan tak percaya.
"Kai berati lo....?"
"Iya...iya gue bakal buka hati buat Elis!! Demi adik kesayangan gue. Maaf ya soal semalam. Gue hilang kendali,gue egois. Maaf!!" Kaivan berkata sambil berdiri dari duduknya seraya mengusap kepala Zee pelan.
Sedangkan Zee mengangguk antusias.
"Gue senang dengernya. Semoga hubungan kalian lancar ya,jangan lupa nanti sore ke hotel keluarga gue. Kita rayain kemenangan kita." Ujar Zee sambil mengedipkan sebelah matanya sedangkan Kaivan hanya tersenyum menanggapi.
"Ya udah kalau gitu gue pulang. Lo juga udah ditungguin kayaknya!" Kai berkata sambil mengangkat dagunya menunjuk ke belakang Zee.
Zee yang tidak paham maksud Kaivan,langsung menoleh ke belakang.
"WHAT?!! Ngapain lo berdua di sini?" Zee bertanya dengan nada tak santai. Kalian masih ingat dua bodyguard perempuan Zee dulu ? Si Bella dan Jullie yang pernah ditugaskan untuk menjaga Zee di apartemen. Ya itu mereka,yang saat ini sudah berdiri tegap di belakang Zee.
__ADS_1
Zee menoleh lagi ke depannya,mobil Kaivan yang tadinya di situ ternyata sudah pergi.
"Nona muda,ayo masuk. Teman nona muda juga sudah pergi,jadi sebaiknya nona juga masuk karena tuan muda Davian sudah menunggu anda di dalam."
"Masuk aja duluan sana,gue gedeg ngeliat muka lo berdua!!" Zee menggertak geram kedua bodyguardnya itu.
"Tapi nona anda...."
"Tit....tit..." Suara klakson mobil dari luar gerbang membuat ketiga wanita tadi menoleh kompak. Tampak sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan mereka.
"Arkhan...?" Gumam Zee lirih saat sang pemilik mobil keluar dengan gagahnya.
Arkhan tersenyum hangat begitu sampai di hadapan Zee.
"Nih pakai buat ke pesta nanti sore!! Aku gak beliin kamu baju,karena Vian bilang kalian udah pilih baju keluarga. Jadi gue cuma beli ini,semoga aja cocok."
Arkhan berkata sambil menyerahkan 2 buah paper bag pada Zee yang masih menatapnya kaku. Dengan sedikit ragu Zee mengambil pemberian sang pacar dan meyatukannya dengan satu papper bag pemberian Kai tadi.
"Itu paper bag dari Kaivan?" Tanya Arkhan begitu melihat satu buah paper bag lagi yang ada di genggaman Zee.
"Oh,eh iya ini....barusan Kai ke sini nganterin cake buatan mamanya. Ini enak kok,kita makan di taman paviliun yok!!" Zee menarik Kaivan menuju taman paviliun yanh tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
Ia bahkan tidak mempedulikan dua bodyguard yang tampak membuntuti mereka berdua. Yang Zee pikirkan saat ini adalah,bagaimana cara menjelaskannya pada Arkhan agar pacarnya itu tidak salah paham.
"Emm Ar...anu...itu..gue bisa jelasin soal kue cakenya kok. Tadi Kai ke sini tiba-tiba nganterin kue cake buatan mamanya. Gue dari dulu emang suka cake coklat,apalagi buatan mamanya. Apalagi lo tau gue dekat sama Kai dari dulu. Mungkin karena itu juga tadi Kai anter kuenya ke sini. Gak lebih kok,beneran!!"
Zee dengan polosnya menunjukkan sisi bawelnya saking takut Arkhan akan marah atau salah paham mengenai hubungannya dengan Kaivan.
"Aku gak marah Azellea!! Kenapa kamu jadi bawel gini sih!! Lagian tadi Kai udah telepon aku sebelum ke sini. Dia udah izin karena tadi sekalian mau bawa adek gue keluar. Dia juga udah jelasin masalah kalian semalam. Dia udah minta maaf soal itu."
Zee menatap Arkhan tak percaya,ia malah tidak menyangka jika Kaivan akan meluruskan masalahnya secepat itu. Ia kira Kai akan menyembunyikannya walaupun keadaan keduanya sudah membaik. Tapi ternyata cowok itu lebih gentle dari dugaannya.
"Berati lo tau kalau semalam gue kabur dari rumah?" Zee berkata sambil memasukkan potongan cake ke dalam mulutnya dengan lahap.
"Taulah!! Davian langsung nelpon aku pas tau kamu gak ada di kamar subuh tadi. Katanya dia mau ngajak kamu olahraga,eh malah kamarnya kosong. Ujung-ujungnya aku tersangka utama yang lebih dulu ditanya."
Arkhan berkata sambil mengelap sisa coklat yang menempel di sudut bibir Zee menggunakan ibu jarinya.
Sontak saja perlakuan Arkhan membuat Zee gugup. "Jantung jangan bunyi keras-keras. Gue tau lo udah lama jomblo tangan please gak usah lebay. Gue takut lo lompat!!" Zee bermonolog dalam hati.
Namun kedua tangannya malah menempel di dada dengan pipi yang sedikit memerah membuat Arkhan tersenyum simpul.
"Baru segitu udah baper!! Kalau tiba-tiba di pesta nanti kamu aku lamar,bisa-bisa kamu jantungan." Ujar Arkhan sambil terkekeh kecil.
Kedua pipi Zee semakin memerah mendengar ucapan Arkhan yang terkesan menggodanya.
"Gak usah ngaco!! Kita masih kuliah!! Mending sekarang lo balik deh!! Nanti sore lo sama keluarga lo harus berangkat ke acara annyversarry keluarga gue,jadi siap-siap sana. Gue juga masih ada urusan habis ini."
Zee berkata sambil beranjak dari kursinya. Begitupun dengan Arkhan,cowok itu ikut beranjak dari kursinya sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Jika hari biasanya ia pasti sudah berada di kampus.
__ADS_1
Namun hari ini universitas mereka memang sengaja diliburkan,dan hal itu berlaku setiap tahun di hari perayaan anniversarry keluarga William sebagai pemilik kampus.