Story Of Azellea

Story Of Azellea
Bab 23 : Jangan Main-main


__ADS_3

Sepasang mata tajam milik Kai kini tengah beradu pandang dengan sepasang mata milik Arkhan.


"Jadi gimana lo sama Azellea beneran gak pacaran?" Tanya Arkhan untuk yang ketiga kalinya.


Ia tadi memang sudah dapat penjelasan dari Kaivan jika mereka hanya sahabat.


"Iya."


Setelah mengatakan hal itu Kaivan menghembuskan napasnya kasar .


Sebenarnya ia tak ikhlas mengatakan hal itu pada Arkhan,tapi ia dan Zee memang hanya sebatas sahabat walau tak di pungkiri jauh di dalam lubuk hati Kaivan ia mengharapkan hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat.


Katakan saja Kaivan pengecut karena tak berani jujur pada Zee tentang perasaannya.


"Bagus deh kalau gitu. Gue jujur nih sama lo. Gue suka sama Azellea."


Kaivan tak bergeming mendengar ucapan Arkhan yang mengatakan ia menyukai. Ia sungguh-sungguh tidak kaget sama sekali,karena sedari awal gadis yang di ceritakan Arkhan memanglah Zee.


"Gimana? Sebagai sahabat Zee lo gak keberatan kan kalau sahabat lo satunya lagi suka sama cewek terdekat lo?"


Kaivan menghembuskam napas dengan berat. Ia kemudian menatap lekat Arkhan.


"Kenapa harus Michelle?" Tanya Kaivan skiptis.


Alis Arkhan berkerut."Maksud lo?"


"Gue tau lo Ar. Gue tau lo gak pernah serius sama satu cewek tapi kenapa kali ini lo nargetin Michelle? Dia bukan salah satu diantara cewek-cewek yang bisa lo mainin."


"Gue gak mau main-main lagi Kai. Gue serius! Gue suka sama Zee,suka dalam artian sebenarnya perasaan gue kali ini sama dengan perasaan gue ke 'dia'."


Kaivan berdecih sinis."Mereka orang yang berbeda,kalau lo memang mencintai Michelle lo gak bakalan nyamain perasaan lo ke dia dengan orang yang 'udah gak ada'."


"Terserah lo Kai. Kenapa gue jadi ngerasa kalau lo gak ikhlas ngelepasin Zee. Lo suka sama dia?"

__ADS_1


"Bukan urusan lo,tapi kalimat kedua lo benar. Gue memang gak ikhlas ngelepasin Zee buat cowok sebrengsek lo."


Kali ini Arkhan yang berdecih sinis."Brengsek mana lo sama gue? Lo juga gak beda jauh,nolak adik gue tanpa kasih dia alasan yang jelas,lo bahkan gak ngeliat sedikitpun perjuangan dia buat dapetin lo. Lo gak beda jauh sama gue man."


"Jangan samain gue sama lo. Gue gak pernah mainin cewek dan untuk urusan Delice,adik lo itu emang keras kepala. Sedari awal gue juga gak pernah simpati sama dia jadi jangan samain gue sama lo."


"Whatever,gue gak peduli apa pun tanggapan lo Kai. Intinya gue udah jujur,gue bakalan berusaha perjuangin Zee dengan atau tanpa persetujuan dari lo."


Arkhan memilih berbalik meninggalkan Kaivan yang tampak menahan amarah mendengar ucapannya. Saat berbalik Arkhan cukup kaget karena pundak nya tiba-tiba di cengkram oleh Davian yang ternyata juga ada di sana.


"Jangan pernah mimpi buat deketin adek gue. Sahabat lo aja lo khianatin gimana adek gue nantinya. Penghianat seperti lo gak pantes buat Zee,sadar!"


Arkhan menepis tangan Davian dengan kasar.


"Perasaan gue adalah hak gue. Urusan adik lo itu bakalan suka atau gak sama gue itu hak dia,gue punya kesempatan untuk berharap dan lo gal punya hak buat menghalangi walaupun lo kakaknya.


"Dan satu lagi gue tegasin,gue bukan penghianat. Andai Salma masih ada dan gue bisa nemuin Salma,gue bakal suruh dia ngomong langsung sama lo tentang apa yang terjadi malam itu."


"Lo terlalu keras kepala Dav. Sassya gak sebaik yang lo kira dan gue cuma ngelindungin orang yang pernah gue sayang. Andai malam itu lo mau dengerin penjelasan Salma semuanya juga gak bakalan kayak gini."


"Bukk." Arkhan refleks melayangkan pukulannya ke wajah Davian.


"Jaga ucapan lo. Salma gak semurah itu,suatu saat lo bakalan nyesel pernah membuang cewek sebaik Salma."


Davian yang sempat terhuyung kini sudah mengepalkan tangannya hendak membalas pukulan Kaivan. Namun Nathan yang berada di sebelahnya langsung menahan tubuh Davian.


"Udah Dav,gak enak di liatin orang." Ujar Nathan pelan.


Davian menghela napas kasar sedangkan Arkhan berlalu dari tempatnya. Mereka sedang berada di taman kampus saat ini dan ada cukup banyak mahasiswa yang memandang ke arah mereka dengan tatapan penasaran. Ia tidak mau ribut.


Melihat Arkhan sudah pergi,Kaivan juga ikut menyusul. Sementara Nathan saat ini tengah berusaha menetralkan emosi Davian.


"Gak usah di pikiran ucapan Arkhan. Kalian sama-sama emosi,gue saranin tenangin diri lo dulu." Ujar Nathan.

__ADS_1


Davian mengangguk."Gue cuma gak habis pikir kenapa sampai sekarang dia tetep kekeh gak mau jujur. Kita semua tau kejadian malam itu,bahkan gue lihat sendiri Arkhan dan Salma tidur di satu ranjang yang sama di hotel dalam kondisi pelukan."


Nathan mengangkat bahu,ia juga tak paham permasalahan antara Davian,Salma dan Arkhan. Ia hanya dengar-dengar saja jadi ia tidak mau menyimpulkan apapun.


"Udahlah Dav. Kejadiannya juga udah beberapa tahun lalu. Emang lo belum move on sampai sekarang?"


"Gue cuma belum ikhlas itu aja."


"Ya udah kalau gitu anggap aja lo sama Salma emang gak jodoh. Mau gimana lagi?"


"Jadi maksud lo jodoh gue orang lain gitu? Siapa coba?"


"Adek gue kali." Jawab Nathan asal.


Davian melongo mendengar ucapan Nathan.


"Lo ngejodohin gue sama Clara?" Tanyanya memastikan.


"Ya kan kemungkinan. Lo pikir gue Roy Kiyosi yang bisa ngeramal masa depan? Kagaklah,tapi kalau iya juga gue gak nolak. Lumayankan bisa dapet warisan om William."


"Sialan!!" Umpat Davian saat tau jika Nathan hanya mengerjainya.


Nathan hanya tertawa kecil. Ia memang sengaja mengatakan hal itu untuk mencairkan suasana.


♡♡♡


Sebuah mobil sport hitam dengan garis berwarna perak metalik di pinggirannya tampak berjalan memasuki gerbang kampus dan terpakir tepat di sebelah mobil porche hitam yang tampak kosong karena pemiliknya masih ada di dalam kampus.


Pemilik mobil sport hitam tadi tampak keluar dan berjalan ke arah mobil porche tersebut. Orang itu tampak menempelkan secarik kertas berisi printnan tulisan yang di tulis dalam bentuk coding pada kacal mobil porche tersebut.


Tak lama setelahnya orang itu tampak menunduk ke bawah mobil dan memasang sesuatu di bagian bawah mobil tersebut. Setelah selesai,ia tampak celingak-celinguk melihat keadaan sekitar. Setelah memastikan keadaan aman,ia masuk kembali ke dalam mobilnya dan melaju keluar dari halaman kampus.


Sebelum keluar ia sempat tersenyum smirk saat melihat dua orang satpam yang tengah berjaga tampak tertidur lelap di depan gerbang. Ia memang sudah merancang semuanya sebelum masuk.

__ADS_1


♡♡♡


Like vote komen


__ADS_2