
"LAKUKAN SEKARANG!!" Ucap Zee mantap.
♡♡♡
Berselang dua menit setelahnya,layar besar yang sedari tadi menampilkan slide to slide momen-momen kebersamaan keluarga Willam mendadak mati. Begitupun dengan lampu ruangan yang juga ikut mati secara tiba-tiba membuat para tamu undangan sedikit kebingungan.
"Loh,kenapa lampunya mati??"
"Kenapa ini??"
"Udah selesai kah acaranya??"
"Ada kejutan lain mungkin!!"
"Ada yang rusak ini kayaknya!!"
"Petugas hotelnya pada kemana?"
Berbagai ocehan para tamu undangan terdengar memberi asumsinya masing-masing. Sedangkan Zee,gadis itu kini malah menegak segelas minuman yang tadi disuguhkan pelayan padanya.
Hingga berselang satu menit kemudian,layar yang tadinya mati kembali menyala diikuti lampu dibagian podium yang ikut menyala. Namun hanya di bagian podium,sedangkan lampu yang lainnya masih tetap mati.
"Apa? Kenapa ini?" Sassya yang sedari tadi mengobrol di kursi tamu tampak kebingungan.
"Sebentar,aku ke sana dulu!!" Ujar Sassya sambil berjalan naik ke atas meninggalkan Raynand.
"Kenapa ini ma,pa?" Tanya Sassya begitu sampai di depan kedua orangtuanya. Namun William dan Melissa juga tampak bingung.
"Sebentar,papa cari orang yang bertugas di bagian lampunya dulu. Kayaknya ada yang rusak."
William berkata sambil turun dari podium,namun baru dua anak tangga yang ia turuni layar yang tadinya hanya menampakkan warna putih polos kini berganti dengan tulisan.
"Selamat Ulang Tahun Tuan dan Nyonya William."
"Loh itu layarnya normal lagi pa!!" Melissa tampak menatap antusias layar besar di hadapannya itu. Wanita itu malah mengira hal tersebut sengaja disetting oleh pihak hotel sebagai kejutan.
Namun keantusiasan Melissa tak berjalan lama. Karena setelahnya,istri dari William itu malah tampak bingung saat melihat vidio berputar menunjukkan ruangan di dekat tangga dapur mansion William tampak kosong.
"Apa sih ini??" Sassya yang sedari tadi ikut berdiri di depan layar juga ikut bingung. Begitupun dengan William bahkan seluruh tamu undangan juga tampak tidak paham dari masuk vidio yang tampak terjeda tersebut.
Tak lama vidio kembali berputar,kali ini tampak seorang wanita muda yang tampak mengendap-endap menaiki tangga dapur tersebut sambil membawa sebuah barang yang sepertinya adalah cairan pembersih lantai.
"Loh itu mama kan? Mama lagi ngapain?" Tanya Sassya lugu saat melihat dengan jelas wajah sang mama yang terekam di vidio.
William yang tadinya hendak turun ke bawah malah berhenti saat mendengar suara Sassya,vidio masih terus berjalan menampakkan Melissa yang tampak membuka bungkus cairan pembersih tadi dan menuangkannya di tengah-tengah anak tangga. Tentu saja cairan licin tersebut langsung mengalir memenuhi beberapa bagian tangga.
"I..ini kan...."Melissa tak melanjutkan ucapannya saat vidio dipercepat menampakkan Zee kecil yang saat itu tampak berlari mendekati tangga yang baru saja disiram cairan pembersih tadi.
Di belakangnya tampak wanita paruh baya yang tak lain adalah nenek Zee yang tampak berjalan menyusul Zee dari belakang.
Namun naas Zee kecil yang tadi tampak bersemangat turun ke lantai malah tergelincir begitu sampai di tengah anak tangga.
Sontak saja sang nenek panik dan berlari menyusul sang cucu yang tampak berusaha berpegangan erat pada pegangan tangga.
Wanita paruh baya itu dengan cerobohnya menyusul Zee dan alhasil ia malah jatuh tergelincir dan berguling ke bawah hingga akhirnya terhempas di lantai dapur dengan darah yang tampak mengalir deras dari bawah kepalanya.
Rahang William mengeras begitu melihat Zee tampak berusaha turun dari tangga dengan hati-hati setelah berhasil mengeratkan pegangannya. Gadis kecil itu tampak menangis sambil mengoncang-goncang tubuh sang nenek yang tampak tak bergerak di lantai.
Tak lama setelahnya tampak William dan Melissa dan Davian yang juga masih kecil berlari menghampiri sang nenek . Namun sepertinya ada kesalahan di vidio tersebut,karena di sana Zee tampak di dorong hingga terjatuh di lantai. Tatapan kekecewaan juga tergambar jelas di wajah Davian dan William saat mengangkat tubuh sang nenek dan meninggalkan Zee yang masih menangis sendiri di disitu.
Belum selesai keterkejutan atas vidio barusan,selanjutnya terlihat vidio Melissa lagi. Kali ini wanita terlihat berbicara dengan seorang pria yang wajahnya tak terlalu jelas di vidio,dari lokasi yang terekam adalah di depan sebuah sekolah TK.
Tak lama setelahnya pria ia ajak mengobrol tadi tampak masuk ke sebuah truk besar dan mengemudikannya. Vidio dipercepat dimana tampak seorang wanita tengah menyeberang jalan sambil melambaikan tangan pada gadis kecil yang tengah menunggu di seberang jalan.
__ADS_1
Dari arah berlawanan,sebuah truk tampak melaju dengan kecepatan penuh mengarah pada Zee kecil yang juga mau menyeberang jalan menghampiri sang mama yang tadi melambaikan tangan padanya.
"Brakkk!!"
Bukan Zee yang tertabrak,gadis itu hanya terlempar ke trotoar karena di dorong dengan kuat oleh sang mama. Tubuh wanita tadi terpental beberapa meter dengan darah yang mengalir deras membasahi aspal. Sedangkan truk tadi sudah melarikan diri entah kemana.
Davian yang melihat kejadian dari bawah podium langsung terduduk lemas. Begitupun dengan William,wanita yang ditabrak tadi adalah Diana. Dua wanita paling berharga di keluarga William pergi demgan kondisi yang sama-sama mengenaskan,dan itu dilakukan oleh orang yang sama. Melissa.
Sedangkan Melisss dan Sassya,jangan di tanya. Selangkah pun keduanya tidak berani beranjak dari tempatnya berdiri. Vidio kembali berganti,kali ini Sassyalah yang kena. Di vidio tampak gadis itu di temani beberapa orang tampak menyeret paksa seseorang ke dalam toilet.
Lokasi tersebut sepertinya berada di toilet kampus. Di awal-awal tampak Sassya sempat bercekcok dengan gadis tadi,entah apa yang terjadi di sana. Tapi selanjutnya kepala gadis tadi di paksa masuk ke dalam wastafel yang kemudian di isi air.
"S..Salma...!! Itu Salma!!" Davian berteriak sambil berlari ke atas podium menghampir Sassya yang tampak menggeleng takut.
Vidio berakhir dengan gadis yang di sebut Salma tadi tampak pingsan dan ditinggalkan begitu saja di dalam toilet.
"Sialan!! Kalian pembunuh!!" Davian menampar bolak balik Sassya hingga gadis itu terjatuh ke lantai.
Puas memukul Sassya,Davian beralih pada Melissa." Lo bukan mama gue!! Lo iblis!!"
"V..via..an...s..sa..k..it.." Melissa merintih kesakitan saat dicekik oleh Davian. Sedangkan Sassya yang masih mampu bangun berusaha menyelamatkan sang mama.
Suasana makin heboh saat awak media berusaha mendekat untuk merekam kejadian,begitupun dengan tamu undangan yang malah berebut melempari dua wanita licik itu dengan makanan yang tersaji di meja. Bahkan Davian saja dan William saja ikut terkena lemparan.
"Mamanya pembunuh anaknya tukang bully.....!!"
"Gak tau diri!!"
"Mamanya pelakor!! Anaknya bakal gak beda jauh!!"
"Lebib parah dari parasit itu!!"
"Gak pantes dikasihani!!"
"Lebib buruk dari binatang...!!"
"Panggil anak DarkNight di luar. Usir semua media dari sini. Sisanya biar gue yang urus!!" Zee berkata pada alat komunikasinya sambil berlari menuju podium. Bisa mati Melissa jika tidak segera ia tolong.
Teman-teman Zee yang lain,juga tampak berusaha menghalau tamu undangan dan awak media yang mencoba mendekati keributan di depannya.
"DAVIAN LEPAS!!!" Sentak Zee menjauhkan Davian dari Mellisa,wajah wanita itu sudah memerah hampir kehilangan napasnya.
"KENAPA ZEE!! DIA YANG BUNUH MAMA KITA!! DIA HARUSNYA...."
Davian kembali mendekat....
"Bughh!!" Zee menendang perut Davian membuat pria itu tersungkur di sudut ruangan.
"Cukup dia yang jadi pembunuh,lo jangan!! Gue gak mau lo ngelakuin hal yang bakal lo sesalin." Bentak Zee kasar,sedangkab Sassya gadis itu sudah memeluk sang mama dengan badan gemetar.
Suasana di ruang itu sudah sepi,hanya tinggal mereka berlima. Lampu yang tadi mati juga sudah menyala lagi. Menampakkan ruangan yang sudah porak poranda dengan makanan berserakan dimana-mana karena tadi digunakan para tamu undangan untuk melempar Melissa dan Sassya.
"Fo...foto apa ini??" Suara William tiba-tiba terdengar bergetar dari belakang mereka.
Tangan pria itu menggengam foto sang istri yang tampak berpelukan demgan seorang pria di bandara.
Davian juga mendongak menatap sang papa.
"I..ini...Ka..mu selingkuh??" Suara William meninggi begitu melihat banyaknya foto Melissa dan juga Sassya bersama dengan pria asing. Bahkan ketiganya tampak bagai keluarga bahagia.
"I..ini??" William sudah kehabisan kata-kata saat tangannya membuka satu papper bag lagi yang tadinya Zee serahkan sebagai hadiah. Papper bag yang ternyata berisi foto dan screenshootan chat serta beberapa bukti transaksi. Sangat banyak bahkan dari beberapa tahun yang lalu.
"JADI SELAMA 13 TAHUN INI SAYA HANYA MEMBIAYAI RUMAH TANGGA ORANG LAIN?? KALIAN BAHKAN MENGERUK PERUSAHAAN ANAK SAYA!! TERLALU!!"
__ADS_1
William menghempaskn paper bag beserta puluhan foto yang akhirnya jatuh berserakan di lantai. Tangan pria itu sudah terulur hendak melayangkan tamparan pada dua penghianat di depannya itu.
Namun tangan William hanya menggantuk di udara...setelahnya...
"Arghhhh!!!...Kenapa? Kenapa harus kalian penghianatnya? Kenapa ,kenapa bukan orang lain!!"
William meraung frustasi sambil menjatuhkan badannya di lantai. Pria paruh baya itu malah menangis sejadinya,buka hal yang mudah mengetahui penghianat yang sebenarnya adalah orang yang begitu ia sayangi selama ini.
Sedangkan Davian pria itu masih meringkuk di sudut menahan perutnya yang masih nyeri terkena tendangan Zee tadi.
"KELUAR!! KALIAN BERDUA!! JANGAN BERANI MUNCUL DI HADAPAN SAYA LAGI!!"
William berdiri dari duduknya sambil menyeret paksa dua wanita yang tampak sudah lemas tak berdaya tersebut.
"Aghh..s..shhsakit pa!!" Sassya berteriak kesakitan saat tubuhnya ditarik paksa menuruni tangga podium.
"Plak!!"
Tubuh Sassya terpental ke lantai begitu mendapat tamparan keras dari William. Melissa yang melihat anak kesayangannya diperlakukan secara kasar sekuat tenaga mencoba memohon dengan meraih kaki William yang tampak hendak melangkah. Namun bukannya diampuni,William dengan tega menyentak kakinya membuat Melissa ikut terpental di samping Sassya.
Tangan William bergerak mencengkram kuat dagu Melissa yang sudah memerah.
"Papa cukup!! Jangan sakitin mama!!" Sassya berusaha menghalau tangan William.
"Jangan panggil saya papa!! Saya bukan ayah anda!!"
"Dan kamu!! Kamu bukan lagi istri saya mulai hari ini!! Pergi sejauh mungkin,karena saya tidak suka melihat penghianat ada di hadapan saya."
Setelah mengatakan hal itu,William menarik Zee yang masih berdiri di anak tangga. Gadis itu hanya diam tanpa mengatakan apapun,bahkan saat sudah di tarik sang papa agar keluar ruanganpun Zee tetap diam.
"Ckkk,Bang Vian ketinggalan." Geram Zee yang baru ingat sang abang masih ketinggalan di dalam.
"Pak bawa papa saya pulang duluan. Saya nyusul pake mobil lain sama abang saya!!" Zee berkata pada sopir yang tadi sudah menyusul William ke mobil.
Setelah memastikan William sudah dibawa pergi,Zee kembali masuk ke dalam. Di dalam ia bisa melihat Sassya yang berusaha membantu Melissa bangun dari tempatnya.
Di sana juga sudah anak DarkNight termasuk Sandra dan Kaivan yang juga sedang berusaha membantu Davian berdiri.
Zee berjalan mendekat ke arah Sassya dan Melissa."Kalian tau!! Sebenarnya gue pengen bunuh kalian saat ini juga!!" Zee berkata sambil mengeluarkan pistol dari tas yang tadi ia bawa.
"Atau gue bunuh sekarang gimana?" Zee masih memutar-mutar benda hitam tersebut di atas kepala Sassta dan Melissa yang sudah tidak berkutik.
"Tapi..."
"Zee!!!" Suara Kai dan Davian terdengar kompak menyela Zee.
"Kenapa? Bukannya bagus ya? Gimana menurut kalian?"
Zee tersenyum miring sembari berjalan mengintari. sassya dan Melissa yang bahkan tak berani menarik napas.
"Azellea jangan macam-macam!!" Davian yang emosinya sudah reda,berusaja menyadarkan sang adik yang tampaknya sedikit hilang kendali.
"Huh,memang kalian pikir aku mau mengampuni orang yang sudah menyusahkan hidupku selama 13 tahun? BODOH jika kalian berpikir begitu!!"
" So,what are you waiting for?" Ucapan Sandra malah terdengar mengompori Zee.
"Do It!!" Lanjut Sandra,membuat senyum kemenangan tercetak di wajah Zee.
"AS YOU WISH...!!"
"Klik..."
"DOR...DOR..."
__ADS_1
Lampu kembali mati diiringi dua tembakan berturut-turut membuat suasana mencengkam dengan suara teriakan pilu terdengar mengakhiri ketegangan malam itu.
"BALASAN YANG SETIMPAL...."