
"Jadi gimana? Lo kenal Sassya? Sebenarnya lo siapa?" Tanya Delice lagi-lagi dengan beruntun.
Zee yang tadi sempat tertegun kini menatap wajah ketiga gadis di depannya ini dengan tampang yang kembali datar.
"Gue rasa ada baiknya lo dengerin ucapan Sassya. Lagipula kalian udah dapat yang kalian mau kan? Nama gue Azellea. Selebihnya kalian gak perlu tau apapun tentang gue."
Setelah mengatakan hal itu Zee memilih berlalu ke luar. Tujuannya saat ini adalah pulang ke rumah dan berbicara dengan Sassya. Menurutnya gadis itu sudah sangat keterlaluan,ia sudah mencampuri urusan Zee.
♡♡♡
"Dimana lo?" Tanya Zee yang kini tengah menelpon seseorang.
"Kelas? Kenapa??"
"Pulang lo sekarang!!"
"Gue lagi kelas Zee. Kenapa sih?"
"Tadi aja di cafe lo sok-sok an manggil kak. Intinya sekarang lo pulang,kita perlu bicara!!"
"T..tapi!!"
"Tut...."
Telepon di matikan begitu saja oleh Zee. Dengan langkah kasar ia masuk ke parkiran untuk mengambil mobil dan langsung memacunya dengan kecepatan tinggi,keluar dari gerbang kampus.
♡♡♡
Sementara itu di dalam kelas,Sassya saat ini tengah di landa rasa heran. Beberapa detik yang lalu Zee baru saja menghubunginya dan memintanya untuk pulang ke mansion.
Aneh saja,ada apa gerangan. Tak biasanya Zee menghubunginya seperti tadi. Kalau di hitung dalam sebulan paling ada satu kali Zee menghubungi,itupun untuk memarahinya karena mencampuri urusan Zee.
"Mencampuri urusan?" Batin Sassya. Matanya sontak membulat. Ia ingat sesuatu.
"Pak saya izin keluar!!"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari dosen yang tengah mengajar,Sassya mengambil langkah seribu untuk kembali ke mansion.
Begitu sampai ke parkiran Sassya langsung memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju mansion.
♡♡♡
Di mansion,Zee kini tengah menunggu kedatangan Sassya di ruang tamu mansion dengan tampang tak sabar. Beberapa saat kemudian,Melissa ibu tirinya tiba-tiba datang entah dari mana dan langsung berjalan ke arahnya.
"Ngapain kamu di sini?" Tanyanya dengan nada tak bersahabat.
Zee mengangkat kedua alisnya."Kenapa memang? Ini kan rumah saya,harusnya saya yang bertanya. Kapan anda pergi dari rumah ini? Belum puas menikmati harta papa saya??"
"Azellea,Azellea. Mulut kamu itu memang tidak tau diri ya,papa kamu itu suami saya. Di rumah ini saya adalah nyonya besarnya,jadi saya punya kuasa di atas kamu."
"Lucu sekali,parasit yang menunpang di kehidupan orang lain tapi bertingkah seolah dia adalah pokok yang punya kekuasaan. Anda menghalu,liat saja suatu saat papa akan sadar kalau selama ini ia sudah memelihara parasit perusak seperti kalian. Saya harap saat hari itu tiba,kalian berdua akan tau akibatnya."
"Papamu? Mengusir kami? Kamu bercanda Azellea?." Melissa mencengkram dagu Zee dengan cukup kuat."Dengar baik-baik gadis malang,pulihkan dulu ingatan bodohmu ini jika bisa baru kamu boleh mengancam ku. Harus ku beritahu,mungkin suatu saat papamu akan bernasi sama dengan mama mu dan ibu mertuanya yang bodoh itu."
Zee mengernyit sakit,"Lepas!!" Zee menghempaskan cengkeraman tangan Melissa dari dagunya.
"Apa maksud lo??" Tanya Zee yang kini balik mengcengkram tangan Melissa.
Sassya yang baru masuk ke dalam mansion langsung memasang wajah garang saat melihat Zee yang kini tengah mencengkram tangan mamanya. Dengan segera ia berlari ke tengah-tengah Zee dan mamanya lalu memutuskan jarak di antara mereka.
Zee tersenyum sinis,"parasit satu datang lagi."
"Sekarang lo pergi dari sini,gue ada perlu sama anak lo!!" Suruh Zee pada Melissa dengan nada tinggi.
"Ada urusan apa?? Urusan anak saya,urusan saya juga!!"
"Fine!!" Zee menatap tajam pada Sassya dan Melissa.
"Lo Sya!! Udah keterlaluan,selama ini gue gak masih bisa terima kalau lo cuma cari muka di depan papa dan bang Vian. Tapi kelakuan lo siang tadi benar-benar bikin gue makin muak sama lo!!"
"Maksud lo??"
__ADS_1
"Delice,Agatha,Clara. Lo tau mereka kan? Apa hak lo ngelarang mereka temenan sama gue??"
"Gue cuma bantuin lo!! Gue liat pake mata kepala gue sendiri kalau mereka buat lo jadi risih. Lo juga gak mau kan temenan sama mereka di kampus??"
"Bukan urusan lo Sassya!! Sikap lo yang ikut campur urusan gue kayak tadi,bisa bikin identitas gue ketahuan. Gue gak suka dan lo tau itu!!"
"G..gue cuma..."
"Berhenti jadi cewek egois dan suka cari muka Sassya!! Sekali lagi gue liat lo ikut campur urusan gue,bakar semua barang-barang yang pernah papa beli buat lo!!"
Sassya tak berkutik sedikitpun mendengar ancaman Zee. Kedua bola matanya berkaca-kaca hingga tak lama terdengar isak tangisnya,bersamaan dengan Zee berbalik dan cukup kaget saat mendapati William ada ruangan utu juga,entah kapan pria itu tiba disana.
"Kenapa papa di sini?" Tanya Zee dengan nada dingin.
"Kenapa memangnya? Papa mau lihat kelakuan kamu yang ternyata tidak pernah berubah sedari dulu,selalu melukai perasaan adik kamu. Kurang baik apalagi dia Zee,dia cuma mau bantu kamu supaya kamu gak di gangguin orang di sekolah,kamu harusnya berterimakasih bukan bertengkar dengan adik kamu seperti ini."
Zee tersenyum sinis."Adik? Dia maksud papa??" Tanya Zee dengan nada sinis sambil menunjuk ke arah Sassya yang kini terisak di pelukan Melissa.
"Parasit satu itu gak bakalan pernah jadi adik Zee,dan asal papa tau. Zee,gak bakalan marah-marah kalau dia gak seenaknya ngelabrak mereka,dia ngancam mereka dan itu berhubungan sama Zee. Wajar Zee marah."
"Tapi kamu bisa membicarakan semuanya baik-baik. Lihat Sassya menangis karena ulah kamu,ini sudah yang kesekian kalinya Azellea!!"
"Iya,ini yang kesekian kalinya Zee buat Sassya nangis. Tapi asal papa tau,ini juga yang ke sekian kalinya papa gak mikirin perasaan Zee. Papa juga gak beda jauh dari bang Vian,kalian egois!!"
Zee benar-benar pergi dari tempat itu. Percuma ia berbicara panjang lebar,sampai ia berlutut pun papanya tidak akan pernah percaya ataupun menghargai ucapannya. Ia tetap salah dan Sassya lah yang selalu benar.
♡♡♡
Zee memacu mobilnya dengan kecepatan penuh keluar dari mansion. Kedua bola matanya perlahan berair,hatinya sangat sakit, semenjak kepergian mama dan sang nenek tak ada satupun yang percaya pada ucapannya.
Dulu saat kecil ibunya meninggal dan ia mengalami depresi karena hal itu,ia tidak ingat dengan jelas apa yang terjadi sebelum dan setelah kematian mamanya. Tak lama setelahnya neneknya juga ikut menyusul pergi,saat itu ia mulai sembuh dari depresi namun kehadiran ibu tirinya membuatnya menjadi gadis penakut dan tertekan.
Barulah saat SMP ia tersesat dan tak sengaja bertemu dengan Kaivan. Dari situ Kaivan lah yang selalu Zee cari jika ia punya masalah,ia tidak menceritakan apa masalahnya lada Kaivan,pria itu pun tak bertanya tapi Kai selalu berusaha membuat Zee nyaman dengan caranya.
Sampai sekarang pun Zee tidak tau apa penyebab yang membuat keluarganya sekacau ini. Ia tidak punya petunjuk sedikitpun, memorinya sulit di ajak berkompromi untuk mengingat masalalunya yang kelam.
__ADS_1
♡♡♡
Like,vote,komen guys.