Story Of Azellea

Story Of Azellea
Plan To The End


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain,Zee baru saja selesai berkirim pesan dengan Arkhan. Pria itu tadi menghubunginya untuk mengatakan jika ia sudah sampai di rumah dan Zee hanya mengiyakan saja.


Semenjak bertemu hingga kini dirinya berpacaran dengan Arkhan,Zee seringkali dibuat berpikir kenapa hanya untuk urusan berpergian dan tiba di rumah saja pria itu harus mengabarinya.


Padahal menurut Zee itu tidaklah penting,karena mereka bertemu hampir setiap hari. Bahkan saking herannya,Zee sampai merasa sikap Arkhan termasuk berlebihan.


Padahal bukan sikap Arkhan yang berlebihan,namun Zee saja yang tak paham artinya sebuah perhatian. Ia tidak paham jika Arkhan melakukan itu karna Arkhan sadar,hari ini,dan detik berikutnya adalah sebuah rahasia.


Hari ini tidak akan sama dengan hari esok. Hari ini bisa saja ia masih bisa bertemu dengan Arkhan,namun entah dengan besok,hari ini mereka mungkin masih bisa berkabaran. Namun bisa saja besok sudah tidak bisa bertemu,karena takdir esok tidak ada yang tahu.


♡♡♡


Selesai berkirim pesan dengan Arkhan,Zee beranjak dari kasur untuk mengambil laptop,kemudian kembali ke kasur dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaan kuliahnya yang cukup terbangkalai karena sibuk dengan urusan kantor.


Baru beberapa menit Zee larut dalam pelajarannya,pintu kamar tiba-tiba diketuk,membuat konsentrasi Zee yang baru terkumpul kembali buyar.


"Tok....tok...tok...."


Dengan sedikit kesal,Zee mengalihkan perhatiannya sejenak untuk mempersilakan orang yang berada di luar pintu itu agar masuk. Karena ia berpikir yang ada di apartemen itu hanya dia dan Davian.


"Kalau mau masuk,masuk aja,pintunya gak dikunci!! Gua lagi sibuk!!" Teriak Zee,dan setelahnya ia kembali berkutat mengerjakan tugasnya.


Hingga beberapa detik kemudian...


"Ceklek...."


Terdengar suara pintu dibuka pelan oleh seseorang. Namun tampaknya kali ini perhatian Zee sudah tidak teralihkan. Terbukti gadis itu sama sekali tidak menoleh sedikitpun.

__ADS_1


Hingga......


"Boleh papa masuk,Zee?" Suara berat seseorang yang pastinya sangat Zee kenal membuat Zee mau tak mau langsung menoleh dengan perasaan terkejut. Namun masih dapat mengontrol raut wajahnya agar terlihat biasa saja.


Dengan kening berkerut,Zee berusaha untuk tetap mengangguk,walau dalam hati ia merasa canggung harus berada dekat dengan pria paruh baya itu. Apalagi hanya berdua,di dalam kamar pula. Zee tidak bisa membayang apa yang nantinya harus ia bicarakan dengan sosok papanya yang sering ia hindari itu.


Senyum di wajah tampan William langsung mengembang saat tidak mendapat penolakan dari anak bungsunya ini. Langsung saja pria paruh baya itu melangkah ke tepi ranjang Zee,dan meletakkan papper bag yang tadi ia bawa,ke atas nakas.


"Lagi apa?" Tanya William memecah keheningan,karena melihat Zee yang acuh tak acuh dengan jari-jarinya yang terus menari di atas keyboard laptop tanpa memedulikan kedatangan dirinya.


Zee menghentikan sejenak kegiatannya,kemudian menarik napas pendek dan menoleh sebentar ke arah papanya.


"Ngerjain tugas kampus." Jawab gadis itu seadanya.


"Butuh bantuan papa gak? Papa dulu cukup pintar loh,sewaktu masih jadi mahasiswa." Ujar William dengan nada semangat,sebagai upaya untuk mengakrabkan dirinya dengan Zee.


"Oh iya,malam ini papa nginap di sini. Papa juga mau masak makanan kesukaan kamu sama Davian nanti. Kata Davian kalian juga belum makan. Papa harap kamu gak keberatan kalau papa nginap di sini,boleh kan? "


"Ini bukan apartemen Zee. Zee gak punya hak buat keberatan."


William hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban Zee,yang jelas menyiratkan rasa keberatan. Namun ia sudah terlanjur berada di situ,lagian itu hanya sedikit dari perjuangannya untuk memulihkan kekecewaan Zee. Ia tidak boleh menyerah begitu saja.


"Kamu tahu,tadinya papa mau mengajak kalian menginap di rumah. Hanya saja karena mama kamu dan Sassya tidak ada di rumah,papa juga malas di rumah. Jadi papa putuskan saja untuk berkunjung ke sini."


Topik barusan,tentu saja membuat jiwa penasaran Zee langsung terbangun dari tidurnya. Tentu saja ia penasaran kemana perginya dua nenek sihir itu,dan kenapa juga papanya sampai harus menginap di sini. Tentu saja hal ini patut di pertanyakan.


Namun karena gengsi mau memulai dari mana,Zee terpaksa berpura-pura menanyakan dengan nada jutek agar tidak kentara jika dirinya sedang berada di fase kepo.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Zee singkat setelah cukup keras memikirkan kata apa yang harus ia pakai untuk bertanya,dan ternyata hanya kata "lalu" lah yang terlintas di otaknya.


William yang bisa menangkap jika Zee sepertinya penasaran dengan letak masalahnya pun dengan peka langsung menjelaskannya pada Zee.


"Papa sedikit ribut sama mama kamu. Hanya masalah sepele,papa hanya sedikit menegur kelakuan dia yang akhir-akhir jarang di rumah.


"Papa tidak melarang dia pergi belanja dengan teman-temannya atau kemanapun yang dia mau,tapi masalahnya setiap pergi mama kamu selalu pulang tengah malam."


"Bahkan kadang pulang pagi,papa hanya menegur karena hal itu tidak pantas bagi wanita yang sudah bersuami. Apalagi sudah punya anak ,tentu ia punya banyak kewajiban dan tanggunh jawan untuk menguruh anak dan suami."


"Tapi sepertinya mama kamu salah paham,dan menganggap papa terlalu berlebihan. Sampai tadi siang,papa dapat laporan dari pilot pribadi kita,katanya mama kamu siang tadi terbang ke Singapura bersama Sassya menggunakan jett pribadi yang memang papa fasilitasi untuk dia dan Sassya."


"Papa sampai tidak habis pikir,apa papa terlalu keras saat menegur mama kamu. Sampai-sampai mama kamu mengancam tidak mau pulang jika papa tidak benar-benar minta maaf dan menyadari kesalahan papa."


"Tapi entahlah,papa juga tidak tahu harus bagaimana. Mungkin membiarkan mama kamu di sana sebentar,akan lebih baik untuk kami sama-sama instrospeksi."


Ujar William menutup penjelasannya,seraya menoleh ke arah Zee untuk melihat tanggapan gadis itu. Namun ya seperti biasa,hanya raut datar Zee yang akan merespon semuanya.


Hingga akhirnya William memutuskan untuk keluar kamar saja. Lebih baik ia menunggu Davian yang tadi keluar untuk membeli bahan makanan,ketimbang memaksakan dirinya untuk berbicara dengan batu bernapas di dalam sana.


Sedangkan Zee yang melihat William sudah keluar dari kamarnya. Langsung mengambil HPnya dan mengirimkan pesan pada Kaivano agar mencari seseorang yang bisa diandalkan untuk mengikuti setiap kegiatan Melissa selama berada di singapura.


Kali ini Zee bertekad untuk tidak gegabah lagi. Sudah cukup ia kalah start beberapa kali dari Melissa,untuk yang ini jangan sampai terulang lagi.


Karens Zee yakin,pasti Melissa sudah merencanakan sesuatu. Mengingat seminggu lagi adalah hari ulang tahun pernikahan ia dan William. Tidak mungkin Melissa tiba-tiba merajuk dan pergi ke Singapura jika tidak ada hal besar yang memicunya untuk kesana..


Lagian tidak mungkin hanya masalah sesepele yang William ceritakan tadi bisa membuat wanita itu sampai semarah itu. Bisa Zee pastikan itu hanya batu loncatan Melissa saja,untuk melangkah ke rencana yang lebih besar.

__ADS_1


Dan Zee juga tidak mau kalah untuk menjalankan rencana kejutannya di hari ulang tahun pernikahan mereka minggu depan,dan ia harap hadiah itu yang nantinya akan mengakhiri semua permasalahan yang selama  13 tahun ini membuat hubungan Zee dan keluarganya retak.


__ADS_2