
Hai.....,kita lanjut lagi ya guys,maaf ya aku up nya akhir minggu terus,soalnya hari lain aku sibuk ujian praktek dan kegiatan sekolah yg bikin aku jarang bgt punya waktu sengang. Jangankan ngetik,yg biasanya ngegame aja skrg udh gk smpt lagi. Pulang sekolah,cuma makan,abis itu ke sekolah lagi. Pulangnya sore,dan kadang udh capek banget,gk tenaga lagi buat ngapai-ngapain. Jadi ya akhir minggu baru ada waktu.....
*Curhat dikit ya,wkwkw. Ya udh lanjut nih!!!*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Namun seperti gayung bersambut. Baru saja Zee ingin menelpon mereka. Dari arah pintu,tampak ketiganya melambaikan tangan ke arah Zee,langsung saja senyum cerah terbit di wajah Zee,namun senyumnya perlahan meredup berganti dengan tatapan heran.
Di belakang mereka bertiga,ada Farrel dan Satria yang ikut melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Pandangan Zee beralih pada Arkhan dan Davian yang sudah menatap tak suka ke arah dua cowok itu. Pasalnya Satria tampak sedang asyik menganggu Clara,sedangkan Farrel,sudah pasti Arkhan tidak menyukainya karena ia menyukai Zee.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pagi om,pagi semuanya....!!" Sapa Farel dan Satria berbarengan,begitu sampai di depan meja yang di duduki oleh Zee.
Papa Zee yang baru melihat dua orang itu bergabung dengan anak-anaknya hanya mengangguk dan memberi senyum simpul.
"Om ini papanya Zee ya?" Tanya Satria membuka percakapan,sedangkan Farel yang memang cukup pendiam tidak mencoba mengobrol dekat dengan William.
"Iya,kalian? Teman Zee juga ?" Tanya William basa-basi,yang langsung diangguki antusias oleh Satria dan Farel hanya tersenyum simpul.
"Bukan temen sih,tapi lebih ke caper!!" Sambar Davian sinis. Sembari menyeruput minuman yang tadi ia pesan. Sedangkan Zee menatap abangnya itu dengan tatapan tajam,bisa-bisanya ia memancing keributan di depan sang papa. Untung Farell masih tampak tenang-tenang saja,tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Davian barusan.
"Emm...,hari ini lo gak ke kantor Zee?" Tanya Delice membuka percakapan,untuk mencairkan suasana yang sedikit kaku di meja mereka itu.
"Enggak!! Gua lagi malas!!" Jawab Zee acuh,padahal bukan karena malas. Ia memang sengaja tidak ke kantor,karena kemarin sudah ada janji dengan Kaivan,terebih ia juga berniat menghabiskan lebih banyak waktu untuk sang papa,yang sudah mulai akrab dengannya saat ini.
"Berati hari ini lo gak ada kegiatan kan sepulang kuliah? Gimana kalau kita nongki? Di apartemen lo? Atau di rumah Elis? Di rumah gue juga boleh sih." Ujar Agatha menimbrung pembicaraan Zee dan Delice.
Zee yang mendengar ajakan Agatha,bertambah pusing. Andai teman-temannya tau kalau saat ini,ia tengah mencari cara agar papanya pulang lebih dulu ke apartemen,karena ia ada urusan dengan Kaivan di markas. Lalu sekarang Agatha memberi ide untuk jalan-jalan,bukan tidak mau,hanya saja timingnya tidak tepat.
__ADS_1
"Gimana Zee?? Atau ke apartemen lo aja deh,kita ngapain kek. Lo udah lama banget lo gak ngumpul bareng kita,lo kan sibuk ngantor mulu akhir-akhir ini."
Bujuk Delice,menyetujui ide Agatha.
"Gimana ya? Gua ada janji sama papa juga hari ini. Kita mau jalan-jalan,iya kan pa?" Ujar Zee mengalihkan pembicaraan pada sang papa,yang sedari tadi malah tampak sibuk dengan HPnya. Padahal William bukan orang yang suka memainkan handphone jika sedang kumpul atau mengobrol seperti saat ini. Tapi entah kenapa sedari tadi pria itu tampak sangat sibuk dengan benda pipih itu,bahkan mungkin ia tidak menyimak pertanyaan Zee barusan.
"Papa!!" Panggil Zee kedua kalinya,karena belum mendapat respon dari William.
William yang merasa dipanggil,sontak mendongak menatap sang putri yang juga menatapnya dengan tampang datar.
"Kenapa? Kamu mau dibeliin sesuatu?" Tanya William seperti pada anak kecil,membuat yang lain mengulum senyum. Sedangkan Zee hanya mendumbel di dalam hati.
"Kita mau jalan-jalan kan hari ini?" Ulang Zee lagi. Walau sebenarnya ia berharap sang papa tiba-tiba berubah pikiran dan membatalkan rencananya tadi pagi.
"Jadi,papa udah atur list kita bakal jalan-jalan kemana. Papa juga udah,suruh asisten papa buat beli tiket bioskop tadi. Papa udah booking resto juga tadi." Jelas William panjang lebar,membuat Zee menghela napas frustasi.
Tatapan mata Zee beralih pada ke arah teman-temannya sembari mengangkat bahu.
"Gak deh,kasian abang gue. Dia jomblo sendiri nantinya. Gue gak mau lihat dia jadi korban bullying. Karena main ke rumah pacar,tapi pacarnya malah pergi." Sindir Delice,pada Arkhan yang sedari tadi tidak mood karena keberadaan Farell di sana.
"Ya udah gak usah nongkrong!!" Ujar Arkhan lesu. Walau sejujurnya ia pun ingin menghabiskan banyak waktu dengan Zee,tapi ia pun tidak bisa memaksa. Ia dan Zee bahkan terlalu berjarak untuk ukuran orang pacaran. Hubungan mereka berdua bahkan terlalu monoton,Zee terlalu cuek dalam segala hal membuat ia harus sering-sering mengalah jika ingin hubungan mereka tetap aman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terjadi keheningan beberapa saat setelah kejadian barusan. Tidak ada yang berbicara satu sama lain,bahkan Farell dan Satria sudah memilih pamit dengan alasan ada kelas sebentar lagi. Begitu pula dengan Davian dan teman-temannya yang juga pamit kembali. Di meja hanya tinggal Zee,Agatha,Clara,Delice,dan William saja.
"Emmm,Zee!! Papa minta maaf sebelumnya. Tapi kayaknya kita tunda dulu jalan-jalannya. Mama kamu udah pulang,dan papa harus pulang ke rumah sekarang. Papa dikabarin sama bibi barusan."
Ucapan William bak siraman air dingin di kepala Zee,antara lega dan kaget juga. Pasalnya ia tidak mendapat info apapun dari orang suruhannya jika Melissa kembali hari ini.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf? Zee gak papa,lagian bukannya minggu depan anniversarry kalian ya? Papa memang harus segera baikkan sama mama Melissa."
"Biar rencana gua mulus nantinya. Udah saatnya papa tau kalau istri papa itu bukan manusia,tapi siluman ular!!" Lanjut Zee dalam hati.
"Kamu gak marah kan sama papa?" Tanya William hati-hati. Pasalnya ekspresi Zee sulit ditebak terkadang gadis itu bisa marah dengan tampang datar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Zee gak marah,papa tenang aja." Jawab Zee yakin. Bagaimana ia bisa marah,jika kedatangan Melissa malah keuntungan untuknya.
"Papa pulang ya!! Ingat minggu depan kamu sama Davian nginap di rumah papa. Kalian harus hadir hari anniversarry papa sama mama. Kalau kalian gak datang,papa akan kirim orang buat jemput kalian." Ujar William tegas,sedangkan Zee mengangguk pasti.
"Zee pasti datang pa,tenang aja. Ada kado yang mau Zee kasih,untuk pertama kalinya buat kalian." Ujar Zee misterius,dengan senyum cerah yang jarang keluar di wajahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi? Papa lo udah pulang? Lo gak ada kegiatan kan? Berati kita bisa jalan-jalan?" Tanya Agatha antusias setelah kepergian William.
Ucapan Agatha membuat Zee melotot tak santai.
"Gak bisa!! Gua ke kantor mungkin,lo denger sendiri tadi,minggu depan gua ada acara keluarga,jadi lebih baik gua nyelesain kerjaan gua di kantor secepatnya Jawab Zee spontan dengan kalimat panjang. Kebiasaannya saat sedang panik.
"Lo kok aneh sih dari tadi? Gua kayak ngerasa lo ngehindar kita deh. Termasuk papa lo kan? Buktinya tadi lo senyum pas papa lo pulang? Lo kenapa sih?" Tanya Clara heran ,menyadari gerak-gerik Zee.
"Gak ada aneh,perasaan kalian doang mungkin!!" Jawab Zee,kembali ke mode datar. Membuat ketiga temannya menghela napas berat. Mereka yakin Zee menyembunyikan sesuatu. Tapi mereka tidak pernah tau apa itu. Kehidupan Zee terlalu sulit mereka selami. Gadis itu terlalu tertutup.
"Lo belum anggap kita sahabat ya?" Tanya Delice hati-hati. Namun tak mendapat tanggapan dari Zee,karena gadis itu sudah beranjak dari meja dengan kedua earphone terpasang di telinga.
"Bukan tidak menganggap sahabat,gua cuma butuh waktu buat percaya kalau ketulusan ada." Jawab Zee dalam hati. Ia jelas mendengar ucapan terakhir Delice,namun memilih mengabaikannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Like,vote,komen teman-teman
🙂😉