
Malam ini Aliana terlihat sangat gelisah, ia merasa tak nyaman di perutnya. Setelah memasuki trimester terakhir, Aliana memang merasakan banyak sekali keluhan. Mulai dari kepalanya yang sering pusing, mudah sekali cepat lelah dan juga sering merasakan kontraksi palsu di perutnya.
Akan tetapi malam ini Aliana merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya, perutnya terasa sangat kencang dan juga kontraksi yang terasa lebih dari biasanya, lebih sakit dan juga lebih sering terasa.
Ia pun akhirnya membangunkan Zein yang sedang terlelap tidur, mungkin dia merasa kelelahan setelah membantu ayahnya untuk mempersiapkan pernikahannya. Sebenarnya Aliana merasa tidak tega karena melihat suaminya yang terlihat sangat lelah, akan tetapi ia pun tidak bisa pergi sendiri dalam keadaan seperti ini, ia pun akhirnya membangunkan Zein karena sakit di perutnya sudah mulai terasa. Ia takut jika malam ini ia akan melahirkan. Untuk itu ia dengan cepat membangunkan Zein, agar mengantarnya ke rumah sakit.
"Zein, bangunlah," panggil Aliana perlahan dan sedikit mengguncangkan tubuh Zein. Memerlukan waktu untuk membangunkan pria yang sedang terlelap ini. Hingga akhirnya setelah beberapa kali, dibangunkan Zein pun mulai sadar.
"Ada apa Al?" tanya Zein dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
"Zein perutku sakit, antarkan aku me rumah sakit. Aku takut jika sekarang aku akan melahirkan," ucap Aliana perlahan sambil sesekali meringis dan memegang perutnya yang sudah sangat besar itu.
"Apa!"
Mendengar istrinya akan melahirkan Zein pun panik bukan main, oa dengan segera bangkit dan mempersiapkan segala keperluan yang memang sudah ia kemas dari beberapa waktu lalu. Agar di saat genting seperti ini, ia bisa dengan cepat membawanya karena sudah siap.
Zein pun kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan kemudian mengambil jaket miliknya dan juga milik Aliana.
"Ini Al, pakai jaketmu," dengan pelan-pelan dan juga penuh kehati-hatian, ia memakaikan jaket itu kepada istrinya.
__ADS_1
Zein pun memapah tubuh Aliana perlahan untuk ia bawa ke rumah sakit. Zein menawarkan dirinya untuk menggendongnya. Namun, Aliana menolak dan tetap ingin berjalan.
"Hati-hati," ucap Zein sambil menuntun tangan mungil Aliana dan membawanya ke dalam mobil.
Dengan kecepatan sedang Zein menjalankan mobilnya, ia tidak mau panik dan membawa mobilnya dengan kencang karena keselamatan tetap harus ia jaga. Perlahan tapi pasti Zein membawa mobilnya dan menembus kesunyian malam. Dimana sebagian orang sudah berkelana ke alam mimpinya, tapi pasangan suami istri ini kini sedang berjuang untuk kelahiran anak pertama mereka.
"Zein ..." panggil Aliana meringis kesakitan, tangannya mulai mencengkram lengan Zein. Karena kontraksi yang ka rasakan cukup kuat, hingga Aliana hampir menangis. Akan tetapi tak lama setelah itu, rasa sakit itu hilang kembali. Kontraksi yang Aliana rasakan mulai hilang dan timbul dengan waktu yang teratur.
"Bersabarlah, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Zein menenangkan istrinya, agar ia tidak terlalu panik dan ketakutan berlebih saat akan melahirkan.
Aliana hanya mampu mengaku saja tanpa bisa mengeluarkan suara, dan bersabar untuk segera sampai ke rumah sakit.
"Dokter, tolong periksa istriku dan selamatkan bayiku," ucap Zein pada dokter jaga itu. Ia tak mampu menahan rasa paniknya saat melihat istrinya mulai kesakitan lagi.
"Baik Tuan,"
Aliana pun dengan segera di bawa untuk diperiksa, awalnya Aliana merasa takut dan juga merasa risih saat dokter perempuan itu memasukkan jarinya ke jalan lahir Aliana. Hingga ia pun memekik kesakitan, Zein tadinya ingin sempat marah pada dokter itu. Namun, ia diberi tahu oleh Zaira jika saat nanti Aliana melahirkan ia tak boleh terlalu panik dan jangan memarahi dokter.
Hal yang dilakukan oleh dokter barusan memang hal yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh dokter pada orang yang akan melahirkan. Jadi, Zein menahan kembali marahnya, dan mencoba untuk tenang serta banyak berdoa. Agar Aliana bisa melahirkan dengan lancar dan juga selamat ibu dan bayinya.
__ADS_1
"Sudah pembuka lima rupanya," ucap dokter itu.
Zein pun kemudian membantu Aliana membetulkan posisinya, ia mulai merasakan sakit di perutnya. Sakit yang rasakan sungguh sangat luar biasa, jika sakit itu menyerang Aliana akan mulai menjerit dan menangis. Zein tidak tega melihat istrinya yang kesakitan saat berjuang untuk melahirkan anaknya.
"Zein ini sangat sakit," rintih Aliana, air matanya sudah berderai membasahi pipinya yang mulus.
"Sabar sayang, aku akan menjagamu di sini,"
"Ini sakit Zein," kontraksi itu mulai menyerang lagi, Zein pun panik dan memanggil dokter untuk memeriksa Aliana. Akan tetapi Zein kesal saat dokter itu mengatakan jika, rasa sakit yang dirasakan oleh Aliana adalah normal.
Ya ... Zein tahu jika melahirkan itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Akan tetapi jika melihat istrinya yang akan melahirkan kesakitan sampai seperti ini, Zein pun merasa sangat tidak tega. Jika bisa, biar ia saja yang akan merasakan rasa sakit ini. Zein rela jika ia yang harus kesakitan dibandingkan ia harus melihat Aliana yang menangis karena sakit.
Hingga beberapa jam sama sekali tidak ada kemajuan membuat Zein semakin frustasi dibuatnya. Kenapa pembukaannya belum lengkap juga pikirnya. Sedangkan Aliana terus merasa kesakitan dan membuat Zein hampir saja mengamuk.
Akan tetapi di saat terakhir, akhirnya pembukaannya sudah lengkap. Aliana mulai dipersiapkan. Kakinya mulai diangkat, dan dokter pun mulai memberikan aba-aba padanya. Namun, setelah beberapa kali mengejan bayi itu belum mau keluar. Hingga Aliana hampir putus asa, tubuhnya sudah dipenuhi oleh keringat yang membasahi tubuhnya. Rasa sakit yang tak terkira kini melanda tubuhnya. Rasanya ia ingin menyerah saja, ia merasa jika ia tidak akan sanggup tubuhnya sudah sangat lemas.
"Bersabarlah Nona, ayo kita coba lagi da ikuti arahan saja. Saya yakin anda bisa. Semangat demi bayi anda, lihatlah rambutnya sudah kelihatan sedikit lagi anda akan bisa bertemu dengan anak anda," ucapan dokter itu seolah semangat untuk Aliana. Benar dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu jika ia harus bisa demi bayinya yang akan lahir, dan juga demi suami yang sangat ia cintai dan juga mencintainya.
Dengan sisa-sisa tenaganya Aliana pun mengejan dan akhirnya ia pun mengeluarkan tenaganya yang terakhir. Pandangannya mulai gelap, terdengar suara tangisan bayi yang memekikkan telinganya. Dan suara Zein yang terus memanggil namanya. Akan tetapi Aliana tak mampu menyahutnya, karena kabut gelap mulai menutupi pandangan Aliana hingga ia tak bisa lagi melihat apa-apa.
__ADS_1