
"Kau! Mau apa kau datang kemari!" tanya Arini yang terkejut melihat kedatangan Rosa. Yang entah kenapa ia malah semakin iri melihat Rosa yang terlihat semakin cantik dan mempesona. Bahkan penampilannya saja masih kalah dengan Rosa yang usianya berada jauh di atasnya.
Rosa masuk ke rumah itu dengan membawa beberapa orang pengawal yang memakai pakaian hitam lengkap dengan jas dan kaca mata hitamnya. Orang-orang itu adakah bodyguard yang sengaja ia sewa untuk mengawalnya datang ke rumah, yang dulu pernah ia huni. Dan pernah memberikan kenangan indah dan juga kenangan yang menyakitkan, padanya.
"Apa kau tidak malu, bertanya seperti itu padaku?" tanya Rosa dengan mendelik dan berjalan mendahului Arini dan juga Lidya, untuk kemudian ia duduk dengan elegannya. Dengan bodyguard yang siap menjaganya di belakang.
"Kenapa aku harus malu, justru seharusnya kaulah yang malu. Karena sudah diceraikan dan dibuang oleh suamimu. Dan sekarang kau malah datang lagi kemari, apa kau datang kemari hanya untuk mengemis cinta suamiku," ejeknya, pada Rosa.
"Woooww, tunggu dulu Nona cacing kremi. Kedatanganku kemari, bukan untuk merebut suamimu. Dan sepertinya kau salah dalam menilaiku, karena bukan aku yang dibuang oleh Bayu. Tapi aku yang membuangnya, kau tahu aku bukanlah orang yang suka memungut sampah dan kemudian membawanya pulang. Aku bukan orang sepertimu, yang menyukai milik orang lain. Dan kemudian merebutnya dengan cara kotor, maaf sekali lagi aku membuatmu kecewa. Tapi aku tidak serendah dirimu," Rosa berbicara dengan sangat santai, dan tak menunjukkan emosi sedikit pun.
"Jaga bicaramu!"
"Jangan membentakku Nyonya, ajarilah putrimu dengan sangat baik, agar ia tidak suka merebut yang menjadi milik orang lain!"
__ADS_1
"Seharusnya kau sadar diri kenapa, suamimu sampai berpaling pada putriku. Sudah sangat jelas bukan, jika putriku memiliki banyak kelebihan darimu!"
Rosa hanya tersenyum menanggapi ucapan, pelakor dan ibu kandungnya itu. Ia sama sekali tak merasakan sakit hati sama sekali. Entahlah hatinya terasa bebal saat ini. Justru ia semakin memandang rendah pada Arini dan ibunya Lidya, mereka berdua tak jauh seperti cacing penghisap darah.
"Tentu aku sadar diri Nyonya, karena harga putrimu yang begitu murahlah, yang membuat mantan suamiku memilihnya. Bukankah barang diskonan banyak diburu semua orang," sinis Rosa.
"Kau!"
"Kau tidak akan bisa mengusirku dari rumah ini! Kau tidak punya hak apapun!" sentak Arini.
"Dasar cacing bodoh! Rumah ini masih atas namaku, dan kau senang - senang menempatinya. Tapi sekarang tidak lagi, bereskan barang-barangmu sekarang juga atau aku yang akan membuangnya!"
"Tidak! Rumah ini bukan rumahmu! Kau hanya mengada-ada saja, wanita sial@n!"
__ADS_1
"Oh ya ampun, jadi ini perempuan yang digadang-gadang berhati lembut dan sangat pengertian itu. Kenapa aku ingin muntah melihatnya, karena ternyata itu semua hanya topeng belaka!"
"Dasar perempuan gila! Kau tak terima diceraikan dan sekarang kau mengada-ada. Dasar tak tahu malu!" sentak Lidya membela putrinya.
Tidak ingin banyak berdebat, akhirnya Rosa memberi kode pada para bodyguardnya. Untuk menyeret Arini dan Lidya keluar dari rumah itu. Hingga kedua orang itu berteriak histeris, dan meronta tak ingin keluar dari rumah Rosa. Akan tetapi Rosa sama sekali tak ingin mendengar dan melihat kedua orang itu. Biar saja mereka berteriak-teriak seperti orang gila, Rosa sama sekali tak peduli. Ia puas sudah menyeret anak dan ibu yang serakah itu. Kini ia tinggal menyiapkan diri untuk menghadapi Bayu, tapi ia sama sekali tak akan gentar apalagi takut. Karena ia sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik.
Melihat mereka diseret keluar Rosa tertawa melihatnya, astaga ia sangat jahat. Akan tetapi yang dilakukan mereka lebih jahat, biarlah hanya untuk kali ini saja ia ingin membalas sakit hatinya, karena ia telah dikhianati.
"Aku tidak akan diam saja, lihat saja Mas Bayu pasti akan membalas perbuatanmu!" teriak Arini.
Perlahan Rosa mendekati Arini, dan memegang dagunya serta melihatnya dengan tatapan jijik. Jika bisa ia ingin sekali menamp@r wanita pongah yang sudah merebut suaminya itu. Tapi semua itu ia tahan, karena ia tidak ingin mengotori tangannya dengan menamp@r Arini.
"Aku tunggu pembalasanmu, pecundang!"
__ADS_1