Suami Bayaran

Suami Bayaran
Bab 69


__ADS_3

Zein pun akhirnya membawa Tama pulang ke rumahnya, dengan hati yang gelisah Tama mengikuti kemauan Zein untuk tinggal di sana. Meskipun nanti ia akan mendapatan penolakan dari Aliana, maka ia akan pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh menantunya nanti. Mungkin nanti jika sudah sampai di sana, ia akan diusir bahkan mungkin dicela dan juga dihina oleh menantunya.


Sudah hal yang sewajarnya jika manusia sepertinya dibenci oleh banyak orang. Jadi, ia sudah menyiapkan mental jika nanti sesampainya di rumah, ia akan di usir oleh menantunya. Biarlah itu terjadi asalkan ia sudah menuruti kemauan Zein. Kebahagiaan zein adalah yang utama baginya. Apa pun yang terjadi nanti, Tama akan menerima semuanya dengan lapang hati.


Karena tujuan hidup Tama saat ini adalah ingin menebus semua kesalahan yang telah ia perbuat pada anak-anaknya. Jadi apapun yang terjadi Tama sudah siap dengan konsekuensi yang akan ia terima nanti. Meskipun sangat menyakitkan sekali pun, Tama akan menerimanya dengan ikhlas.


Mereka pun kini sudah sampai di rumah Zein, jantung Tama semakin berdegup kencang. Meskipun sedari tadi ia sudah menyiapkan mentalnya, tapi tetap saja ia khawatir jika ia ia akan mendapatan perlakuan yang tidak menyenangkan dari menantunya.


Melihat Tama yang terlihat ragu, Zein berusaha untu meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja. Baiklah ini saatnya Tama bertemu dengan Aliana, tak apa ia di usir tapi sebelum itu Tama aan meminta maaf terlebih dahulu padanya.


Aliana baru saja selesai memasak, sengaja Ia memasak sendiri makanan untuk makan malam untuk malam ini. Meskipun rasanya kurang enak, akan tetapi masih manusiawi untuk di makan. Untung saja lidah Zein itu sangat pengertian, jadi bagaimana pun rasanya makanan buatan istrinya itu. Ia pasti akan memakannya.


Pintu depan mulai terbuka, Aliana tahu jika itu pasti Zein yang datang. Ia pun dengan segera menyambut kepulangan suaminya. Dengan langkah yang riang ia menyambut Zein. Sungguh sejak tadi ia sangat merindukan suaminya ini, karena tak biasanya ia pulang terlambat. Tadi Aliana sempat menghubungi Zein, akan tetapi tidak diangkatnya. Setelah itu ia pun menghubungi kantor, dan berharap bisa menghubungi suaminya. Namun, ternyata dia mendapat laporan dari kantor, jika Zein sedang mengecek proyeknya yang ada di luar. Untuk itulah Aliana merasa tenang karena ternyata Zein sedang bekerja di luar. Lagi pula, Mawar berduri kini sudah menjadi putri kodok jadi tak ada lagi yang perlu Aliana khawatirkan.


"Zein ku yang tampan! Kemana saja kau baru pu ... lang," Aliana, terkejut saat melihat suaminya pulang. Karena ternyata ia tidak pulang sendiri, ia membawa seseorang pulang bersamanya. Dan seseorang itu adalah orang yang selama ini menghilang dari kehidupan mereka, orang yang selama ini berstatus mertua, namun tak pernah sekalipun ia bertemu dengannya. Dan baru kali ini Aliana bertemu dengan tama. Ya ini adalah pertemuan Aliana dengan Tama.

__ADS_1


Aliana memang pernah melihatnya dan juga tahu wajah dari ayah suaminya ini, tapi ia belum pernah berinteraksi dengannya. Dan inilah kali pertama ia berhadapan langsung dengan Tama.


"Zein ... dia,"


"Nak, sebaiknya Ayah pergi saja,"


"Tidak," Zein menahan tangan Tama dan kemudian memandang Aliana dengan tersenyum.


"Al ... dia Ayahku kau tahu kan?" tanya Zein dan Aliana pun mengangguk, kemudian pandangan Aliana langsung mengarah kembali pada Tama yang terlihat sangat menyedihkan.


"Apa!"


"Maaf Nak Aliana, Ayah tidak bermaksud merepotkan kalian berdua, Ayah sudah meminta Zein, untuk tidak membawa Ayah pulang kemari. Namun, Zein tetap memaksa Ayah untuk ..."


"Tidak ... tidak apa-apa, aku senang sekali jika Ayah mau tinggal bersama kami. Sebenarnya sudah dari sejak lama aku meminta Zein untuk membawa Ayah kemari. Hanya saja putra Ayah keras kepala, dan tetap tidak mau bertemu dengan Ayah," terang Aliana, karena memang begitu keadaannya. Sudah sejak lama Aliana meminta suaminya untuk membawa Tama tinggal bersama dengan mereka. Namun, karena Zein yang masih belum memaafkannya sehingga ia terus menolak kehadiran Ayahnya di rumah ini. Akan tetapi sepertinya sekarang Zein sudah mulai membuka hatinya untuk Tama. Itu terbukti dengan ia membawanya pulang ke rumah dan itu membuat Aliana sangat bahagia.

__ADS_1


"Ayah dengar sendiri kan, Aliana tidak akan menolak Ayah untuk tinggal bersama kami. Karena membawamu kemari adalah keinginannya sedari dulu," ucap Zein, hingga ia kini merasa lega karena di terima dengan baik oleh anak dan menantunya. Ia berjanji mulai saat ini ia akan menjalani kehidupan sebaik mungkin dan tak akan merepotkan anak serta menantunya.


"Zein, antarkan Ayah untuk istirahat sepertinya ia sangat lelah. Oh ya ... nanti kita makan malam bersama ya," ucap Aliana dengan senang. Akhirnya, Zein bisa memperbaiki hubungannya dengan sang Ayah dan itu semua membuat Aliana senang. Zein pun kemudian mengantarkan Tama, ke kamar tamu. Dan Zein pun kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaiannya agar bisa dipakai oleh Tama. Aliana terus tersenyum saat melihat anak dan ayah itu terlihat akrab.


Namun, sedetik kemudian senyum Aliana menghilang begitu saja. Ia baru ingat sesuatu jika ia baru saja memasak untuk makan malam.


"Ahhh ya ampun, jika tahu akan ada Ayah mertua aku tidak akan masak," ucap Aliana dan itu terdengar oleh Zein, dan juga oleh Tama yang baru saja akan pergi untuk mandi dan berganti pakaian. Hingga kedua pria itu saling pandang. Jika Zein merasa heran dengan ucapan Aliana, lain hal nya dengan Tama yang baru saja merasa tenang karena ia tadi terima dengan baik oleh menantunya.


Akan tetapi belum juga beberapa menit menantunya ini terlihat seperti sudah berubah pikiran, untuk menerimanya tinggal bersama dengan mereka.


"Al ada apa?" tanya Zein. Jujur saja ia merasa terkejut dengan ucapan dari istrinya. Yang terlihat seolah menyesal telah menyiapkan makanan, karena ada mertuanya yang tiba-tiba akan ikut makan bersama dengan mereka.


"Zein, aku lupa jika barusan aku memasak. Kalau tahu ada Ayah mertua akan datang, aku pasti akan memilih membeli saja. Kau tahu kan kalau masakanku itu rasanya tidak manusiawi," ucap Aliana mengakui kelemahannya. Zein pun kemudian tersenyum mendengarnya, ia pikir jika baru saja Aliana berubah pikiran untuk menerima ayahnya untuk tinggal di sana.


Begitu pun dengan Tama yang merasa lega, jika ternyata menantunya ini sangat menghawatirkan rasa masakannya, yang mungkin acak-acakan. Padahal Tama tidak akan mempermasalahkan rasa masakan dari Aliana yang mungkin rasanya tidak enak. Justru ia merasa sangat bahagia karena telah diterima dengan baik di sini.

__ADS_1


__ADS_2