Suami Bayaran

Suami Bayaran
Bab 65


__ADS_3

"Mah Mawar bukan gadis pembawa sial, asal Mamah tahu saja jika Mawar sudah tidak gadis lagi. Karena semalam aku sudah mengambil kegadisannya," jawab Satya dengan bangga.


"Apa ..."


"Ya benar, semalam aku sudah mencetak cucu untuk Mamah," jawab Satya sambil melanjutkan memakan mie nya. Ia sangat lapar karena terus mengeluarkan tenaganya. Setidaknya ia harus mempunyai tenaga untuk berdebat dengan mamahnya ini. Sedangkan Rosa kesal melihat anaknya malah santai memakan mie, padahal ia sedang bicara dengannya.


"Kau lihat itu, putraku menjadi tidak sopan gara-gara kau!" tunjuk Rosa pada Mawar.


"Aku? Kenapa aku?" tanya Mawar yang juga ikut makan dengan suaminya, bertengkar dengan Ratu kodok akan membuat tenaganya terkuras. Sepertinya satu mangkuk mie cukup memberikan tenaga padanya.


"Astaga, kalian benar-benar tidak punya sopan santun!"


Satya sudah selesai makan, dan mulai menghampiri Rosa yang memalingkan wajah padanya. Mungkin sang Ratu kodok merajuk, dan sekarang ia ingin dibujuk olehnya. Sayangnya Satya tidak akan membujuk ibunya, justru ia ingin memberikan pengertian agar ia mengerti jika putranya yang kurang tampan ini sangat mencintai istrinya.


"Mah ..."


"Kau jahat pada Mamah, Satya!" Satya menghembuskan napas kasar, sebenarnya ia tidak tega melihat ibunya bersedih. Akan tetapi Satya juga tidak mau jika ibunya menghina istrinya.


"Sudahlah Mah, Mawar itu istriku jangan bersikap seperti ini lagi. Sayangi dia sebagai putrimu, atau kalau tidak mau sayangi dia sebagai menantumu,"


"Tidak!"


"Lalu apa? Mamah ingin aku jadi duda? Tidak ... tidak, aku tidak mau jadi duda. Lagi pula aku sudah kikuk-kikuk dengan Mawar, tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja. Dan asal Mamah tahu, kalau aku ini sangat mencintainya,"

__ADS_1


Rosa semakin kesal mendengar penuturan putranya, seolah sia-sia saja pengorbanannya jauh-jauh ia datang ke kontrakan Satya. Ke tempat sempit yang membuatnya sangat tidak nyaman.


"Kau membuat Mamah kecewa,"


Tidak ingin lagi berdebat dengan ibunya yang sama sekali tidak mengerti, Satya pun memilih untuk beranjak dan mengajak Mawar untuk belanja keperluan rumah saja.


"Bunga Kamboja, ayo kita belanja! Kalau keburu sore pasarnya tutup,". ajak Satya dan kemudian memakai jaketnya tanpa peduli jika Rosa masih ada di sana.


"Satya! Mamah masih ada di sini dan kau malah ingin pergi, kau ini sangat tidak sopan!"


"Jika Mamah datang kemari hanya untuk menghina istriku dan memintaku untuk menceraikannya lebih baik aku tidak menuruti perintahmu, dan aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!" Satya sebenarnya tidak ingin menyakiti Rosa. Akan tetapi sikap Rosa yang tidak pernah mau mengerti, membuat Satya menyerah dan memilih untuk menjauhinya. Ia pun kemudian pergi di ikuti oleh Mawar dibelakangnya.


"Satya ..."


*


*


*


Tama yang sudah hampir satu minggu tidak pulang, membuat Mirna risau. Pasalnya tak biasanya suaminya bersikap seperti itu. Biasanya, selalu setiap hari ia pulang, dan uang makan pun selalu ia berikan. Awalnya Mirna tidak terlalu mempedulikannya. Karena ia sangat tahu, jika Tama tak pernah bisa jauh darinya. Tapi kali ini, Mirna menjadi khawatir karena Tama telah berubah. Ya, suaminya kini telah berubah dan tak mempedulikannya lagi. Entah apa yang ada dalam pikirannya Tama, hingga ia tidak mau pulang hanya karena tidak ada air minum. Sangat egois, seharusnya Tama mengerti jika seorang istri itu perlu hiburan. Hanya karena ia bermain ponsel seharian, ia marah bahkan sampai satu minggu tidak pulang.


Ini tidak bisa dibiarkan, akan sangat berbahaya jika Tama terus seperti ini. Jika Tama sudah tidak mau lagi dengannya, bagaimana dengan nasib dirinya. Siapa yang akan memberikannya uang, karena hanya Tama satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.

__ADS_1


Untuk itu Mirna memutuskan untuk menyusul Tama ke tempat pekerjaannya, ia datang untuk meminta uang padanya.


Di siang yang terik ini Tama baru saja melepas lelahnya dengan beristirahat, setelah selesai makan siang ia memutuskan untuk membeli kopi. Satu gelas kopi menjadi penyemangatnya sebelum bekerja, ia pun kemudian berkumpul dengan rekan-rekan kerjanya sambil tertawa dan bercanda bersama. Biasanya para pekerja memang selalu beristirahat dengan berkumpul bersama, sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi.


Mirna yang baru saja datang untuk bertemu dengan Tama merasa kesal, karena suaminya itu kini terlihat sedang tertawa bersama dengan teman-temannya. Tak tahu kah ia jika Mirna menderita karena Tama tidak pulang. Ia bahkan harus berhutang hanya untuk mengisi perutnya yang terasa lapar, karena Tama tak pernah memberikan uang lagi sepeser pun kepadanya. Mirna sakit hati dan juga kesal padanya, bisa-bisanya Tama tertawa di atas penderitaannya.


"Mas ...!" teriak Mirna, iya sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya kepada Tama, hingga ia berteriak agar Tama bisa melihat kemarahannya, agar Tama mengerti bagaimana rasa sakitnya ia ditinggalkan. Dan juga dibiarkan begitu saja. Mirna ingin tak mau sadar jika selama ini ia sudah menyakitinya.


Mendengar suara Mirna, Tama pun langsung berbalik dan melihat kearah suara yang memanggilnya. Ia terkejut melihat Mirna yang tiba-tiba ada di tempat kerjanya. Tama tahu jika maksud kedatangan Mirna menemuinya adalah hanya untuk meminta uang. Sebenarnya Tama sengaja tidak memberikannya uang, agar ia mengerti dan paham bagaimana posisi Mirna jika Tama meninggalkannya. Dan ternyata baru satu minggu saja Tama tidak memberikannya uang Mirna sudah kalang kabut. Untuk menghindari keributan Tama pun kemudian menghampiri Mirna. Ia sangat tahu bagaimana sifat istrinya ini yang tidak pernah melihat keadaan jika sedang marah. Untuk itu Tama menjauhkannya dari teman-temannya, karena ia akan sangat malu jika sampai Mirna membuat masalah di sana.


"Mirna, mau apa kau datang kemari?" tanya Tama sambil agak menyeret Mirna dan membawanya untuk menjauh. Setelah agak jauh Mirna pun menghempaskan tangan Tama dengan kasar.


"Kau bertanya untuk apa aku datang kemari? Apa kau lupa jika kau mempunyai istri yang harus kau nafkahi?" tanya Mirna balik.


"Aku tidak lupa," jawab Tama dingin. Entah kenapa Tama merasa perasaannya sudahkah kaku terhadap Mirna, seolah rasa yang selama ini sangat besar terhadapnya hilang begitu saja tak ada simpati sedikitpun melihat Mirna kesusahan. Justru di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa puas melihat Mirna menderita.


"Lalu kenapa kau tidak pulang! Apa kau ingin aku mati kelaparan!" sentaknya. Tama berdecih mendengar ucapan Mirna. Ia merasa kesal dan kecewa pada Mirna, jika dirinya sendiri yang merasa lapar yang merasa dianiaya olehnya. Akan tetapi selama ini Tama berjuang kesakitan hanya untuk menghidupinya dan juga membahagiakannya. Namun, untuk minum pun Mirna sama sekali tak mau memberikannya kepada Tama. Dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Cukup sudah kesabaran utama kini telah habis ia tak mau lagi mendengarkan ucapan Mirna yang egois. Tama sengaja tidak pulang, dan berharap jika Mirna intropeksi diri dengan kesalahannya. Namun, nyatanya ia masih terus saja menyalahkan orang lain atas apa yang menimpanya.


"Mirna kita bercerai saja,"


Duaaarrr.....


Mirna terkejut bukan main mendengar ucapan Tama, hal yang tak pernah Mirna bayangkan sebelumnya. Namun, kini seolah menjadi kenyataan buruk yang menimpanya.

__ADS_1


"Tidak ..."


__ADS_2