Suami Bayaran

Suami Bayaran
Roda berputar


__ADS_3

Kepulan teh beserta beberapa roti selai di atas meja menyapu pandangan sebagai kudapan sarapan. Tak biasanya, memang.


Dipandanginya menu sederhana yang selang menit lalu disediakan sang istri, dan ini ... benar-benar tak lazim.


Ya ... aneh.


Tak berminat barangkali sekadar mencecap, peralihannya ia tujukan pada game ponsel. Melupakan eksistensi seorang wanita yang tak kalah hilir-mudik seolah mencari perhatian dirinya.


Tuhan Maha Adil, gravitasi berporos dengan baik, dan roda terus lah berputar keadaan menjadi terbalik.


Dalam semburat muram, Zaneta mengamati dalam diam. Sedikit nyeri ia dapati kala kebaikannya tak disambut baik kali ini, tetapi ... terlalu lambat untuk ia sesali. Mungkin ini memang balasan yang dipantaskan untuknya.


Lima belas menit dikepung kesunyian, kepulan pada cangkir mulai sedikit menghilang. Sentuhan telunjuk pada bahu baru saja Diero dapatkan, ia pun menoleh kecil. Menunda sebentar game membosankannya demi objek itu tanpa minat.


Zaneta menggeleng. Perubahan sikap itu mendadak semakin menyayat relung, hanya tarikan berat dari hidung ia jadikan pertanda Sesak.


Ego memuncaki seorang Diero La Martin, fakta bahwa sekarang ia adalah 'Raja' berhati diktaktor. Namun, ini masih dalam taraf kecil, seharusnya pelampiasan luka yang ia berikan bisa lebih dari ini. Cinta memang terkadang melupakan iba.


Mendadak hawa panas itu pun berganti seketika, Diero tertegun. Melirik sekitar bahunya yang telah dilingkari lengan Zaneta, erat sekali dan hampir mencekik-mungkin. Meskipun punggung sofa menjadi pembatas tubuh mereka.

__ADS_1


Tubuh Zaneta semakin merendah, tenggelamlah wajahnya pada tengkuk itu. Meninggalkan bekas liquid pada kerah kemeja belakang Diero, menangis dalam diam. "Maaf ...."


Hati bodoh ... apa kabarmu? Sorot Diero beradu pada meja kosong. Kelegaan ia dapati di salu sisi, tetapi disisi lain jiwa jahatnya mulai menuntut nyala api. Oh.


Zaneta terkaget, seolah terdorong begitu saja. Pelukannya baru saja ditepis paksa, berdirilah pria di hadapannya dengan tatapan dingin. Tak manusiawi.


"Tidak, kau pikir aku bisa kau tipu lagi kali ini?" Diero menggeleng kecewa. "Tak ada istilah terjatuh dua kali di dalam kamusku."


Pintu pun tertutup, bersamaan dengan punggung Zaneta yang merosot dengan mudah di balik sofa. Meredam sesak di balik pelukan lutut. Seribu kali penyesalan, bahwa ia makhluk yang terlalu kejam ... untuk dicintai.


***


Dari balik kaca, sekelebat awan pekat membumbung dari kejauhan. Pertanda hujan akan terlahir dari atmosfer menuju bumi.


"Putar haluan. Cepat."


Leo menoleh sesekali. Heran. "Tapi ... kita ....". Padahal mereka sudah setengah perjalanan memasuki area tol, dan ... ini membingungkan, sungguh.


"Turunkan, atau lempar aku ke dermaga."

__ADS_1


Cetusan tak beritme itu hanya dibalas helaan, pria itu menggaruk alis sembari mengendalikan kemudi. Sejak mendengar teriakan Zaneta dari telepon, ia memang sudah dapat menebak bahwa perangai seorang Diero La Martin akan begini jadinya.


Namun, ya ... begitulah jika hati sudah dipermainkan, logika pun bertindak semaunya.


Leo berdecak. Melirik pria di sebelahnya dengan datar, akhirnya kesabaran si calon Ayah ini terpancing juga. "Astaga ... kalian seperti pasangan anjing di musim kawin."


Diero mengarahkan wajah pada kaca samping, perbukitan etna seolah ia perhatikan secara antusias padahal sebenarnya tidak begitu, kepalanya terbawa di sini, tetapi sepihan hatinya masih tertinggal di Villa. Tepat sekali seperti asmara bocah ingusan.


"Ck apalagi yang kau ragukan?"


"Entahlah," sahutnya.


Leo membalas enteng. "Jika aku belum menikah, dia akan ku rebut darimu."


Lantas, Diero melirik berang. "Ku hancurkan kepalamu."


"Hm. kalau begitu lakukan," angguknya puas, respon itu sangat ia harapkan sebenarnya. "Cupid akan menertawakan kalian, maka ... buatlah keajaiban."


Bersambung ....

__ADS_1


Cinta Zaneta datang terlambat. Atau apakah cinta Diero yang terlalu cepat datang?


__ADS_2