
Pagar itu baru saja terbuka, pertanda Diero baru saja kembali. Sengaja ia memutuskan untuk pulang agak larut—menghindar, tepatnya.
Mungkin Zaneta sedang bermalam-ria di luar sana, ia pun tak perduli lagi. Passport tinggal menunggu hinggap di tangan, tiket pun juga. Jadi, tak ada harapan yang tersisa untuk dia di sini
"Kau ... dari mana saja?"
Pertanyaan yang sama, seperti semalam. Bedanya, kali ini tubuh itu menyambutnya dengan antusias. Diero mencopot sepatu, lagi-lagi menghindari kontak mata itu. Jangan dulu, ia belum siap dilempar tinggi lagi kemudian tercampak dengan tak manusiawi. Sejujurnya, wajah seperti inilah yang ia inginkan untuk disambut pulang di masa depan. Tapi, tidak ....
Sorot itu menyiratkan pengharapan. "Bisakah ... kita bicara?"
"Di luar saja kepala ku panas," datar Diero.
Ayunan itu digerakkan Zaneta dengan kecil, sementara Diero menjanggal satu kaki pada besi penyangga seolah menahan. Tak ada alasan yang Diero berikan asal usulan ini, dan Zaneta pun tak bertanya pula. Tepatnya, mereka masih betah dikepung diam.
Bodoh, satu hati berteriak. Aneh, teriak hati yang lain.
"Hentikan, kepalaku pusing."
__ADS_1
Gerakan ayunan perlahan berhenti, diakhiri keheningan dan desauan angin yang menusuk kulit.
Jemari pada pangkuan mulai dibasahi oleh tetes milik Zaneta. Sesak. Melirik dengan mata berair ke arah pria yang masih membuang wajah sebaliknya, perlakuan yang ia terima terlalu menyiksa sekujur tubuhnya. "Ma... af. aku ... maaf..." diiringi lirihan tersendat karena hidung yang mulai Tersumbat. "kau... membenci ... ku. Iya... 'kan?"
Dalam diam, kepalan pada saku itu semakin mengerat. Bagaimana bisa kupingnya betah mendengar tangisan semacam itu, seharusnya pria yang telah ia berikan kesempatan itu bertanggung jawab. Si Brengsek itu cari mati rupanya, rahang tajam Diero mulai menggertak.
Semakin tertekuk lah wajah itu, menumpahkan bulir yang tak mampu lagi untuk dibendung. Sekarang pesakitan Diero La Martin tertular pada diri seorang Zaneta Romero, ia kapok. "Sikapmu... semakin ... membuatku... SAKIT... JIWA!" Raungan itu menguar bebas mengisi halaman depan, layaknya anak kecil yang dirampas mainannya.
Bodoh, mengapa menangis! Bersusah payah Diero terpejam, membentuk benteng kokoh yaitu ketidak-pedulian. Tidak, jika ia memeluk tubuh itu... tubuhnya yang semakin dilanda sakit jiwa. Zaneta sudah milik orang lain, jika ia mengambil sikap sama saja membunuh perasaannya sendiri.
"DOOON'T LEAVE ME ALONE, DIERO LA MARTIN ... PLEASEEE..." pintaan itu terus meronta pilu. "I don't have anyone to share... my thoughts or feelings with. I'm... I'm alone, stressed, and... highly depressed... hks...."
Bahu kemeja putih itu telah basah, Zaneta kembali menyapukan kasar bulir beningnya pada kain itu. Belasan menit mereka kembali dilanda tanpa bahasa, dagu Zaneta bersandar pada pundak Diero. Menatap kosong pada pagar tinggi beserta tanaman liar yang mulai bertumbuh di sana.
"I'm sorry..." lirihnya. "Sorry... Diero La Martin..." sembari mengeratkan lingkaran lengannya. Wajahnya pun berbelot perlahan, mata merah itu masih memperhatikan siluet yang masih membatu. Lamat sekali, kemudian mendaratkan bibirnya dengan lembut pada pelipis itu diikuti kelopak yang terpejam, dan tubuhnya pun bereaksi dengan tak karuan. Tubuh itu, ya... ia merasakan dengan jelas respon dirinya terhadap tubuh itu kenyamanan.
"Kau... sudah baikan?" tatapan sang pria tetap menyokong lurus.
__ADS_1
"Hm. Bersamamu." Zaneta berhela pelan, merogoh sesuatu pada saku rok sebetisnya. Jemari kokoh itu pun ia gapai, meraba telunjuknya pada garisan vena yang menimbul di punggung tangan itu layaknya anak sungai. Cincin itu pun ia tunjukkan di tangkupan sendiri. "Mi... vuoi ... sposare? (Would you marry me?)"
"Huh?" Diero mengernyit was-was. Tanpa meminta penjelasan lebih, cincin tersebut kembali tersemat pada jari manisnya. Beribu tanda tanya semakin mengerubungi kepala. Baru kali ini ia temukan mempelai wanita yang melamar mempelai pria, emansipasi kah? "Jelaskan. Apa ini?" pintanya serius.
"Cariann tak mau. Tidak muat, katanya."
"Hurting me is your talent, right?"
"Tidak," sergah Zaneta redup. "Sejak awal, cincin ini memang berada di jarimu. Tolong jangan kau pindah tangankan."
Gantian, Diero berhela datar. "Oh, senang mendengarnya." Termenung terlalu lelah juga untuk mengungkit perdebatan.
"Ti amo... Diero...."
Tak ada balasan.
Bersambung ....
__ADS_1
Maaf aku baru up ....