Suami Bayaran

Suami Bayaran
Bab 66


__ADS_3

Mirna terkejut bukan main mendengar ucapan Tama, hal yang tak pernah Mirna bayangkan sebelumnya. Namun, kini seolah menjadi kenyataan buruk yang menimpanya.


"Tidak ..."


"Sebaiknya kita akhiri saja semua ini," ucap Tama dingin. Namun, Mirna menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak bisa terima jika Tama menceraikannya. Kenapa... kenapa suami yang sangat mencintainya ini tiba-tiba menginginkan perceraian. Ada apa ini?


Pasti ada sesuatu yang terjadi, tidak mungkin Tama tiba - tiba meminta cerai padanya. Pasti ada sesuatu yang membuatnya menjadi berubah, Mirna sangat tahu bagaimana perasaan Tama padanya. Tama itu buta, ia pasti akan memberikan apapun yang ia inginkan. Walaupun itu akan menyakitinya ataupun orang-orang terdekatnya, pasti Tama akan mengabulkan keinginannya. Itu karena begitu besar cinta yang Tama miliki untukmu.


"Kenapa... kenapa tiba-tiba kau memintaku untuk bercerai? Apa ada sesuatu? Apa ada yang mengganggumu? Atau apakah kau sudah memiliki perempuan lain sehingga kau ingin bercerai denganku?" tanya Mirna, mendengar penuturan Mirna membuat keputusan Tama semakin berat saja. Ternyata perempuan ini memang tidak pernah menyadari kesalahannya, Tama ingin sekali bicara banyak tentang alasan ia ingin bercerai dengan Mirna. Akan tetapi ia tahan karena kini ia sedang berada di tempat kerja, dan banyak rekan-rekan kerjanya di sana. Ia tidak mau membuat keributan, karena ia sangat tahu bagaimana Mirna yang tidak pernah peduli dimana pun ia berada. Maka ia akan membuat keributan. Tama juga takut jika pemilik bangunan yang sedang ia bangun tiba-tiba datang dan melihat kekacauan yang dibuat oleh Mirna. Tama masih membutuhkan pekerjaan ini, jadi sebaiknya ia menunda pembicaraan ini sampai ia pulang kerja nanti.


"Sebaiknya kau pulang dulu,"


"Tidak! Aku ingin tahu sebenarnya ada masalah apa sampai kau ingin berpisah denganku!" tanya Mirna mulai histeris. Tama mengusap wajahnya kasar, perempuan ini memang sangat sulit dikendalikan. Jika tidak diselesaikan sekarang, keributan pasti akan terjadi sebentar lagi. Perlahan Tama melihat ke arah mandornya, seolah mengerti dengan apa yang Tama inginkan. Ia pun mengangguk dan memberikan ijin pada Tama untuk menyelesaikan masalahnya dengan Mirna. Lagi pula selama ini Tama sudah sangat bekerja keras, dan juga tak pernah mengambil libur. Bahkan, sudah beberapa hari ini ia juga membantu pekerja shift malam. Maka dari itu sang mandor pun memberikan Tama ijin untuk pulang.


Tama yang sudah mulai muak pada Mirna pun, mulai menyeret Istrinya itu untuk pulang. Tama sungguh sangat malu dengan sikap Mirna yang selalu seenaknya. Jika dulu ia selalu memahami apa yang diinginkan oleh Mirna, tapi tidak untuk kali ini. Sudah tidak ada lagi toleransi untuk wanita egois ini.


"Lepas Mas! Kau menyakitiku!"


"Diam!"

__ADS_1


"Masss!!!"


"Diam atau aku lempar kau!" bentak Tama, Mirna semakin dibuat terkejut oleh Tama yang berubah menjadi sangat kasar padanya. Benarkah ini Tama, suami yang sangat mencintainya. Selama ini jangankan marah menaikkan satu oktaf suaranya pun tak pernah ia lakukan. Tapi kini suami yang sangat mencintainya itu tak segan-segan untuk membentaknya di hadapan umum. Mirna sudah tidak mengenali Tama lagi, ia sudah sangat berubah, ketakutan mulai merundung hatinya. Akankah hidupnya berubah setelah ini, jika Tama benar-benar menceraikannya habislah sudah hidupnya. Karena di dunia ini hanyalah Tama yang ia punya.


Setelah berjalan dengan jarak yang tidak terlalu jauh, mereka berdua pun kini telah sampai di sebuah kontrakan sempit tempat yang selama ini mereka tinggali. Dengan kasar Tama melepaskan di tangan Mirna dengan agak mendorongnya, hingga tubuh yang tak mudah lagi itu mulai terhempas dan jatuh.


"Massss ..."


"Berhenti berteriak Mirna!!!" tunjuk Tama.


"Mas, kenapa kau berubah? Kenapa kau menjadi suami yang jahat? Kau sudah menjadi suami yang tidak bertanggung jawab, dengan menelantarkanku dan tanpa memberi uang sepeserpun. Dan kini kau datang serta berbuat kasar kepadaku? Kau ini kenapa sebenarnya?"


"Cukup Mirna! Cukup ... sudah cukup aku mendengar omong kosongmu!"


"Astaga ... apa selama ini kau tidak pernah menyadari kesalahanmu?"


"Kesalahan? Kesalahan yang mana? Memangnya apa yang aku lakukan?"


"Kau bertanya tentang apa yang kau lakukan! Seharusnya kau bertanya tentang apa yang tidak pernah kau lakukan!"

__ADS_1


"Apa maksudmu jangan berbelit-belit!" jawab Mirna yang tidak terima disalahkan oleh Tama.


"Baiklah, aku akan menjabarkan semua kesalahanmu! Kau ... kau adalah wanita yang sangat egois! Kau adalah iblis yang berwujud seorang istri! Kau hanya seorang wanita yang penuh dengan kejahatan yang tak pernah tahu apa itu kebaikan!"


"Bertahun-tahun aku menjadi suamimu, bertahun-tahun aku selalu berusaha membahagiakanmu. Hingga aku menutup mata jika aku mempunyai darah daging yang harus aku perjuangkan! Tapi semua pengorbananku tak pernah berarti di matamu! Selama bertahun-tahun aku mencintaimu dengan segenap hati dan jiwaku, bahkan aku serahkan nyawaku padamu! Tapi tak pernah sekali pun kau melakukan tugasmu sebagai istri untukku!" teriak Tama, ia berteriak, dadanya terasa sesak hingga tak terasa air mata mengalir di wajahnya yang sudah tak lagi muda.


"Mas aku ..."


"Diam kau! Kau tak berhak untuk bicara sekarang! Bukankah kau ingin tahu apa kesalahanmu? Maka dengarkanlah aku," Mirna hanya mampu terdiam saat ini, karena memang apa yang dikatakan oleh Tama semuanya adalah benar. Selama ini ia memang tidak pernah menjadi seorang istri yang baik untuk Tama. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, hingga ia lupa pada suaminya sendiri.


"Aku sudah mengorbankan semuanya Mirna, hidupku, jiwaku, hatiku dan juga nyawaku untukmu! Bahkan aku mengorbankan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku, yaitu putra dan putriku!"


"Oh Tuhan... apa ini adalah balasan dari semua dosa-dosaku. Apa semua ini adalah hukuman yang Kau berikan padaku atas semua kesalahanku. Hingga kau mengutus wanita ini untuk menghancurkan hidupku!" Tama menangis tergugu ia terduduk lemas sambil terus menarik rambutnya, ia merasa sangat frustasi dengan keadaan ini, mengingat semua kesalahan yang telah yang ia perbuat kepada istrinya yang sudah meninggal dan juga kepada anak-anaknya yang tak pernah sedikitpun ia berikan kasih sayangnya.


Sedangkan Mirna ia hanya mampu menangisi kesalahannya, kesalahan yang tak akan pernah Tama maafkan. Sudah cukup semua ini, sudah cukup Tama hidup dalam kebodohannya. Mulai saat ini ia ingin menghabiskan waktunya untuk memperbaiki diri. Dan jika ia beruntung, ia ingin sekali meminta maaf pada Zaira dan Zein. Namun, ia masih belum sanggup bertemu dengan anak-anaknya itu. Meskipun tanpa ia ketahui sebenarnya selama ini Zein selalu mengawasinya diam-diam. Bagaimana pun juga ikatan antara ayah dan anak tidak akan mudah hilang begitu saja.


Seperti saat ini, Zein sebenarnya sedang melihat bagaimana pertengkaran antara Tama dan Mirna. Saat akan mengecek proyek tadi, tak sengaja Zein melihat Tama yang terlihat begitu marah pada Mirna. Ia penasaran dan mengikuti mereka diam-diam. Dan di sinilah Zein, melihat bagaimana frustasinya Tama saat ini. Penyesalan yang begitu besar kini tengah menghantamnya terus menerus hingga dadanya terasa sesak. Hingga pria yang bergelar ayahnya itu kini sedang menangis, tangisan yang penuh penyesalan. Tangisan yang yang sangat menyayat hati, hingga hati Zein pun ikut bersedih melihat keadaan ayahnya.


"Ayah ..."

__ADS_1


****


Kok Mimin sedih ya nulis part ini 🥺🥺🥺😥


__ADS_2