Suami Bayaran

Suami Bayaran
Bab 67


__ADS_3

Melihat Tama tergugu, hancur dan tak berdaya membuat Zein tak kuasa menahan air matanya. Tak kuat lagi melihat keadaan ayahnya ia pun pergi dari kontrakan itu. Zein melangkahkan kakinya dengan cepat, ia ingin segera pergi dari sana. Berharap bayangan Tama yang hancur, hilang dari pikirannya.


Ya Tuhan, selama ini hidup ayahnya sangat menderita dan Zein selalu menutup mata. Apakah amarah yang ada kini telah menutup isi hatinya, kenapa ... kenapa ia jahat pada ayahnya sendiri. Kenapa ia tega membiarkan Tama hidup dalam jurang penyesalan dengan luka yang begitu dalam. Seharusnya sebagai anak ia harus membahagiakan ayahnya, bukan membiarkan ia terluka dan menderita.


Zein tahu Tama memang salah, akan tetapi ia tak punya hak untuk menghukumnya. Semua kesalahan yang telah ia perbuat, itu semua urusan ia dengan Tuhan. Zein hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa, ia tak seharusnya ikut menghukum kesalahan Tama. Dibalik kekecewaannya yang besar, sebenarnya masih tersimpan rasa sayang yang amat besar untuk ayahnya.


Tama adalah bagian dari hidupnya, darahnya mengalir dalam tubuhnya.Ia terlahir dari cinta ayah dan ibunya. Sebelum cinta itu hancur karena kedatangan Mirna, sebelum kehadiran Mirna memporak-porandakan kehidupannya.


Sebelum semua itu terjadi, Tama adalah ayah yang sangat baik, ia sangat menyayanginya. Tama adalah seorang pelindung Zein yang lemah, ia merasa sangat bangga mempunyai ayah yang sangat peduli padanya.


Namun, semuanya sirna setelah kehadiran Mirna. Zein kehilangan semuanya. Kehilangan ibunya dari dunia ini, ia juga kehilangan Tama sebagai sosok pelindungnya. Hanya Zaira yang ia punya sebagai tempat ia bernaung dan berlindung. Di saat mereka masih belum siap menghadapi kerasnya hidup, mereka di tuntut kuat untuk kehidupan yang keras dan tak berbelas kasih. Zaira adalah kekuatan Zein saat itu, hanya Zaira lah satu-satunya dunia yang ia miliki.


Dimana mereka berdua sering kali merasa kesakitan dan juga kelaparan, Tama sama sekali tak mempedulikan anak-anaknya saat itu. Semua yang ia miliki hanyalah untuk Mirna. Perlakuan Tama membuat luka yang menganga dalam hatinya, Luka yang bahkan belum sembuh setelah bertahun-tahun. Hingga akhirnya kedatangan Zayan yang tak pernah mereka sangka-sangka membuat kehidupan mereka berubah segalanya.


Zayan bagaikan malaikat penolong bagi kehidupannya yang terasa hancur, Zayan yang terlihat gila namun sangat penyayang. Ia sangat mencintai Zaira kakaknya, dan sangat menyayangi dirinya layaknya saudara kandung. Hingga untuk sesaat Zein melupakan rasa sakit yang ia rasakan selama ini.


Akan tetapi, tiba - tiba luka hidup yang baru saja ia tutupi itu kembali di buka oleh kehadiran Tama. Yang awalnya Zein pikir, jika ia telah berubah menjadi lebih baik dan mereka akan berkumpul lagi seperti dulu. Namun, nyatanya ia datang hanya untuk menghancurkan hidup Zein. Dengan menjualnya dan dijadikan pengantin pengganti, seorang gadis yang tak pernah Zein kenal. Meskipun sekarang gadis yang telah ia nikahi itu menjadi bagian dari hati dan jiwanya. Tapi tetap saja, luka yang Tama berikan padanya membuat rasa sayang dan peduli yang baru saja tumbuh kembali, menghilang begitu saja.

__ADS_1


Namun, saat sekarang ia melihat hidup Tama yang hancur. Hatinya terketuk kembali untuk melihat ayahnya. Sebagai anak rasa itu tak akan pernah hilang seluruhnya. Rasa cinta dan sayang kepada ayahnya masihlah ada dan tetap utuh, nyatanya rasa itu tak pernah hilang dan hanya tertutup oleh rasa marah dan kecewa saja. Rasa sayang pada ayahnya masihlah sangat besar dan masih tetap utuh dan tersimpan di sudut hatinya yang paling dalam.


*


*


*


Di kontrakan yang sempit itu, terlihat dua orang yang tengah menangisi hidupnya yang penuh dengan penyesalan. Penyesalan yang tengah menghantam hati dan pikirannya hingga hancur berkeping. Sunyi dan sepi yang terdengar hanyalah isakan tangis dari keduanya. Hingga malam datang keduanya masih diam dan menangisi kehidupan yang entah bagaimana kedepannya.


Tama bangkit dan kemudian melangkahkan kakinya pergi keluar dari sana, Mirna hanya mampu melihatnya tanpa berani menghentikannya. Ia bahkan tak berani memanggil Tama hanya untuk melihat wajahnya, yang mungkin akan ia lihat untuk terakhir kalinya. Ya ... Mirna memutuskan untuk pergi dari hidup Tama dan akan memulai kembali kehidupannya sendiri. Meskipun ia tak tahu apakah ia akan sanggup hidup atau tidak tanpa Tama.


Tibalah Tama di pinggir sebuah danau buatan yang berada di pinggir kota, tempat yang sangat tenang hanya terdengar suara hewan malam yang terdengar seperti nyanyian sedih di telinganya.


Tama duduk di pinggir danau itu, sesekali ia mengusap air matanya yang tanpa permisi mengalir begitu saja di pipinya. Hingga ia harus melihat ke arah langit yang gelap untuk menghentikan air mata yang terus-menerus ingin membasahi wajahnya. Hanya kesunyian yang menemani Tama saat ini, hanya langit gelap yang di penuhi oleh taburan bintang dan cahaya bulan yang meneranginya di sisi danau itu, dan menemani sepinya.


Sesak sekali rasanya, menghadapi kehidupan yang menyakitkan ini. Tama terdiam sambil membayangkan betapa banyaknya kesalahan yang telah ia perbuat. Hingga ada suara seseorang yang membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Ini sudah malam, kenapa duduk sendiri di tempat seperti ini. Apa kau tidak takut sakit?" tanya Zein dengan suara bergetar dan tatapan yang nanar. Bahkan kini ia tak bisa melihat wajah ayahnya dengan jelas karena terhalang oleh air matanya.


"Z-zein ... " Tama benar-benar terkejut melihat Zein yang tiba-tiba ada di depannya. Zein yang tampan dan gagah, anaknya ini terlihat menjadi orang yang sukses. Tentu saja Zein sukses, ia berada di tangan yang tepat. Untung lah bukan Tama yang membesarkannya, karena mungkin ia tak akan mampu membuat Zein sehebat sekarang.


"Apa yang Ayah lakukan malam-malam begini?"


Mendengar Zein memanggilnya Ayah, hati Tama kembali tersayat. Ternyata putranya ini masih mau memanggilnya dengan sebutan Ayah. Tama menundukan kepalanya merasa malu pada putranya itu. Hingga aor mata yang baru saja berhenti itu pun mengalir lagi.


Cukup ... Hati Zein hancur melihat ayahnya, ia tak kuat lagi menahan kesedihannya dan langsung menghampiri dan memeluk tubuh yang dulu kokoh namun kini mulai renta.


"Zein ...maafkan Ayah Zein ...maafkan Ayah," Tama menangis tersedu-sedu saat memeluk anak yang selama bertahun-tahun ini tak pernah ia temui. Rasa haru dan juga malu menyusup dalam hatinya. Tama terharu saat anaknya yang sudah sering ia lukai, kini memeluknya dan memanggilnya ayah.


"Maafkan Ayah Zein ..."


Zein yang merasa hancur tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya mampu memeluk Tama dengan air mata yang terus membasahi wajahnya.


****

__ADS_1


Sejatinya setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, akan tetapi bukan berarti karena suatu kesalahan kita harus membenci seseorang. Dan hanya hati yang lapang yang mampu menghilangkan rasa amarah dan kecewa, yang jika tidak dihilangkan maka rasa itu akan menjadi benci. Saling menyayangi dan peduli adalah obat luka hati ❤️❤️❤️


__ADS_2