Suami Bayaran

Suami Bayaran
Bab 68


__ADS_3

"Maafkan Ayah Zein ..."


Zein yang merasa hancur tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya mampu memeluk Tama dengan air mata yang terus membasahi wajahnya.


"Maafkan Ayah ..." Tama menangis tergugu sambil memeluk tubuh Zein, sungguh penyesalan yang ia rasakan tengah menghantam hatinya, hingga meluluhkan lantahkan jiwanya yang terasa hancur berantakan. Entah bagaimana Tama melukiskan perasaan apa yang ada dalam hatinya.


Hanya rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Seandainya waktu bisa terulang kembali, ingin rasanya Tama kembali ke masa di masa dimana saat ia masih bisa berkumpul dengan anak - anaknya. Akan Tama berikan kasih sayangnya dan seluruh hidupnya untuk mereka. Sayangnya semua itu tak akan mungkin bisa terjadi. Andaikan Tama bisa memperbaiki semuanya. Itu tidak akan membuat luka yang sudah tertancap dalam bisa sembuh begitu saja. Pasti akan ada bekas luka yang masih terlihat dan terasa seumur hidupnya.


Tangisan Tama semakin dalam, membuat hati Zein tersayat begitu dalam. Tidak, Zein tidak menyalakan ayahnya. Semua jalan hidup yang ia jalani adalah sudah takdir dari yang Maha Kuasa. Ia tak akan bisa merubah suratan hidupnya yang sudah tertulis. Namun, ia masih bisa memperbaikinya bukan. Ya ... Zein akan memperbaiki kehidupannya mulai saat ini. Ia akan menerima Tama dan menyayanginya, Zein tak pernah membenci Tama. Ia hanya kecewa dan terluka, tapi melihat ayahnya yang terluka jauh lebih dalam dari apa yang ia rasakan. Membuat Zein membuka hatinya untuk memaafkan Tama, dan memulai kembali kehidupannya untuk menjadi lebih baik.


Tak henti-hentinya Tama mengucapkan kata maaf pada Zein. Namun, bibir Zein terasa kelu walaupun hanya untuk meminta ayahnya menghentikan ucapannya. Dadanya terasa sesak hingga ia tak mampu mengeluarkan suara.


"Zein .. " panggil Tama dan mulai melepaskan pelukannya, wajah yang tak lagi muda itu terlihat sangat kacau.


"Iya .. " jawab Zein sambil menundukkan kepalanya, dengan bulir bening terus membasahi pipinya. Melihat putranya terus mengeluarkan air mata, Tama menghapus air mata yang membasahi pipi putranya yang sangat tampan ini.


"Jangan menangis Zein, maafkan Ayah," usapan tangan Tama di wajahnya, menandakan betapa kerasnya hidup Tama selama ini. Terdapat banyak luka di sana. Membuat Zein semakin tidak bisa menahan air matanya. Betapa jahatnya ia selama ini, karena sudah membiarkan ayahnya menderita dan bahkan tak mau melihatnya sedikit pun.


"Sampai kapan Ayah akan meminta maaf?" tanya Zein yang mengusap air matanya yang terus keluar tanpa permisi.


"Sampai kau memaafkan Ayah," jawab Tama lemah.


"Ayah ..."


"Zein ... mungkin kata maaf dari Ayah tidak akan mengubah semuanya. Akan tetapi, setidaknya jika kau memaafkan Ayah.. Hidup Ayah akan sedikit tenang. Meskipun Ayah tidak bisa mengubah waktu dan mengembalikan semuanya. Tapi sungguh, Ayah minta maaf padamu Nak. Maafkan Ayahmu yang penuh dosa ini, maafkan Ayah yang tak pernah memberikan kehidupan yang baik untukmu dan kakakmu. Maafkan Ayah Nak ... maafkan Ayah,"

__ADS_1


"Hentikan Ayah, sudah cukup kau meminta maaf padaku. Aku pun tak lebih baik darimu. Aku pun sama bersalah padamu, karena sudah membiarkan Ayah hidup menderita selama ini. Aku menutup mata dan hatiku selama ini, aku anak yang penuh dosa padamu. Maafkan aku Ayah ..." Zein kembali memeluk tubuh kurus itu.


Tuhan ... hati Zein semakin tercabik- cabik saat memeluk tubuh yang selama ini hidup dalam kesusahan. Bagaimana ia bisa sangat tega pada Ayah kandungnya sendiri. Padahal selama ini Aliana selalu memberinya nasihat agar Zein memaafkan ayahnya dan melupakan semua yang telah terjadi. Tapi Zein terlalu keras kepala dan Tidak mau mendengarkan ucapan istrinya. Dan kini ia merasa sangat menyesal karena tidak pernah mendengarkan ucapan istrinya.


*


*


*


Di kediaman Guntara


Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa sangat sedih. Air matanya tiba-tiba mengalir di pipi mulusnya. Zayan baru saja pulang bekerja, saat tiba di kamarnya. Ia melihat Zaira yang sedang menangis sendirian di pinggir ranjang sambil sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir, melihat wanita yang sangat ia cintai meneteskan air mata. Zayan pun langsung menghampiri Zaira. Ia khawatir terjadi sesuatu padanya, karena tiba-tiba ia menangis. Tak seperti biasanya.


"Zaira, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Zayan sambil memeluk tubuh mungil itu dan kemudian mendekapnya erat. Namun, Zaira hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Zayan menghela napasnya, sudah bertahun-tahun menikah. Tapi Zaira selalu tidak pernah mau membagi kesedihan dengannya.


"Tidak Zayan, kau adalah suami yang sangat baik. Denganmu aku merasa sangat dicintai, dan aku merasa menjadi seorang perempuan yang sangat bahagia. Begitu juga dengan keluargamu, mereka semua sangat baik. Bukan hanya padaku, tapi juga pada adikku. Kalian semua sangat istimewa di hatiku,"


"Lantas apa yang membuatmu sangat bersedih?"


"Ayahku ..."


"Ayahmu, kenapa dia?" ini sangat aneh, sudah sangat lama sekali Zaira tak pernah menyebutkan ayahnya. Dan Zayan pikir selama ini, jika Zaira baik-baik saja. Namun, ternyata Zayan salah, istrinya ini tidak baik-baik saja.


Salah Zayan yang tak pernah bertanya, bagaimana pun juga Zaira pasti sangat merindukan ayahnya. Hubungan ayah dan anak tak mungkin bisa dipisahkan begitu saja.

__ADS_1


"Apa kau merindukannya?"


"Sangat ... aku sangat merindukannya Zayan. Selama ini aku tak pernah mencari tahu keberadaanya. Seharusnya sebagai anak aku menjenguknya, tapi karena rasa kecewaku yang sangat besar padanya aku sampai melupakannya. Aku anak yang jahat Zayan, aku anak yang tak peduli pada ayahnya sendiri." Zaira terus menangis, membuat hati Zayan ikut sedih.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak bersedih lagi?"


"Cari dia Zayan, cari ayahku sampai ketemu. Hatiku tidak tenang, aku sangat ingin bertemu dengannya,"


"Iya sayang, aku akan mencarinya untukmu, asal kau tidaka menangis lagi aku akan mencarinya." jawab Zayan sambil terus memeluk Zaira.


*


*


*


"Zein kau mau membawa ayah kemana?" tanya Tama, kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Kita pulang,"


"Pulang? Pulang kemana, ini bukan arah menuju tempat kerja ayah,"


"Kita akan pulang ke rumahku,"


"Tidak Zein, jangan bawa Ayah pulang ke rumahmu," ucapnya sedih, sungguh Tama merasa sangat tidak pantas jika harus tinggal bersama dengan Zein di rumahnya. Apa yang akan orang bicarakan nanti, dan Aliana ya ... apakah Aliana akan menerimanya. Menerima Tama yang terlihat seperti seorang gelandangan. Aliana pasti malu mempunyai mertua sepertinya.

__ADS_1


" Ayah tidak usah khawatir, aku tahu apa yang ayah pikirkan. Tenang saja Aliana bukanlah orang yang seperti ayah pikirkan. Dia wanita yang baik, terima kasih karena berkat Ayah aku bisa mempunyai istri yang sangat baik seperti Aliana.


Ya ... semua yang terjadi bagaikan ikatan benang kusut yang masih saling berhubungan satu sama lainnya. Zein memang sudah ditakdirkan berjodoh dengan Aliana. Namun, mereka berdua bertemu dengan cara yang tidak pernah ia sangka . Sebuah perjalanan cinta yang tak pernah mereka duga sebelumnya.


__ADS_2