
Hari terus berganti dan minggu pun terus berlalu, seiring berjalannya waktu Rosa mulai bisa menerima keadaan. Tanpa hadirnya Bayu, kehidupannya tak segelap yang ia bayangkan. Justru ia merasa kini hidupnya bahagia, ringan seolah tanpa beban. Tak ada lagi yang selalu menceramahinya setiap hari, dan tak ada lagi yang mengaturnya untuk begini dan begitu. Dan untuk masalah harta, tentu harta mereka di bagi menjadi dua. Karena harta yang mereka miliki adalah hasil dari usaha mereka bersama.
Dan bagaimana dengan Arini? Gadis itu nampak sekali kecewa, karena harta Bayu harus dibagi menjadi dua. Belum lagi, Satya sebagai pewaris utama yang memegang saham lebih besar. Karena lima puluh persen saham atas nama Satya, sedangkan nama Bayu dan Rosa masing-masing memiliki dua puluh lima persen saja.
Untung saja dulu Rosa memasukkan nama Satya sebagai pemegang saham terbesar, jadi ia merasa lega karena hasil jerih payahnya selama ini bisa dinikmati oleh anak kesayangannya dan juga dirinya tentunya.
Dan saat ini untuk mengisi kekosongan waktunya, Rosa ingin membuka sebuah Cafe. Sebuah Cafe khusus anak muda yang akan ia dirikan dekat dengan sebuah Universitas. Menurutnya lokasi itu sangatlah strategis untuk dijadikan tempat usaha.
Dari dulu Rosa adalah seorang wanita karier yang sukses di usia mudanya, ia pintar, cantik dan juga sangat berbakat. Untuk itulah usahanya yang ia jalankan dengan Bayu berkembang dengan sangat pesat. Namun, sejak Satya lahir ia memutuskan untuk rehat dan berhenti dari dunia bisnis dan menyerahkan semuanya pada Bayu. Karena ia ingin fokus membesarkan Satya, putranya yang sangat ia sayangi.
Hingga akhirnya perusahaan yang mereka bangun berkembang dengan sangat cepat. Dan tentu saja, Rosa pun tak lepas tangan begitu saja. Setelah Satya beranjak dewasa, ia pun mulai turun kembali untuk memulai bisnisnya. Namun, dengan batasan waktu tertentu. Karena ia tetap harus memperhatikan putranya Satya. Ia tak mau lepas tangan begitu saja pada putranya ini, meskipun ia sudah dewasa.
"Jadi bagaimana Mah, tentang pembangunan Cafe Mamah?" tanya Satya. Rosa yang sedang menikmati teh hangatnya, kemudian menyimpan sejenak cangkir yang sedang ia pegang.
"Mamah sedang membutuhkan orang yang sangat mengerti tentang desain pembangunan, karena Mamah ingin Cafe Mamah itu terlihat berbeda. Jadi unik dan sangat nyaman untuk anak-anak muda," jawab Rosa.
"Sepertinya aku mengenal orang yang cocok," ucap Mawar.
"Oh ya, siapa?" tanya Rosa antusias.
"Bos ku, lebih tepatnya ayahnya. Dia sangat pandai untuk hal itu, pembangunan hotel Zein saja dibantu oleh ayahnya. Karena saat itu sempat ada kendala di pembangunan, dan untungnya Tuan Tama sangat membantu. Aku tidak menyangka jika ternyata ia sangat pintar," jawab Mawar.
"Bisa kau antarkan Mamah?"
"Tentu,"
"Kau boleh pergi asal aku menemanimu," ucap Satya.
"Memangnya kau tidak ada pekerjaan?" tanya Mawar, karena setahu Mawar akhir-akhir ini suaminya sangat sibuk.
"Aku tidak akan membiarkan istriku selingkuh!" ucap pangeran kodok tanpa saringan.
"Apa kau bilang? Siapa yang akan selingkuh? Meskipun suamiku pangeran kodok yang langka, aku tidak akan pernah selingkuh dengan orang lain!"
"Aku hanya takut Bunga Kambojaku akan meninggalkanku," ucapnya manja.
"Ya ampun, sebenarnya kau sangat manis. Tapi kau juga sangat menyebalkan. Lain kali jaga bicaramu, atau pabrik aku tutup!" ancam Mawar.
__ADS_1
"Oke ...oke," ucap Satya langsung menutup mulutnya.
Jujur saja ia sangat bahagia melihat hubungan anak dan menantunya yang sangat saling mencintai, meskipun mereka sering kali adu mulut. Tapi itu semua menjadi hiburan tersendiri untuk Rosa.
*
*
*
Malam ini Aliana, merasa sangat pusing mungkin ia kelelahan karena hari ini ia pergi ke butik. Dan malam ini, berujung Zein memberikannya ceramah panjang kali lebar.
"Aku sudah bilang jangan pergi ke butik, tapi kau sangat nakal!" Zein terus mengomel sambil memeluk Aliana dan membelainya dengan lembut.
"Hari ini terakhir aku pergi kesana, Zein. Karena ada yang ingin aku ambil,"
"Ada yang ingin kau ambil tapi kau bekerja juga, jika besok kau pergi ke sana lagi. Aku akan menutup butikmu!" tegas Zein.
"Iya ... iya cerewet!"
"Zein ..."
"Aku mau makan siomay,"
"Apa!"
"Kenapa kau terkejut seperti itu, aku mau makan siomay bukan makan kapal pesiar!" sentak Aliana kesal.
"Astaga Al, bicaralah pelan-pelan. Aku takut anak kita anak kita terkejut di sana," ucap Zein.
"Habisnya kau menyebalkan,"
Saat sedang adu mulut di kamar, terdengar ada suara ketukan pintu. Zein pun langsung keluar dan melihat ternyata Tama yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ayah, ada apa?" tanya Zein.
"Ayah mau pinjam motor sebentar Zein, Ayah mau keluar mau membeli obat, obat Ayah ternyata sudah habis," ucap Tama.
__ADS_1
"Oh sebentar," Zein pun kemudian pergi mengambil kunci motor dan menyerahkannya pada Tama.
"Al, Ayah mau keluar. Ingin Ayah belikan apa?" tanya Tama. Semenjak tahu Aliana hamil Tama memang sangat perhatian pada menantunya ini. Ia sangat tahu bagaimana ibu hamil, yang selalu menginginkan sesuatu.
"Aku mau siomay Ayah, Zein tidak mau membelinya tadi," rengek Aliana.
"Aku tidak begitu, baru saja aku akan berangkat,"
"Sudah Zein, biar Ayah saja yang membelikannya. Karena Ayah juga mau keluar,"
"Tapi ..."
"Istrimu sedang hamil, jangan ditinggalkan sendirian," Zein pun mengerti, ia akan sangat khawatir jika membiarkan Aliana sendirian di rumah. Dan jika diajak, keadaannya pun sedang sangat tidak stabil. Jadi akhirnya Tama pun akhirnya pergi untuk pergi ke apotek.
Setelah kepergian Mirna, hidup Tama terasa sangat tenang. Seolah ia baru saja melepaskan beban yang sangat berat. Akan tetapi, sebagai seorang pria, tentu ia merasa kesepian. Tama masih muda, dan juga masih terlihat sangat tampan. Apalagi sekarang penampilannya jauh lebih baik daripada dulu saat masih bersama dengan Mirna. Membuat Tama semakin terlihat tampan dan juga terlihat masih muda.
Tak menunggu waktu lama akhirnya Tama pun sampai di apotek, dan kemudian membeli obat yang ingin dia beli. Setelah selesai membeli obat ia pun kemudian pergi mencari penjual siomay, untuk membeli pesanan menantunya.
*
*
*
Keesokan harinya, Rosa dan Mawar pun datang mengunjungi Tama untuk membicarakan pekerjaan. Setelah sebelumnya ia berbicara pada Zein, dan Zein pun mengijinkannya.
Mereka membuat janji temu di sebuah restoran untuk membicarakan masalah pekerjaan ini. Rosa, Mawar dan juga Satya sudah datang duluan ke restoran itu . Itu karena Rosa yang sangat semangat untuk membangun usahanya yang baru .
Sambil menunggu kedatangan Tama mereka bertiga pun mengobrol sejenak. Sampai ada suara seseorang yang membuyarkan obrolan mereka bertiga..
"Maaf, apa kalian sudah lama menunggu?" sapanya.
"Tuan Tama," jawab Mawar tersenyum ramah,sedangkan Rosa ia sangat terkejut saat melihat Tama. Ia pikir jika Tama adalah seorang pria tua yang jauh dari kata muda nyatanya ia adalah seorang pria tampan, bahkan jauh lebih tampan dibandingkan dengan Bayu.
'Oh ya ampun, kenapa menantuku ini tidak bilang jika Tuan Tama ini masih mudah dan tampan,' batin Rosa.
***
__ADS_1
Maafkan terlambat up ya, karena kesibukan dunia nyata gak bisa ditinggalkan 😌