
Satya sudah tidak sabar ingin memberitahukan Mawar jika hukumannya kini sudah dicabut, dan ia kini bukan lagi petugas kebersihan. Mawar pasti bangga padanya. Karena berkat didikannya yang berhasil, hukumannya kini telah di cabut. Karena Satya dinilai sudah berhasil untuk menjadi seorang yang Bayu harapkan.
Akan tetapi Mawar tidak mengangkat panggilannya, mungkin ia sedang sibuk bekerja jadi Mawar tidak mengangkat panggilan telepon dari Satya. Tapi sudahlah, biar ini semua menjadi kejutan untuknya nanti untuk Mawar pikir Satya. Yang terpenting sekarang adalah adalah ia akan pulang dulu ke kontrakan miliknya, Satya juga akan membereskan barang-barangnya yang penting dan barang milik Mawar. Rencananya ia akan mengajak Mawar pindah dari kontrakan itu, karena sekarang uang Satya sudah banyak. Bayu memberikan lagi ATM miliknya yang dulu sering digunakan oleh Satya.
Pangeran kodok sangat bahagia hari ini, ia bahkan mengingat - mengingat jika semalam ia bermimpi apa. Hingga pagi ini ia mendapatkan keberuntungan yang luar biasa.
Sesampainya di kontrakan Satya langsung membereskan barang-barangnya yang hanya sedikit. Sambil beres-beres ia melihat ke sekeliling dimana selama beberapa bulan ini ia tinggal di tempat yang sempit ini bersama dengan Mawar. Tempat yang membuatnya menjadi lebih kuat dari sebelumnya, tempat yang selama beberapa bulan terakhir ini memberikan ia banyak pelajaran. Dimana terkadang Mawar selalu memarahinya dan menyuruhnya untuk mencuci. Dan Mawar tidak akan memasak, jika Satya tidak mau membantunya membereskan pekerjaan rumah.
Mengingat itu semua, Satya tertawa. Karena sering kali ia bertingkah konyol dan membuat kesabaran Mawar yang setipis itu habis. Ia akan diteriaki dan juga di marahi olehnya. Anehnya, semua yang dilakukan Mawar padanya sama sekali tidak membuatnya marah. Akan tetapi ia selalu saja menurut dengan apa yang diucapkan oleh Mawar. Satya tertawa mengenang itu semua.
*
*
*
Di rumahnya Aliana sedang mengomel pada Zein, karena melarangnya pergi ke butik. Itu karena akhir - akhir ini kesehatan Aliana kurang baik, wajahnya juga pucat. Itu karena Aliana yang sedang hamil dan sering kelelahan, membuat daya tahan tubuhnya menurun.
"Zein, ada masalah di butik aku kesana sebentar ya dan langsung pulang lagi," rengek Aliana.
"Tidak! Sekali aku bilang tidak tetap tidak, Al kau sakit dan kau sedang tidak baik-baik saja. Dan kau jangan lupa jika di dalam perutmu ini ada anak kita yang harus Kau jaga. Jangan hanya karena pekerjaan kau lupakan kesehatanmu dan juga kesehatan bayi kita, au tidak ingin terjadi sesuatu kan pada anak kita kan?"
"Tentu saja tidak, aku sangat menyayangi bayi kita Zein," Aliana menundukkan kepalanya ia merasa bersalah karena ia telah egois dan hanya memikirkan pekerjaan saja. Padahal di dalam dirinya kini ada buah cintanya yang telah tumbuh didalam sana.
Zein pun kemudian memeluk tubuh istrinya dan mendekapnya, ia tahu jika saat ini Aliana sedang sedih. "Maafkan aku Al, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih, tapi aku begini karena aku sangat menghawatirkanmu,"
"Iya Zein aku mengerti, maaf ya karena aku juga egois." Aliana pun membalas pelukan suaminya dan menyadarkan kepalanya di dada bidang Zein. Tempatnya yang paling nyaman untuk bersandar.
"Aku mencintaimu," ucap Zein.
"Aku juga sangaaaatttt mencintai suamiku yang tampan." Aliana malah semakin erat memeluk tubuh Zein.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang aku harus bekerja,"
"Tidak, kau jangan pergi bekerja,"
"Kenapa?"
"Karena aku ingin memelukmu seperti ini terus,"
"Ini sudah sangat siang dan kau malah terus memelukku,"
"Memangnya aku tidak boleh memeluk suamiku sendiri,"
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi kau tahu kan, kalau aku tidak mau hanya sekedar dipeluk saja. Aku suka melakukan lebih dari itu, dengan menjenguk anak kita misalnya," bisik Zein dan kemudian menggigit leher Aliana, hingga perempuan cantik itu memekik karena terkejut.
"Zein ... kau ini sangat menyebalkan!" Aliana melepaskan pelukan Zein dan memukul dada Zein. Hingga Zein tertawa.
Mereka berdua pun kemudian turun ke bawah, dan melihat Tama sedang memasak, membuat sarapan untuk mereka bertiga.
"Oh maaf Nak, Ayah hanya membuat sarapan untuk kalian berdua. Bukan maksud Ayah lancang tapi ... "
"Bukan itu maksudku Yah, maafkan aku. Aku lupa jika hari ini art libur. Ayah pasti lapar dan aku seharusnya aku menyiapkan makanan untuk Ayah," Tama tersenyum. Kenapa putranya ini baik sekali, padahal dulu sebagai seorang ayah Tama tidak pernah mempedulikan jika anak-anaknya sudah makan atau belum.
"Tidak apa-apa Nak, ayo makan. ini sudah siang kalian pasti sudah lapar,"
Zein dan Aliana pun kemudian duduk di meja makan untuk sarapan yang sudah terlewat. Aliana sebenarnya merasa malu, karena mertuanya yang memasak untuk sarapan bukan dirinya.
Mereka pun mulai sarapan, dan menikmati makanan buatan Tama yang ternyata jauh lebih enak dari buatannya.
"Ah ya ampun, ternyata masakan ayah sangat enak. Aku jadi malu sudah menyiapkan makanan yang tidak manusiawi semalam," ucap Aliana, dan ucapannya itu sukses membuat ayah dan anak itu menggelengkan kepalanya dan tertawa. Karena mereka memang sebenarnya makanan buatan Aliana itu masih jauh dari kata lezat, namun masih layak untuk dimakan.
"Zein, apa kau bisa membantu Ayah?"
__ADS_1
"Membantu apa? Aku akan membantu Ayah jika aku bisa," jawab Zein.
"Ayah mau ikut menelepon mandor Ayah, jika hari ini Ayah akan minta libur bekerja. Tapi Ayah janji jika besok Ayah akan bekerja lagi di sana,"
"Mulai hari ini Ayah tidak perlu lagi bekerja di sana, aku sudah memintanya untuk tidak mempekerjakan Ayah lagi sebagai pegawai bangunan,"
"Apa?" Lalu apa yang akan Ayah lakukan jika Ayah tidak bekerja,"
"Ayah pasti istirahatlah dulu sementara waktu," ucap Zein.
"Benar sebaiknya Ayah istirahat saja dulu," sambung Aliana.
"Tapi ..."
"Jika Ayah bosan di rumah, Ayah bisa main ke proyek. Tapi tidak untuk bekerja," ucap Zein, ia tahu jika di proyek itu Ayahnya mendapatkan banyak teman dan bisa bercengkrama dengan yang lainnya.
"Terima kasih Nak,"
*
*
"Apa! jadi hukumanmu sudah berakhir?" tanya Mawar yang terkejut karena mendengar Satya membicarakan masa hukumannya yang sudah selesai. Tadi Mawar melihat ponselnya yang ia mode senyap. Dan ia terkejut saat melihat panggilan dari Satya yang sangat banyak. Ia khawatir dan akhirnya menghubungi kembali suaminya karena takut terjadi sesuatu.
"Iya, dan mulai sekarang kita tidak usah mengontrak lagi, kita bisa tinggal di rumahku bersama Mama dan Papa ku," ucap Satya girang.
"Tidak mau!" tolak Mawar.
"Kenapa kau tidak mau, rumahku besar dan tempat tidurnya juga nyaman,"
"Oh ya ampun, apa kau ingin melihatku dan mamahmu bergulat setiap hari? Kau sangat tahu jika Ratu Kodok sangat tidak menyukaiku!"
__ADS_1
"Astaga aku lupa ..."