
Kehidupan Zaira, Zein dan juga Tama kini semakin membaik, mereka kini menjadi sebuah keluarga yang bahagia. Meskipun masa - masa dulu tak akan pernah bisa kembali, tetapi mereka berusaha untuk membuat masa depan menjadi lebih baik. Karena hidup dalam kubangan penyesalan masa lalu tak akan pernah ada habisnya. Jadi, kini bukan saatnya mereka hidup dalam penyesalan. Saatnya merajut kebahagiaan dalam hidup ini.
Kehamilan Aliana kini sudah menginjak usia empat bulan, ia tak pernah mengidam hal-hal aneh. Hanya beberapa makanan yang masuk di akal yang ia inginkan. Jujur saja awalnya Zein takut jika Istrinya yang aneh ini akan mengidam hal-hal aneh yang di luar nalar. Tapi ternyata tidak, ia sangat bersyukur akan hal itu.
Zein merasa sangat takut karena ia masih ingat saat istri kedua planet hamil, jika saat hamil Moza Jupiter yang kewalahan karena saat itu Zein mendengar jika Moza mengidam kapal selam. Entah seperti apa, selama hidupnya Zein belum pernah melihat manusia memakan kapal selam. Apalagi perempuan kecil seperti Moza, tak pernah terbayangkan jika perempuan kecil itu memakan kapal selam yang sangat besar.
Zein sempat berpikir berapa jumlah banyak minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng sebuah kapal selam, karena katanya saat itu Moza menginginkan jika kapal selamnya krispi. Astaga Zein sampai bergidik membayangkannya. Tanpa tahu apa yang sebenarnya Moza inginkan, Zein hanya tahu cerita itu setengah jalan saja. Karena ia tak tahu lagi bagaimana kelanjutannya dari Moza yang menginginkan makan kapal selam. Untung saja Istrinya ini tidak minta gulai pesawat, jika itu sampai terjadi Zein mungkin sudah gila duluan. Karena harus memasak pesawat.
Belum lagi kehamilan Alma, yang membuat Venus terlihat terganggu penciumannya hingga pernah pingsan. Astaga Zein tidak mau pingsan, bahkan sampai di gendong orang itu sangat memalukan pikirnya.
Pikirannya jadi menerawang saat mengingat Alex menyeret tubuh Venus yang tinggi dan besar. Zein pun jadi membayangkan bagaimana jika ia pingsan. Pasti kakak iparnya yang setengah waras akan memasukkannya ke dalam troli, karena ia tidak mungkin mau repot-repot menyeretnya seperti yang Alex dan Jupiter yang menyeret Venus saat itu.
Bagaimana Zein tahu kejadian itu, tentu saja mereka tahu karena makhluk - makhluk luar angkasa itu selalu bercerita pada kakak iparnya yang setengah ons. Dan ia hanya menjadi pendengar setia saja. Zein masih cukup waras untuk bergabung dengan mereka, untuk itu ia hanya mampu mengusap tengkuknya saat mendengar mereka bercerita. Kenapa ia mengusap tengkuknya? Karena cerita mereka selalu membuat Zein merinding.
Akan tetapi mungkin akan lain ceritanya, jika Aliana yang mendengar cerita mereka. Karena otak istrinya sama gesreknya dengan mereka.
__ADS_1
Perut Aliana sudah mulai terlihat buncit, hanya sedikit tapi itu terlihat sangat lucu. Zein menjadi gemas saat melihatnya, apalagi sejak hamil Zein merasa jika istrinya terlihat cantik berkali-kali lipat.
Dan sekarang Aliana pun sudah jarang ke butiknya, karena Zein melarang ia untuk bekerja. Itu juga karena sejak hamil Aliana mengeluh jika ia mudah lelah. Untuk itu ia hanya, diam saja di rumah. Dan mendesain beberapa pakaian setelah itu ia akan mengirimkannya pada Anita asistentnya.
Dan untuk Tama, ia kini ikut bekerja dengan Zein di kantornya. Tama merasa jenuh jika ia hanya diam saja di rumah. Untuk itu ia ingin bekerja, dan Zein pun memberikan pekerjaan di kantornya sesuai dengan keahlian Tama.
Pagi ini Aliana seperti biasa menyiapkan pakaian Zein untuk bekerja, istrinya yang cantik ini hanya memakai kaos oblong dan hot pant, dengan mencepol rambutnya sehingga terlihat sangat cantik di mata Zein.
Aliana yang sedang memasangkan dasi pada Zein pun langsung menariknya, agar tubuhnya merapat pada tubuh kokohnya.
"Bagaimana bisa aku bekerja, jika istriku secantik ini. Aku jadi ingin mengurungmu di kamar bersamaku," ucap Zein dan mengecup bibir merah muda yang sejak tadi menggodanya.
"Zein..." tapi bukannya berhenti kini Zein malah bermain - main di leher jenjang Istrinya dan kemudian menggigitnya.
"Ya ampun kau memang sangat nakal Zein," Aliana menepuk pundak Zein dengan keras karena ia terkejut lehernya digigit oleh suaminya. Zein hanya tertawa saja melihat istrinya yang lucu ini.
__ADS_1
"Oh ya apa Ayah sudah berangkat?" tanya Zein.
"Kau lupa ya, jika Ayah menginap di rumahnya Kak Zaira," jawab Aliana. Hingga senyum Zein semakin mengembang mendengarnya.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu," Zein langsung menggendong tubuh mungil Aliana dan membawanya ke ranjang dan membaringkannya perlahan.
Aliana sangat tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya ini, apalagi jika bukan jatah pagi. Karena semalam ia langsung tidur dan tidak memeriksa keadaan calon bayinya.
Zein mengusap perut Aliana perlahan, menyingkapkannya ke atas hingga perut mulus yang sedikit membuncit itu terlihat. ia pun menundukan kepalanya dan menciuminya.
"Apa kabar, anak Papa kau pasti merindukan Papa kan?" ucapnya dan kemudian menarik pakaian Aliana hingga terbuka dan menyisakan pelindung bagian tubuh kesukaannya Zein.
Tanpa berlama-lama, Zein pun langsung mencium bibir itu dengan sangat menuntut. Tangannya pun tak ingin diam dan langsung melepaskan pengait yang menjadi penghalangnya.
Memainkan benda kenyal itu dengan kedua tangannya, setelah puas menciumi bibir Aliana, bibirnya kini bermain-main di lehernya dan kemudian turun ke bawah dan mengecup benda kenyal itu dan memainkannya dengan bibirnya. Hingga lenguhan keluar dari bibir mungil Aliana.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya menghabiskan pagi mereka dengan memadu kasih, dan saling memberikan kehangatan cinta yang mereka miliki. Kehangatan yang selalu memberikan keduanya kenikmatan saat melakukannya. Melakukan sebuah pembuktian cinta yang mampu memanjakan hasrat keduanya.