Suami Bayaran

Suami Bayaran
Bab 73


__ADS_3

Sudah seminggu lamanya Tama tinggal bersama dengan Zein dan juga Aliana di rumah mereka. Sungguh Tama merasa sangat bahagia, Tak pernah ia merasa sehidup ini. Hangat sekali rasanya Tama tinggal bersama dengan anak yang juga menantunya. Mereka berdua memperlakukan Tama dengan sangat baik.


Namun, untuk bertemu dengan Zaira ia masih belum berani. Tama masih belum sanggup untuk bertemu dengan anak sulungnya ini. Ia masih merasa takut untuk menerima kebencian dari Zaira. Hatinya baru saja sembuh dari luka yang sangat dalam. Biarlah Tama menenangkan hati dan pikirannya dulu, setelah itu ia baru akan menemui Zaira dan meminta maaf padanya.


Awalnya Zein pun akan memberitahukan keadaan Tama pada kakaknya, Zaira. Namun, Tama memintanya untuk tidak memberitahukan tentang dirinya kepada Zaira untuk sementara waktu. Setelah hati dan pikirannya serta perasaannya siap untuk menerima semuanya, Tama pun akan menemui Zaira dan minta maaf atas semua kesalahan yang selama ini ia lakukan pada Zaira.


Siang ini Tama tinggal di rumah sendiri karena Zein dan Aliana akan pergi ke rumah sakit, untuk memeriksa kandungannya Aliana. Biasanya Tama akan pergi ke proyek untuk melihat rekan - rekan kerjanya dulu. Namun, siang ini begitu terik. Jadi ia memutuskan untuk tinggal di rumah saja, dan melihat kebunnya yang berada di samping rumah.


Tama sengaja membuat kebun kecil di lahan yang ada di samping rumah Zein. Zein pun tak keberatan, jika ayahnya ingin bercocok tanam untuk mengisi waktu luangnya. Lagi pula lahan itu tidak dipakai, jadi biarlah ayahnya melakukan seseorang yang membuatnya tidak bosan pikir Zein.


Tama mulai melihat satu per satu tanaman yang ia tanam, kebetulan ia memang membeli benih yang sudah tumbuh. Jadi tidak terlalu lama menunggunya untuk tumbuh. Ia hanya tinggal merawat dan membesarkannya. Senang sekali rasanya melihat tanamannya tumbuh bagus.


Zaira yang merindukan adik dan adik iparnya, berencana untuk mengunjungi Zein dan Aliana di rumahnya. Zaira tahu jika hari ini adalah jadwal Aliana memeriksa kandungannya. Untuk itu ia sengaja datang di saat mereka sedang pergi. Agar di saat nanti mereka pulang, mereka akan terkejut melihat kedatangannya bersama dengan putra tampannya, Zavier.


Ya .... Zavier putra dari Zayan dan juga Zaira, yang kini sudah berusia lima tahun. Ia tumbuh menjadi seorang yang anak yang sangat tampan dan juga sangat lucu. Sudah satu minggu ini, Zein tidak menemuinya. Untuk itu anak tampan ini merengek ingin bertemu dengan Uncle dan juga Auntynya.


"Mommy, nanti aku mau bermain dengan adik bayi," ucap Zavier. Zaira tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Adik bayi masih ada di dalam perut Aunty sayang, nanti jika adik bayi sudah lahir baru kau bisa bermain dengannya," ucap Zaira.


"Kenapa lahirnya lama sekali, padahal aku sudah membelikan hadiah untuknya," ucap Zavier sedih, padahal ia sudah sangat semangat ingin mempunyai adik bayi. Dan sengaja membeli beberapa mainan yang ia kumpulkan untuk calon dari anak Zein.


"Sabar sayang,"


"Kenapa tidak Mommy saja yang membuat adik untukku,"


"Aihh kau ini, kau pikir membuat adik itu semudah membuat pisang goreng,"


"Ya sudah aku mau minta sama Daddy saja," ucapnya merajuk. Zaira, hanya memutar bola mata malas mendengar permintaan dari putranya ini.


"Mommy ... pintunya tidak dikunci," ucap Zavier dan kemudian masuk ke dalam rumah. Zaira berpikir jika Zein dan Aliana sudah pulang. Jadi ia pun masuk saja.


Suasana rumah sangat sepi, mungkin adik dan adik iparnya itu sedang berada di kamar, pikir Zaira. Namun, baru beberapa langkah ia masuk ke dalam rumah Zein. Ia di kejutkan dengan sosok yang selama ia ini tak pernah ia temui. Sosok yang menghilang beberapa tahun ini, seseorang yang sangat Zaira rindukan.


Kini sosok yang sangat ia rindukan itu, tengah terbaring sambil menutup matanya dengan televisi yang menyala di depannya. Tapi, sepertinya ia tidur dengan sangat nyenyak di sana.

__ADS_1


Ya Tuhan, hati Zaira sakit sekali melihatnya. Melihat ayah yang selama ini tak pernah ia temui. Bahkan sejak menikah dengan Zayan, ia sangat enggan melihat ayahnya ini. Ia adalah seorang ayah yang jahat di matanya saat itu.


Akan tetapi, bagaimana pun juga hatinya tak sekeras itu untuk tidak memaafkan kesalahan dari ayahnya ini. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih sangat menyayangi ayahnya.


Tama, yang entah kenapa akhir-akhir ini membuat Zaira menjadi sering sekali memikirkannya. Hingga ia meminta Zayan untuk mencarinya, akan tetapi sampai sekarang suaminya itu masih belum memberikan kabar apapun untuknya. Itu karena Zein yang meminta Zayan untuk tidak memberitahukan kepada kakaknya dulu. Zein akan mempertemukan mereka di waktu yang tepat. Zayan pun setuju dengan usul Zein, jadi ia merahasiakan Ini sementara waktu kepada Zaira.


Melihat wajah Tama yang sedikit kurus membuat Zaira sangat sedih, wajah tampannya dulu kini berubah menua. Padahal usianya tak jauh dengan Rayan mertuanya. Akan tetapi Tama terlihat tua dari usianya, mungkin karena hidupnya yang tak mudah membuatnya menjadi begini.


Tak terasa bulir bening menetes di pipinya, ia pun duduk di dekat Tama dan membelai wajah ayahnya. Wajah yang akhir - akhir ini sangat ia rindukan, melihat ibunya menangis Zavier pun langsung memanggil ibunya. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Zaira.


"Mommy ..." panggilnya. Namun, Zaira masih bergeming dan tak mempedulikan panggilan Zavier, dan malah semakin deras saja air mata yang keluar dari mata ibunya ini. Hingga bocah kecil itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Zayan. Karena ia sudah diajarkan untuk waspada sejak kecil apalagi dihadapannya ini ada orang asing yang tak ia kenal. Zavier takut jika kini ibunya sedang ketakutan di hadapan orang asing, hingga ia menangis.


"Ayah," panggil Zaira. Mendengar ada suara yang memanggilnya serta usapan lembut di wajahnya membuat Tama terbangun dan langsung duduk. Sungguh ia sangat terkejut melihat Zaira kini berada di hadapannya.


"Ayah ..." panggil Zaira lagi sambil terus menangis.


"Zaira kau ..."

__ADS_1


"Ayah ... Ayah ...." Zaira tak mampu mengucapkan hal lain selain kata itu. Bibirnya terasa kelu, dan tak mampu berkata. Zaira hanya menangis tergugu di hadapan Tama.


"Zaira ..."


__ADS_2