
"Ayah ..."
"Zaira, maafkan Ayah ... Ayah ..."
Tanpa mendengar kelanjutan dari ucapan ayahnya, Zaira langsung memeluk tubuh orang yang selama ini sangat ia rindukan. Tama pun memeluk kemudian membalas pelukan Zaira. Putri sulungnya uang entah kapan terakhir ia peluk.
Terlalu sibuk dengan dunianya, Tama bahkan lupa jika ia memiliki seorang putri yang seharusnya ia lindungi dan naungi. Ia yang seharusnya menjadi cinta pertama anaknya, malah menorehkan luka yang begitu dalam di kehidupannya.
Seharusnya sebagai seorang ayah, ia memberikan kenangan yang indah bukan malah menorehkan luka hingga dalam hidupnya. Hingga menjadi kenangan buruk yang menyakitkan.
"Maafkan Ayah Zaira," Zaira tak mampu berkata apapun, ia hanya mampu menangis. Dadanya terasa sesak, bibirnya kelu sangat sulit untuk bicara.
*
*
__ADS_1
*
Zein dan Aliana baru saja sampai di rumahnya, mereka berdua melihat ada mobil Zaira terparkir di sana. Mereka saling pandang, jika mobil Zaira ada di sini itu berarti Zaira ada di dalam rumahnya. Dan mungkin saat ini, ia sudah bertemu dengan Tama.
Oh ya ampun, kakaknya pasti sangat marah karena selama ini ia menyembunyikan ayahnya. Padahal ia tahu jika selama ini Zaira mencari keberadaan Tama. Hanya saja, atas permintaan Tama. Zein maupun Zayan tidak memberitahukannya. Karena Tama takut jika Zaira akan semakin membencinya. Dan Tama belum siap menerima amarah Zaira.
Belum hilang rasa terkejutnya, kini mereka melihat mobil Zayan tiba di rumah mereka. Pria yang menjadi kakak ipar Zein itu pun turun dari mobilnya dan terlihat panik.
"Hei kalian berdua! Dimana istriku!"
"Kak Zaira, pasti ada di dalam Kak," jawab Zein.
"Sampai kapan ... sampai kapan Ayah akan meminta maaf padaku," ucap Zaira yang masih terus menangis mendengarkan permintaan maaf dari ayahnya.
"Sampai Ayah bisa menebus semua kesalahan Ayah padamu, meskipun Ayah tahu jika semua yang telah ayah lakukan tak mungkin pernah bisa kau maafkan," jawab Tama, semakin sesak saja dada Zaira mendengarnya. Zaira tak sejahat itu, sampai ia harus sangat membenci ayahnya. Ia sudah memaafkan semua kesalahan ayahnya.
__ADS_1
Semua yang telah berlalu biarlah berlalu, dan kini saatnya melupakan semua hal buruk yang telah terjadi. Karena sesuatu yang menyakitkan tak sebaiknya dikenang. Saatnya menjalani kehidupan yang lebih baik lagi, memulai lembaran baru kehidupan dan mengubur semua kenangan pahit.
"Zaira!" teriak Zayan, ia sangat panik setelah mendengar istrinya menangis.
"Daddy ... " panggil bocah kecil yang sejak tadi diam dan melihat ibunya menangis. Ia berlari menghampiri Zayan dan langsung memeluknya.
"Daddy, Mommy menangis sejak tadi," ucapnya dan mengalungkan tangan kecilnya di leher kokoh ayahnya.
"Lalu kenapa kau membiarkannya menangis?" tanya Zayan pada Zavier, bocah kecil itu terlihat berpikir. Lalu kemudian ia melihat lagi ke arah Zayan.
"Karena .... emmm karena, aku tidak tahu. Bukankah tadi aku sudah menelepon Daddy, jadi Daddy yang harus meminta Mommy untuk tidak menangis lagi. Aku sedih Dad ... Mommy tidak boleh menangis," ucapnya.
"Kau dengar itu Zaira, kau tidak boleh menangis. Karena kau membuat putraku bersedih," ucap Zayan. Zaira pun tersenyum kearah kedua pria yang sangat ia cintai itu.
"Mommy tidak menangis sayang,"
__ADS_1
"Apa anak tampan itu cucuku," ucap Tama. Zaira pun mengangguk sambil terus mengusap air matanya yang terus jatuh tanpa permisi.
"Iya Ayah, dia cucumu namanya Zavier," Tama tersenyum melihat ke arah anak kecil yang sangat lucu dan juga tampan itu. Satu lagi kebahagiaan menghampirinya. Hingga ia tak berhenti bersyukur, untuk kehidupannya saat ini.