
"Arini siapa dia?" tanya Lidya, Arini seolah merasa bingung bagaimana menjelaskan orang yang ada dihadapannya ini kepada ibunya. Ia takut jika ibunya ini terkejut saat mengetahui siapa orang pongah yang kini sedang menatap mereka berdua.
"Dia ..." Arini bahkan sangat ragu mengatakannya.
"Aku pemilik apartemen ini, memangnya siapa lagi?" jawabnya dengan pongah, sambil bersedekap dan memandang dua orang yang ada dihadapannya ini dengan kesal
"Maksudmu apartemenku?" ucap Arini tak tahu malu, mengakui apartemen yang bahkan bukan miliknya.
"Oh ya ampun, ginjalku sampai ingin muntah mendengarnya! Hei kau cacing kremi! Kalau kau ingin punya apartemen kan? Bekerja keraslah, jangan hanya minta saja!"
"Kau jangan mengada-ada, apartemen ini milik putriku. Suaminya yang memberikannya sebagai hadiah pernikahan!" sentak Lidya tak terima dengan ucapan Satya. Ya ... sang pangeran kodoklah yang kini sedang berada di sana. Ia mendapat kabar jika Bayu akan memberikan apartemen miliknya untuk Arini, dan ia tak rela jika miliknya akan diberikan cuma-cuma pada wanita gatal, yang ingin mengklaim hartanya.
Mendengar itu otak pangeran kodok langsung matang, dan ingin sekali segera menggoreng cacing kremi itu. Bisa-bisanya merek berdua bertindak tak tahu malu dengan mengklaim milik orang lain sebagai miliknya.
"Isshh, kalau saja kau bukan orang tua. Sudah aku makan kau dari tadi Nenek!"
"Apa kau bilang Nenek! Siapa yang kau panggil Nenek?"
"Owwwh ya ampun demi ubur-ubur, hei kau jelaskan pada Nenek gayung ini siapa aku?" ucap Satya yang mulai habis kesabarannya.
"Dia siapa Arini?" Namun, Arini hanya diam saja dan tidak menjawabnya. Entah apa yang ada dalam otaknya. Karena saat ini ia tidak mau menjawab pertanyaan dari ibunya Lidya, tentang siapa itu Satya.
"Ayo perkenalkan aku pada Nenek gayung, Mamah," ejek Satya, memanggil Arini dengan sebutan Mamah membuat Satya ingin tertawa dan muntah secara bersamaan. Ia sangat kesal melihat perempuan gatal macam cacing kremi seperti Arini.
__ADS_1
"A-apa kau bilang? Mamah ...?" sepertinya nenek gayung sawan saat mendengar Satya memanggil putrinya Mamah. Karena usia Satya dan Arini tak berbeda jauh. Itu berarti jika orang yang ada dihadapannya ini adalah putra dari suami anaknya, yang berarti ia juga cucu tirinya.
Oh astaga, nenek gayung langsung kram otak mengahadapi kenyataan pahit ini. Kenapa ia mempunyai cucu tiri semacam Satya, yang mampu mengurangi sisa umurnya jika bicara.
"Jangan memasang wajah terkejut seperti itu, jelek sekali! Sudah sana pulang! Jangan kalian menginjakkan kaki kalian di sini! Atau aku akan ..."
"Akan apa? Memangnya apa yang akan kau lakukan pada kami?" jawan Lidya yang masih belum menerima kenyataan jika, suami putrinya ini ternyata memiliki anak laki-laki yang sudah dewasa seperti Satya. Lidya sempat merutuki kebodohan putrinya. Kenapa harus memilih ayahnya jika ada anaknya yang masih muda.
"Aku akan memanggil kakek cangkul, untuk mengubur kalian hidup-hidup! Pergi sana!" usir Satya lagi.
Akan tetapi, Arini tak mau menyerah begitu saja. Apartemen ini harus menjadi miliknya, dan tak boleh jatuh ke tangan Satya. Ia tidak rela, jika sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya malah direbut oleh orang lain. Pemikiran yang sangat bodoh untuk orang yang tidak tahu malu seperti Arini.
"Tidak! Aku tidak akan pergi, apartemen ini milikku!" tukas Arini tak mau kalah serta tak tahu malu.
Arini tersenyum licik dan menghampiri Satya dengan gaya gemulainya, sepertinya ia ingin menggoda Pangeran kodok dan menjadikan ia miliknya. Jika ayahnya menjadi suaminya kenapa anaknya tidak menjadi selingkuhannya saja, pikir Arini. Karena dengan begitu ia bisa memiliki segalanya. Apalagi Satya adalah pemilik saham terbesar di perusahaan, belum lagi bisnis-bisnis Rosa yang dijalankan tanpa sepengetahuan Bayu, yang kini dipegang oleh Satya. Semua itu pasti memiliki penghasilan yang sangat besar, bahkan jauh lebih besar daripada penghasilan suaminya.
Ia berpikir Kenapa tidak menggoda setia saja dan menjadikan pria pongah yang ada di hadapannya ini menjadi miliknya. Lagi pula iya sangat tidak menyukai Mawar yang selalu memperlihatkan kebencian terhadapnya. Mawar tidak pantas memiliki apa yang dimiliki oleh Satya, menurutnya.
"Mau apa kau?" tanya Satya, pada Arini yang terlihat ingin menggodanya. Satya tahu, karena ia seorang pria. Ia tahu jika ada seorang cacing gatal yang akan menggodanya.
"Aku punya ide, bagaimana caranya agar kita berdua bisa memiliki apartemen ini secara bersamaan,"
"Apa maksudmu? Aku tidak mau berbagi denganmu, apartemen ini milikku! Dan sebaiknya kau segera pergi dari sini sebelum aku lempar kau keluar!" usir Satya.
__ADS_1
"Oh ya ampun Satya, kau ini sudah sangat kaya. Apartemen ini hanya sebagian kecil dari hartamu. Kenapa kau sama sekali tidak mau berbagi denganku. Padahal aku bisa berbagi denganmu," bisiknya di akhir kalimat.
"Berbagi apa? Berbagi ladang maksudmu! ejek Satya, hingga wajah Arini memerah menahan amarahnya. Ia merasa terhina dengan ucapan Satya, yang sangat merendahkannya. Tapi, bukankah itu sangat pantas untuknya yang memiliki atitude rendah.
"Kau!"
"Jangan kau coba-coba merayuku! Karena cacing kremi sepertimu tidak akan mampu mengalahkan pesona Bunga Kambojaku yang cantik dan galak!"
"Apa!"
"Dia sangat menggemaskan, tidak sepertimu yang memuakan!" Satya bicara tanpa saringan pada Arini, tak peduli jika ia akan tersinggung dengan ucapannya. Satya tak peduli sama sekali, pada perasaan wanita jahat yang sudah melukai hati ibunya dengan sangat dalam.
"Cukup jangan memandang rendah putriku!" sentak Lidya yang tak terima dengan perlakuan Satya pada Arini, yang terkesan sangat menghinanya.
"Kalau begitu, ajak pulang anakmu Nenek!"
"Dasar tidak sopan!"
"Terima kasih pujiannya Nenek, tapi jika kalian ingin berada di sini pun tak masalah. Karena kalian juga tak akan bisa masuk ke dalam! Karena aku sudah merubah kodenya!" ucap Satya terbahak-bahak dan meninggalkan mereka berdua tanpa mempedulikan perasaan mereka yang kini sedang sangat kesal karena perbuatan Satya.
"Dasar kurang ajar!"
Satya hanya menanggapi umpan mereka dengan menggaruk pant@tnya, biarlah mereka frustasi. Satya ingin membalas perbuatan ibu dan anak itu, agar tidak mengusik kehidupannya lagi. Apalagi kehidupan Rosa, Satya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
__ADS_1
Ia akan selalu melindungi keluarganya dengan caranya sendiri, dan tak akan membiarkan siapapun melukai hati orang-orang yang ia cintai.