
Pagi ini di kantor Satya mendapatkan telepon dari Bayu, agar ia menemuinya. Entah apa yang akan dilakukan lagi olehnya, Satya pasrah saja. Lagi pula dengan keadaanya yang seperti sekarang ini, tak banyak yang bisa ia lakukan, selain menerima apa yang akan diperintahkan oleh Papanya. Akan tetapi, jika Bayu memintanya untuk melepaskan Mawar. Maka sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa menerimanya. Satya akan memperjuangkan Mawar, agar tetap bisa berada di sisinya.
Satya sudah mendapatkan restu dari orang tua Mawar. Ia pun dengan jujur menceritakan, bagaimana ia bisa menikah dengan Mawar. Dan beruntungnya Satya, karena orang tua Mawar setuju dan tidak mempermasalahkannya.
Semua sudah terjadi karena kehendak Tuhan, sebagai manusia kita hanya mampu menjalani sebaik mungkin jalan hidup yang sudah di tentukan oleh sang Maha Kuasa. Jadi, berbahagialah dengan apa yang Tuhan berikan untuk kita.
Mendapat kabar dari Papanya, Satya pun kemudian pergi ke kantor pusat. Andika melihat kepergian Satya dengan tatapan mengejek, karena ia yakin jika Satya akan dipecat dari kantor ini.
Menurutnya, ia hanya beruntung saja karena bisa mengenal Bayu. Dan dipekerjakan atas namanya, yang berarti tidak akan ada orang yang berani memecatnya selain dari Bayu sendiri.
Andika sangat senang, akhirnya Satya pergi dari kantor ini. Karena tidak akan ada gadis-gadis lagi yang mencari perhatian padanya. Selama ini pesona Andika dikalahkan oleh Satya, yang hanya petugas kebersihan. Dan itu membuat harga dirinya yang tak terlalu tinggi itu runtuh.
"Aku senang, akhirnya kau dipecat!" ucap Andika sambil bersedekap dada, memandang Satya dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.
"Aku tidak dipecat," jawab Satya santai, tak terlalu mempedulikan ucapan Andika.
Andika berdecih mendengar ucapan Satya, "Aku yakin kau pasti dipecat, memangnya untuk apa lagi Tuan Bayu memanggilmu,"
"Mungkin dia merindukanku," jawaban Satya, sontak membuat Andika tertawa terbahak-bahak. Karena ucapan Satya membuat lambungnya kegelian, sampai ia tak bisa berhenti tertawa.
__ADS_1
"Hei kau! Memangnya apa yang membuatmu berpikir jika Tuan Bayu merindukanmu?" Andika masih tertawa dengan renyahnya.
Satya yang malas menghadapi Andika, memutuskan untuk pergi saja meninggalkannya yang sedang asik tertawa.
"Memangnya ada yang salah jika seorang ayah merindukan anaknya," gumam Satya, dan berjalan keluar untuk pergi menemui Bayu. Karena ia tidak mau terlambat menemui Papanya.
Satya pun kemudian melajukan mobilnya dan menuju ke kantor pusat, untung saja jalanan pagi ini tak terlalu macet. Jadi ia tak membutuhkan waktu lama ia sudah sampai di sana. Setelah sampai di kantor, Satya segera turun dan lekas menemui papanya.
"Silahkan Tuan, Tuan Bayu sudah menunggu," ucap Asistent papanya yang ternyata sudah menunggu kedatangan Satya sedari tadi.
Satya pun hanya menundukkan kepalanya, dan mengikuti asistent papanya itu, sambil berjalan ia sudah sambil berpikir dan menyiapkan berbagai jawaban jika papanya Bayu memintanya untuk berpisah dengan Mawar. Hati Satya sudah tertambat pada istrinya itu, tak mungkin jika ia akan mau meninggalkannya. Walaupun Mawar akan ditukar dengan kekayaan dan jabatan, Satya akan menolak itu semua.
"Kau sudah datang rupanya." Bayu pun melepaskan kacamatanya dan bangkit dari kursi kerjanya dan menuju sofa, diikuti Satya di belakangnya. Kini ayah dan anak itu duduk saling berhadapan. Ada yang berbeda dari Satya, setelah beberapa bulan ia tak menemui putranya. Kini putranya datang dengan tampilan yang berbeda. Bukan hanya dari pakaiannya yang berbeda karena ia memakai seragam petugas kebersihan. Akan tetapi ia terlihat lebih jantan sekarang. Tatapannya juga tegas dan tak terlihat manja seperti sebelumnya.
Kehidupan yang keras di luar sana, membuat Satya sadar jika semua yang ia inginkan tak bisa digapai dengan mudah. Tak seperti saat ia menjadi tuan muda, hanya tinggal tunjuk tangan saja semua bisa ia dapatkan. Namun, setelah kehidupannya berubah 180 derajat saat dia menyadari jika semua itu tak mudah untuk digapai, bahkan hanya untuk makan pun ia harus banyak memilih dan juga menimbang-nimbang. Agar uang yang tidak seberapa itu bisa cukup untuk satu bulan kedepan.
Perih, sedih dan juga merasa terbuang. Itulah yang awalnya ia rasakan. Namun, Mawar yang selalu memberikan pengertian kepadanya jika kehidupan ini tak selalu seperti yang selalu ia inginkan,dan diharapkan. Sedikit demi sedikit Satya mampu melewati ujian hidupnya dengan hati yang lapang.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Bayu memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Aku baik,"
Bayu mengganggukan kepalanya dan kemudian Ia pun melihat kembali ke arah Satya yang seperti sedang menunggu apa yang akan dikatakan olehnya. "Apa kau tahu, kenapa Papa memanggilmu kemari?" tanya Bayu, Satya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu dan jika Papa ingin membicarakan hal tentang diriku dan juga Mawar, apalagi sampai ingin memisahkan kami berdua maka jawabannya adalah tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkan istriku apapun Yang terjadi," jawabnya mantap.
Bayu tersenyum melihat kearah putranya, tak sia-sia mendidiknya dengan keras akhir-akhir ini. Dan ia pun tak salah meminta Mawar untuk membuat putranya ini berubah karena ternyata Satya yang manja kini telah tidak ada. Kini Satya yang kuat dan juga jantan tengah duduk di hadapannya. Bayu tersenyum penuh bangga kearah putranya ini.
"Kau tenang saja, Papa tidak akan menyuruhmu untuk meninggalkan istrimu. Tidak dibenarkan jika seorang tua memaksa anaknya berpisah dengan pasangannya, itu adalah perbuatan yang sangat salah," jawab Bayu.
"Bukankah selama ini Papa dan juga Mamah ingin memisahkanku dengan Mawar? Bahkan Mamah tak bosan-bosannya datang menemui Dani hanya untuk membuat keributan, ia senang sekali menghina istriku. Kehidupan Mawar yang susah bukannya karena kesalahannya, tapi karena kesalahanku yang sebagai suami tak mampu membahagiakannya. Jadi cukup! Kalian jangan pernah mengganggu rumah tangga kami lagi, jika Papa ingin membuangku aku tidak masalah, asal jangan kalian memisahkanku dengan Istriku. Dialah yang selama ini mendukungku di saat kehidupanku sangat terpuruk. Dia yang selalu membantuku saat kesusahan. Walaupun dia galak dan juga cerewet, tapi dia perempuan yang sangat baik,"
Mendengar penjelasan putranya, Bayu hanya mampu tertawa. Sepertinya, yang ada dalam pikiran Satya hanya tentang ketakutan kehilangan istrinya dan tidak ada hal lain lagi. Padahal Bayu sengaja memanggilnya ke kantor pusat, karena ada yang ingin dia bicarakan tentang hal lain bukan tentang rumah tangganya. Tapi Satya sudah ketakutan duluan, dan itu terlihat lucu di mata Bayu.
"Kau tahu Satya, Papa memintamu datang kemari untuk memintamu memimpin kantor cabang. Di sana belum ada yang memegang, jadi apa kau mau bekerja sebagai pemimpin di perusahaan cabang milik Papa?" tanya Bayu.
"A-apa, jadi aku ..."
"Hukumanmu berakhir, Nak,"
__ADS_1
Kata - kata terakhir Bayu seakan sebuah mimpi yang tak akan pernah nyata, namun kini semuanya nyata di depannya. Lututnya lemas, jantungnya ikut terharu mendengar ucapan papanya ini.