
Sejak pertemuannya dengan Rosa, hati Bayu menjadi tidak tenang. Hatinya terasa gelisah tak karuan, entah kenapa saat melihat wajah wanita yang pernah menjadi penghuni hatinya selama bertahun-tahun itu. Bayu merasa ada debaran hati yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan saat melihat Tama, jantung Bayu mendadak berdegup kencang karena saat melihatnya ketakutan itu kini menyergapi hatinya.
Akankah Rosa menjadi milik pria yang bernama Tama, jika itu benar berarti dirinya bukanlah seorang yang istimewa lagi di hati Rosa. Kenapa ... kenapa Bayu tidak rela jika Rosa menjadi milik orang lain. Ia tak rela jika ibu dari anaknya itu melupakannya dan kembali memulai hidup baru tanpa ada namanya di setiap napasnya.
Astaga, ada apa dengan hatinya. Kenapa ia merasa sangat gelisah. Hingga Arini yang sejak tadi bersamanya, merasa terganggu dengan sikap Bayu yang terus gelisah itu. Ia merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran suaminya itu. Akan tetapi ia tak mau lebih banyak, dan memutuskan untuk tak bertanya apapun pada Bayu. Biarlah, ia seperti itu saja jika Bayu memang sedang gelisah. Lalu, ia bisa apa selain membiarkannya. Biarlah nanti jika keadaannya sudah membaik, ia akan membujuk Bayu.
"Mas ..." panggil Arini, ia menghampiri suaminya yang sejak pulang dari supermarket hanya diam saja. Padahal sebelum berangkat ke sana, mereka sudah berencana akan memasak bersama. Dan hal itu pasti akan menyenangkan pikir Arini. Namun, nyatanya sejak bertemu dengan Rosa suaminya ini sama sekali tak membuka suara. Dan hanya duduk diam, dan terlihat seperti memikirkan sesuatu, yang entah apa itu Arini tak mau tahu dan tak mau peduli.
Akan tetapi Arini juga tak ingin, jika suaminya ini masih memikirkan masa lalunya. Maksudnya adalah mantan istrinya. Ia cukup percaya diri, jika Bayu tak mungkin memikirkan Rosa lagi. Yang ada dalam pikirannya adalah, jika suaminya ini sangat mencintainya. Dan tak mungkin berpaling darinya yang sangat cantik dan masih muda pula.
Ia terlalu lebih baik berkali-kali lipat dari Rosa. Jadi, tak ada yang perlu ia takutkan, selama Bayu berada dalam genggamannya.
"Arini, saat ini aku sedang sangat lelah dan kepalaku sangat sakit. Apakah kau bisa membuatkan aku teh hangat?" pinta Bayu sambil memijat-mijat keningnya yang terasa pusing.
Sejenak Arini terdiam, jujur saja ia sedang malas untuk melayani suaminya ini. Apalagi posisinya kini sedang sangat nyaman menurutnya.
"Baiklah," jawab Arini, yang sebenarnya sangat enggan untuk melayani Bayu .
Tak lama setelah itu, teh hangat tanpa gula pun ia sajikan untuk Bayu. Dengan sangat percaya dirinya ia berikan minuman itu untuk Bayu. Bayu pun kemudian mengambil minuman itu dan langsung meminumnya. Namun, Bayu mengernyit saat ia merasakan minuman teh itu.
"Kenapa teh ini rasanya hambar? Arini kau tahu, jika aku tidak bisa meminum minuman yang tak ada rasanya. Aku ingin teh manis, bukan tawar seperti ini," protes Bayu.
"Aku lupa membeli gula tadi," jawabnya sangat santai.
"Arini, bukankah kau sudah membuat daftar belanjaanmu. Kenapa kau masih saja lupa!" tiba-tiba Bayu yang sedang tidak baik suasana hatinya itu pun, meluapkan kekesalannya pada Arini. Arini yang tidak terima pun langsung melawan Bayu.
"Ini hanya perihal gula saja, dan kau membuatku tersinggung!" Arini tak terima dengan ucapan Bayu.
__ADS_1
Bayu yang langsung menyadari kesalahannya pun, langsung mengusap wajah kasar. Benar kata Arini, ini hanya hal sepele. Tak seharusnya ia menyakiti perasaan Istrinya.
"Maaf ...maafkan aku Arini, aku tak bermaksud menyakitimu. Kepalaku sangat sakit, jadi aku ..."
"Tidak apa-apa," jawabnya.
Bayu pun tersenyum, dan kemudian memeluk istrinya ini. Tak salah memang ia memilih Arini sebagai istrinya. Karena ia memang seorang istri yang sangat pengertian.
"Maafkan Mas sayang," Bayu memeluk Arini dan membelai rambut panjangnya.
"Iya Mas tidak apa-apa, aku mengerti... Mas boleh aku meminta sesuatu?" pinta Arini dengan sangat lembut.
"Katakan, apa yang kau inginkan?" tanya Bayu.
"Mas ... apa boleh apartemenmu itu diberikan saja untuk Mama,"
"Iya ..."
"Kenapa Mamahmu tidak tinggal di rumah ini saja, rumah ini cukup besar,'" jawab Bayu, ya ... rumah yang mereka tempati memang besar. Karena rumah itu adalah rumah, yang ia bangun. Namun, Bayu sama sekali tak memberikan bagian Rosa. Karena menurutnya Rosa sudah mendapatkan bagian yang lebih banyak. Jadi, ia berpikir jika rumah yang dulu mereka tempati itu dan menjadi sejarah kesuksesan mereka. Biarlah menjadi miliknya saja. Dan untungnya Rosa tak menggugatnya, entah ia lupa atau memang tak mau. Tapi tak apa, itu adalah keuntungan yang luar biasa untuk Bayu. Karena ia tak perlu menjual rumahnya itu, dan rumah ini menjadi miliknya seorang. Dan dengan segera Bayu pun mengalihkan rumah itu atas namanya. Agar Rosa tak bisa menggugatnya.
"Ya ampun Mas, kau ini memang tidak mengerti ya. Kita ini pengantin baru. Mamah tidak mungkin mau tinggal di sini, dan melihat kemesraan kita," ucap Arini, sambil membelai dada bidang suaminya itu.
Bayu pun tersenyum dan mencubit hidung Arini dengan gemas, "Pergilah besok ke sana dan ajak Mamah bersamamu," jawaban Bayu benar-benar membuat hati Arini sangat bahagia.
"Terima kasih ... terima kasih, kau memang suami yang terbaik,"
*
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya, Arini dan Lidya ibunya Arini datang ke apartemen itu. Sebenarnya hanya alasan Arini saja, jika ibunya tak ingin tinggal bersama dengannya. Ia hanya ingin, sedikit demi sedikit menguasai harta Bayu yang mulai tak seberapa itu.
Padahal saat ini Bayu, sedang membangun usaha barunya, akan tetapi Arini tak tahu akan hal itu. Lebih tepatnya ia tak mau tahu, karena yang ia inginkan hanya sesuatu yang instan tanpa tahu artinya bekerja keras. Sangat berbanding terbalik dengan Rosa, yang lebih suka turun tangan saat suaminya membuka usaha baru. Dan membantunya sebisa mungkin hingga usahanya menjadi maju. Tentu saja, itu karena Rosa adalah wanita yang sangat cerdas.
"Wahhh, Arini apartemen ini sangat bagus. Mamah sangat suka sekali, ini sangat mewah. Barang-barangnya juga barang yang sudah pasti mahal harganya," ucap Lidya sambil berdecak kagum melihat apartemen yang diberikan oleh Bayu. Apartemen yang dulu sempat menjadi tempat tinggal Satya dan juga Mawar.
"Tentu saja, ini sangat bagus. Dan apartemen ini sekarang sudah menjadi milikku," ucapnya dengan bangga.
"Mamah sangat bangga padamu sayang,"
"Terima kasih Mah, itulah beruntungnya menjadi wanita cantik. Karena tak perlu bekerja keras pun aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan,"
"Maksudmu dengan mencuri!"
Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di belakang mereka berdua. Seseorang yang sedang menatap mereka dengan sangat tajam. Tatapan yang penuh dengan kebencian.
Ia sengaja menyuruh seseorang untuk menjadi mata-mata di rumah Bayu, untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Bayu dan juga Arini. Untuk itu, kabar jika apartemen itu diberikan cuma-cuma pada Arini. Membuat ia sangat geram dan sengaja datang lebih dulu kesana.
"Mau apa kau?" tanya Arini.
"Mengamankan milikku yang akan dicuri oleh cacing gatal yang suka mencuri laki-laki," ejeknya.
****
__ADS_1
Hayoooo siapa yang datang kesana 🧐