
Seharian ini Bayu banyak berpikir, ia memang ingin kembali pada Rosa, akan tetapi sebelum itu ia harus menyelesaikan hubungannya dulu bersama dengan Arini. Ia pun kemudian bangkit untuk pergi menemui Arini dan menyelesaikan urusannya dengan istrinya itu.
Baru saja ia akan keluar dari rumah itu, ternyata Arini dan Lidya sudah menunggunya di ruang tamu. Dan pelayan mengatakan jika mereka berdua sudah ada sejak dari satu jam lalu. Namun, mereka memang sengaja tidak memberitahukan kedatangan mereka kepada Bayu, karena mereka takut diusir oleh Bayu.
Dengan tatapan tajam Bayu melihat kearah Arini dan ibunya, ternyata kedua wanita ini jauh lebih tidak tahu malu dari yang Bayu kira. Astaga, bahkan kedua wanita itu kini baru saja selesai makan dengan lahapnya di rumahnya tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Di saat perasaannya sedang kacau balau, Arini masih dengan santainya berprilaku seperti itu Dimana sebenarnya letak hati wanita itu.
"Hebat sekali di saat seperti ini kau masih bisa makan dengan tenang, kau sungguh wanita yang luar biasa," sinis Bayu.
"Arini ini masih istrimu Bayu, apa salahnya ia makan di rumah suaminya sendiri," jawab Lidya tak tahu malu, dan tanpa rasa bersalah ia menatap menantunya itu. Hingga Bayu benar-benar dibuat muak olehnya. Bayu melangkahkan kakinya dan menghampiri kedua wanita itu. Dan kini pandangannya ia tujukan pada Arini, istrinya yang dulu sangat ia puja-puja tanpa tahu sebenarnya jika wanita ini memiliki sifat yang sangat hina di matanya. Jika dulu saat menatapnya Bayu selalu merasa kagum saat ini rasa kagum itu berubah menjadi rasa jijik.
"Mulai saat ini kau bukan istriku lagi,"
Deg...
Satu kalimat itu mampu meruntuhkan dunia Arini, mimpinya hancur begitu saja. Mimpi yang baru saja akan ia bangun bersama dengan Bayu. Mimpi yang bahkan belum terwujud sama sekali, hatinya sakit dunianya terasa hancur. Baru saja semalam ia merajut mimpinya, dan kini mimpi itu tidak akan terwujud sama sekali. Dan itu karena satu kesalahan yang sangat fatal yang dilakukan olehnya.
"Mas ..." lirih Arini, belum juga Arini membuka mulutnya Bayu sudah mengangkat tangannya yang berarti ia tak ingin mendengar apapun dari Arini.
"Sudah cukup, aku tidak ingin mendengar apapun dari mulut kotormu itu!"
"Mas!"
"Aku bilang cukup Arini! Aku tidak ingin mendengar apapun! Apa yang kau lakukan hari ini itu sudah membuktikan siapa dirimu sebenarnya. Kau tak lebih dari perempuan busuk tak tahu diri!"
"Jangan menghina putriku!"
"Kenapa? Sebagai seorang ibu kau bahkan membiarkan anakmu menghina orang lain!Ia bahkan mencaci dan memaki orang lain dengan kata-kata kasar dan tak pantas diucapkan! Dan sekarang kau tak rela jika putrimu aku hina! Sungguh kau manusia yang sangat lucu!"
"Itu rekayasa Mas, aku tidak seperti itu. Kenapa kau tidak percaya padaku!" Arini mulai mengeluarkan jurus polosnya.
"Rekayasa katamu! Bagaimana hal seperti itu bisa direkayasa! Coba katakan padaku! Kau boleh saja bodoh tapi jangan bertindak seperti manusia yang tak punya otak!" bentak Bayu.
"Mas!"
__ADS_1
"Jangan berteriak padaku! Sebaiknya kalian berdua pergi dari sini! Aku muak melihat kalian berdua!"
"Arini masih istrimu Bayu, kau tak bisa seperti itu!"
"Kenapa tidak? Besok aku akan mengurus semua perceraianku dengannya!"
"Kau tega Mas,"
"Kau seharusnya tahu jika aku adalah orang yang tak pernah memberikan kesempatan kedua!"
"Kau jahat!"
"Jika aku orang jahat lalu bagaimana denganmu?"
"Sudah Arini, jangan mengemis pada orang seperti dia. Kau masih muda dan cantik. Kau masih bisa mendapatkan laki-laki yang lebih muda dan kaya dari dia!"
"Pergilah dan jangan banyak bicara!"
"Kau bisa menggugatku! Tapi aku juga akan menggugat balik dirimu, kau harus membagi dua hartamu. Karena aku mempunyai hak!" ucapan Arini sukses membuat Bayu terbahak-bahak. Wanita yang ada dihadapannya ini memang benar-benar wanita tidak tahu malu.
Raut wajah kedua wanita itu kini semakin memerah menahan kesal, harga diri mereka jatuh sejatuhnya dihadapan Bayu.
"Ayo Arini, kita pergi dari sini!" Lidya sudah tidak tahan dengan hinaan yang dilontarkan oleh Bayu. Dan dengan berat hati akhirnya Arini pun mengalah dan pergi dari rumah itu.
"Jangan lupakan barang-barangmu! Dan ingat hanya barangmu saja yang kau bawa!" sinis Bayu dan kemudian ia pun pergi meninggalkan ibu dan anak itu, setelah sebelumnya meminta pelayan untuk melihat apa saja yang akan dibawa oleh Arini, untuk memastikan jika wanita itu tidak membawa barang-barang selain miliknya.
*
*
*
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Tama.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, maaf merepotkanmu," jawab Rosa
Sampai saat ini mereka masih berada di Cafe itu, Rosa masih enggan untuk pergi dan Tama dengan setia menemani. Sebagai seorang pria ia tak akan membiarkan wanita yang spesial di hatinya itu terpuruk sendirian. Ia akan selalu berada disampingnya.
"Apanya yang direpotkan, aku senang bisa membantumu. Meskipun sebenarnya tidak ada yang aku lakukan untukmu,"
"Isshh kau ini, kau adalah sahabat yang sangat baik untukku. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu. Sejak ada kau, aku bisa berbagi kesedihanku,"
"Sahabat?" tanya Tama.
'Memangnya kau mau aku anggap calon suamiku. Kalau aku mau aku juga kalau kau bersedia," gumam Rosa dalam hati, ia tidak mungkin mengungkapkan isi hatinya pada Tama. Itu akan sangat memalukan.
"Iya, kau sahabatku yang sangat baik," ucap Rosa tersenyum, tapi duda matang itu malah cemberut mendengarnya. Dan raut wajah Tama yang berubah itu ternyata tak luput dari perhatian Rosa.Yang merasa heran kenapa Tama bisa cemberut seperti itu.
"Hei kenapa wajahmu jelek seperti itu?" ejek Rosa.
"Jadi di matamu aku ini jelek?"
"Tidak! Kau sangat tampan! Siapa yang mengatakan jika kau ini jelek?"
"Aku hanya merasa jika aku ini pria jelek di matamu,"
"Kau sangat tampan dan juga sangat baik, apanya yang jelek. Jangan memfitnah dirimu sendiri. Itu tidak baik,"
"Sayangnya meskipun aku sangat tampan dan juga sangat baik menurutmu. Kau sama sekali tidak tertarik padaku,"
"Apa? Siapa bilang aku tidak tertarik padamu? Justru sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah sangat tertarik padamu. Kau bahkan selalu mengganggu tidurku! Bahkan setiap aku berada di dekatmu jantungku ini selalu bersalto ria bahkan hampir jungkir balik saking senangnya!" Rosa mengucapkan hal itu dengan sangat menggebu-gebu. Sepertinya ia tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Karena setelah itu, ia langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya dan melihat Tama dengan wajah yang sudah seperti udang goreng.
"Astaga ..."
*
*
__ADS_1
*
Aihhh Rosa yang ngomong kok aku yang malu 😆😆😆😂😂😂