
Malam telah berganti, cahaya bulan yang menyejukkan hati kini telah berganti dengan sinar mentari pagi yang menghangatkan jiwa. Sepasang suami istri baru saja membuka matanya, mereka terkejut karena mereka berdua bangun terlambat. Hampir saja Satya berlari ke kamar mandi, untung saja dengan cepat menyadarkannya kalau hari ini adalah hari minggu, jadi mereka libur bekerja.
"Oh ya ampun, kenapa kau tidak memberitahuku?" keluh Satya, pasalnya barusan ia terjatuh hingga terguling dalam keadaan yang mengenaskan. Karena Satya hanya memakai sangkar burung saat terjatuh, membuat Mawar tertawa terbahak-bahak.
"Bukankah, aku sudah memberitahumu barusan,",
"Terlambat," jawabnya dan kemudian naik lagi ke tempat tidur dan memeluk Mawar.
"Hei lepaskan aku, ini sudah siang aku mau mandi," ucap Mawar dan melepaskan pelukan Satya.
"Nanti saja, kita main lagi yah." ajak Satya sambil menggerakkan alisnya, dasar menyebalkan pikir Mawar.
"Tidak mau bekas semalam saja masih perih,"
"Itu karena belum terbiasa, ayolah Bunga Kamboja," rengek Satya.
"Kau ini," tapi Satya tidak mau mendengar penolakan Mawar dan langsung mengungkungnya kembali.
"Dasar kodok goreng,"
Akhirnya pagi ini mereka melakukannya kembali, permainan semalam sepertinya membuat pangeran kodok ketagihan hingga ingin mengulanginya kembali.
*
*
*
Di pagi yang sama di tempat yang berbeda, Zein baru saja membuka matanya. Karena hari libur ia pun bersantai dan ingin berlama-lama di tempat tidur, dan ingin bermesraan dengan Aliana. Tangannya ingin meraih tubuh Aliana untuk ia peluk, tapi sayangnya orang yang ingin ia peluk tak ada di sampingnya. Zein pun membuka matanya, dan benar saja jika kini Istrinya tidak ada di sampingnya. Kemana Aliana, ini masih pagi dan tidak seperti biasanya jika hari libur begini Aliana bangun dengan cepat biasanya ia akan terus malas-malasan dan terus memeluk Zein. Tapi kali ini ia tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
Zein pun berpikir, mungkin saat ini Aliana sedang berada di kamar mandi jadi Dia memutuskan untuk memilih aliran yang datang dan tidak tidur lagi. Namun, setelah cukup lama ia menunggu ternyata Aliana tidak muncul juga. Sebenarnya Aliana kemana, apa ia sedang memasak untuknya. Zein pun tersenyum mengingat jika Istrinya ini rupanya sangat rajin. Meskipun masakannya tidak enak, tapi Zein selalu menghabiskannya. Karena ia tidak mau perjuangan Istrinya untuk menyiapkan makanan menjadi sia-sia, jika Zein tidak memakannya.
Zein pun bangun dari tidurnya dan lebih baik ia mandi, dan memberikan kejutan juga pada Aliana jika dirinya sudah tampan. Bukankah Istrinya itu sangat menyukai dirinya yang sangat tampan. Untuk itu ia akan segera bersiap-siap dan membersihkan diri terlebih dahulu. Namun, ia terkejut saat membuka pintu kamar mandi karena di sana Zein melihat jika Aliana sedang terkapar tidak sadarkan diri.
"Al ..." Zein segera menggendong Aliana dan membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya di sana. Ia menepuk-nepuk pipi Aliana, berharap Istrinya ini akan bangun. Akan tetapi Aliana tak bergeming sedikit pun, wajahnya pun sangat pucat. Untuk itu Zein pun segera memanggil dokter keluarga Guntara untuk memeriksanya. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada istrinya.
"Al ... ada apa denganmu,"
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dokter pun datang untuk memeriksa Aliana, Zein tak mau jauh dan terus berada di sampingnya. Kini Aliana pun sudah sadar, dan Zein pun bertanya kenapa Aliana bisa pingsan di kamar mandi.
"Al ... bagaimana kau bisa pingsan di sana?"
"Aku ... aku pusing Zein,"
"Pusing?" Aliana pun menganggukan kepalanya.
"Waktu aku bangun tidur, aku merasa sangat mual. Perutku terasa di aduk-aduk. Dan aku pun segera ke kamar mandi, di sana aku muntah dan kepalaku langsung pusing. Semuanya terasa berputar dan berdengung, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi semuanya terasa gelap,"
Melihat Zein sangat cemas dokter perempuan itu tersenyum,. terlihat sangat manis sekali pikirnya. "Anda tidak perlu khawatir Tuan, karena istri anda tidak apa-apa. Hanya saja kini di dalam sana sedang tumbuh penerus kalian," jawabnya.
"A-apa?" Zein dan Aliana, sempat membeku mendengar penjelasan dari dokter.
"Maksud dokter apa?" tanya Aliana yang masih belum mengerti sepenuhnya ucapan dokter itu.
"Maksudnya adalah, jika saat ini anda sedang mengandung Nona. Anda sedang hamil sekarang?" ucapnya.
"Hamil?" Zein da Aliana sampai mengulangi kata-kata mereka bersamaan saking terkejutnya, dan merasa tidak percaya jika sebentar lagi mereka berdua akan mempunyai anak.
"Iya Nona dan Tuan, selamat karena anda akan menjadi orang tua,"
__ADS_1
"Zein aku hamil, Zein." Aliana memeluk Zein, dia merasa bahagia karena akhirnya ia pun bisa hamil juga begitu juga dengan gen yang sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
"Selamat sayang," Zein membalas pelukan Aliana dan mencium keningnya dengan sangat sayang. Dokter pun kemudian memberikan resep kepada Zein, untuk dibeli dan segera diberikan kepada Aliana. Tak lupa ia pun memberitahu jika mereka harus memeriksakan lebih lanjut kandungan mereka di dokter kandungan.
*
*
*
Setelah menyelesaikan kegiatan paginya, Mawar dan Satya pun lekas membersihkan diri mereka. Tadinya mereka ingin mandi ala-ala CEO yang jika sudah menghabiskan malam pertama maka mereka akan mandi bersama di dalam bathtub. Sayangnya kamar mandi di kontrakan mereka sangatlah sempit dan tidak ada bathub di sana. Yang ada hanyalah ke bak mandi yang berukuran tidak terlalu besar dan hanya cukup untuk menampung air saja. Sangat tidak lucu jika mereka berdua mandi di dalam bak mandi itu, dan berdesak-desakan dengan air dingin pula.
Untuk itu mandi bersama ala-ala CEO sebaiknya mereka berdua tunda dulu saja. Semoga kedepannya mereka bisa melakukannya, jika apartemen milik Satya sudah di kembalikan oleh papa nya.
Mawar mandi duluan, karena ia akan memasak untuk sarapan mereka. Hari ini mereka akan sarapan mie rebus saja. Karena pagi ini Mawar tidak sempat belanja sayur, karena Satya yang tidak mau melepaskannya.
Mie sudah siap, Satya pun sudah selesai mandi. Mereka berdua baru saja akan sarapan pagi yang terlewat. Meskipun hanya makan mie rebus mereka berdua sangat senang. Karena ini cukup untuk mengganjal perut mereka sementara waktu. Setelah ini Mawar berencana akan pergi berbelanja, untuk mereka makan siang dan juga makan malam nanti.
Tanpa mereka berdua ketahui jika ada seseorang yang tengah memerhatikan berdua, dengan tatapan penuh kebencian.
"Sudah kuduga, sebagai istri kau memang tidak pernah merawat suamimu dengan baik. Lihatlah kau hanya memberikan putraku makan satu bungkus mie saja, sangat tidak bertanggung jawab. Entah apa yang Bayu lihat dari dirimu sampai dia terus membelamu, gadis pembawa sial!"
Mendengar istrinya dihina tentu saja Satyia tidak terima, meskipun yang menghina itu adalah ibunya sendiri, tetap saja hal itu tidak bisa dibenarkan olehnya.
"Mah Mawar bukan gadis pembawa sial, asal Mamah tahu saja jika Mawar sudah tidak gadis lagi. Karena semalam aku sudah mengambil kegadisannya," jawab Satya dengan bangga.
"Apa ..."
****
__ADS_1
Pangeran kodok udah bikin Ratu kodok kram jantung 😆😄🤣😊