
Sejak kepindahan mereka, sikap Mirna malah semakin menjadi. Ia sama sekali tidak bisa menjadi istri yang baik dan bertanggung jawab. Kebiasaannya sehari-hari hanyalah bermain ponsel tanpa mempedulikan tugasnya di rumah sebagai seorang istri.
Seperti hari ini, Tama sudah sangat lelah bekerja akan tetapi keadaan rumah berantakan. Perabotan kotor dimana-mana, bahkan tak ada satu gelas pun yang bersih saat Tama akan mengambil minum. Jangankan gelas yang sudah dicuci, bahkan air minum saja tak ada. Astaga, apa saja yang Mirna lakukan selama Tama bekerja.
Tama melihat istrinya sedang tidur di kamar yang berantakan, sepertinya kamar itu tak ia bersihkan melihat dari posisi barang-barang yang ada di kamar itu, tak bergeser sedikit pun. Mulai dari gelas bekas kopi Mirna tadi pagi dan piring bekas ia makan semalam. Belum lagi sampah makanan yang berserakan di sana, benar-benar berantakan. Bagaimana.ada seorang perempuan.yang betah tinggal dengan tempat sekotor itu. Tama yang lelah dan merasa haus sepulang ia bekerja pun, langsung membangunkan istri pemalasnya itu.
"Mirna bangun! Mirna!" panggil Tama dengan suara yang keras, berharap istrinya itu bangun dan melihat keadaan suaminya yang sangat kelelahan setelah seharian bekerja. Namun, orang yang dibangunkan tak sekalipun bergeming. Membuat Tama kesal, hingga akhirnya menarik tangan Mirna dengan keras.
Mendapat perlakuan kasar dari Tama, akhirnya Mirna pun terbangun dengan rambut acak-acakan dan mata yang merah, mungkin ia merasa terkejut karena ditarik paksa dari dunia mimpi ke alam dunia nyata.
"Ada apa Mas?" tanya Mirna sambil menguap, membuat Tama semakin kesal saja. Kenapa tak ada raut merasa bersalah sama sekali di wajahnya. Terbuat dari apa otak wanita ini, hingga ia seolah lupa dengan kodratnya sebagai seorang istri.
"Apa kau tidak membeli air minum?" tanya Tama. Mirna pun malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, dan memasang wajah malas.
"Aku malas keluar," jawabanya enteng. Tama yang kesal sampai mengusap wajahnya kasar, ia sama.sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Mirna.
"Bukankah kau punya ponsel, padahal kau hanya tinggal menghubunginya dan akan ada orang yang mengantarnya nanti kemari," Mirna berdecak sebal mendengar suaminya mengoceh padahal matanya masih sangat mengantuk.
"Aku tidak sempat tadi," masih dengan gaya acuhnya.
"Mengirim pesan untuk memesan air minum tak akan menghabiskan waktu selama berjam-jam. Tapi kenapa kau tidak mau melakukannya, dan selama aku bekerja apa saja yang kau lakukan selain bermain ponsel!" mendengar Tama meneriakinya Mirna sungguh tidak terima, ini adalah untuk pertama kalinya Tama membentaknya.
"Mas ... !" Mirna malah berteriak lebih kencang.
__ADS_1
"Kenapa! kenapa kau berteriak!"
"Hanya karena tidak ada air minum kau berteriak padaku, kau benar-benar keterlaluan. Kau tega padaku istrimu sendiri!"
"Hanya kau bilang! Coba buka matamu dan lihatlah ke sekelilingmu! Aku heran padamu, kenapa kau sama sekali tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna. Buatlah hidupmu berguna jangan hanya mampu duduk dan diam saja, kalau begini terus aku bisa gila!" setelah mengucapkan hal itu pada Mirna, Tama pun pergi keluar tanpa mempedulikan Mirna lagi. Ia sangat kesal pada istrinya itu. Tak bisakah ia mengerti dengan rasa lelahnya, setelah apa yang ia lakukan selama ini untuknya tak bisakah ia melayaninya dengan baik. Bahkan untuk makan dan mencuci pakaian pun harus dilakukan oleh Tama, Mirna hanya duduk diam dan tak melakukan apa-apa. Semakin lama fisik dan mental Tama semakin lelah menghadapi Mirna. Tama juga seorang pria normal, ia ingin dihargai dan dilayani oleh istrinya. Meskipun hidup dalam kemiskinan seperti sekarang ini, setidaknya Mirna bisa mendampinginya dan melayaninya layaknya seorang istri.
Akhirnya Tama memutuskan untuk kembali ke tempat kerjanya, dan tidur di sana di tempat yang dulu ia tempati sebelum membawa Mirna ikut untuk tinggal bersamanya. Setidaknya, sebelum Mirna datang ia bisa tidur dengan nyaman dan makan dengan kenyang. Tapi sekarang, uang makan ia berikan untuk Mirna tapi ia hanya diberikan sebungkus mie instan atau sebutir telur saja. Itu pun kalau Mirna tidak lupa memberinya makan. Astaga ... jika dipikir kembali sikap Mirna sangatlah keterlaluan.
Dalam lamunannya, Tama terhenyak karena tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.
"Permisi..." Tama yang merasa terkejut pun langsung melihat ke arah seseorang yang menepuk pundaknya.
"Iya ada apa?" tanya Tama.
"Oh tentu, maaf aku menghalangimu," ucap Tama, perempuan itu hanya tersenyum ramah pada Tama.
"Agni!"panggil salah satu rekan kerja Tama, yang sepertinya baru selesai mandi.
"Iya ..."
"Buatkan aku kopi hitam gulanya sedikit saja,"
"Oh iya,"
__ADS_1
"Buatkan dua saja," ucapnya.
"Baik," ia pun tersenyum ke arah Tama sambil menundukkan kepalanya lalu pergi untuk membuat pesanan kopi.
"Cantik kan?" ucap salah satu rekan kerja Tama yang bernama Eko ini. Tama hanya diam saja tidak menanggapi.
"Sudahlah jangan dipikirkan istrimu itu," ucap Eko tiba-tiba, hingga memancing Tama dan langsung melihat kearahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Tama tidak mengerti, selama ini Tama tidak pernah menceritakan apapun tentang kehidupannya dan juga Mirna. Apa ia sangat terlihat sedang ada masalah, pikirnya.
"Hei semua sudah tahu, sejak kedatangan istrimu kemari hidupmu berubah. Kinerjamu yang baik jadi menurun, kau terlihat lemas dan juga semakin kurus. Astaga kau ini, seharusnya kau tidak membawanya kemari," Tama langsung terdiam, apa ia terlihat semenderita itu.
"Kau terlihat tidak terurus dengan baik, bahkan kau memakai pakaian kerja yang kotor saat kau bekerja. Aku yakin jika istrimu itu tidak mencucinya untukmu," ucap Eko tergelak. Tama hanya menghela napas kasar menanggapi ucapan dari rekan kerjanya ini. karena memang yang diucapkan olehnya semuanya adalah benar.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Tama lemah. Eko menepuk punggung rekan kerjanya itu.
"Sebagai seorang suami kau harus bisa mendidik seorang istri, jangan biarkan dia semena-mena padamu. Kau itu laki-laki, lakukan tugasmu hanya sebagai suami saja, jangan lakukan yang lain, aku gemas melihat kelakuanmu," ucap Eko, andai saja Eko tahu jika Tama lebih bodoh dari yang ia kira, karena bahkan anak-anaknya saja meninggalkan Tama dan tidak mau lagi mengakui ia sebagai ayah mereka. Mungkin Eko akan semakin tidak percaya dengan kebodohannya Tama.
"Kalau aku jadi kau, sudah aku tukar tambah dengan yang baru istri seperti itu," ucapnya sambil terbahak-bahak.
****
Disini aku bakal tuntasin nasib Tama ya, kasian juga Mimin kasih istri yang kurang garam kaya Mirna 😌
__ADS_1