Suami Bayaran

Suami Bayaran
Bab 91


__ADS_3

Pagi ini Rosa sudah berdandan sangat cantik dan juga rapi, Satya dan Mawar berpikir jika saat ini Rosa akan pergi untuk ke kantor cabang atau tidak, ia akan pergi ke Cafe dan bertemu dengan Tama seperti biasa. Karena memang seperti itu biasanya, wanita cantik ini akan selalu bersemangat saat akan bertemu dengan Tama.


Satya pun tidak mempermasalahkannya, lagi pula Tama adalah pria yang baik. Tak masalah jika ibunya ingin berumah tangga lagi, dan merajut kembali hidupnya bersama dengan seorang pria. Satya tak akan menjadi penghalang kebahagiaan ibunya, biarlah semuanya mengalir apa adanya. Karena sebenarnya ia juga jengah kepada Bayu, sebagai seorang anak ia tak terima dengan perlakuannya yang menikah lagi dengan diam-diam. Dengan orang jahat pula. Membuat bulu kaki Satya merinding saja.


"Mawar, sebaiknya kau jangan dulu bekerja jika kau sedang tidak enak badan," ucap Satya yang khawatir melihat Bunga Kambojanya layu dan tak bersemangat. Apa karena semalam ia terlalu mengguncangnya dengan semangat, sampai-sampai Istrinya kelelahan seperti ini.


Tapi itu memang salah Mawar yang selalu terlihat cantik di matanya, hingga membuat pangeran kodok sangat bersemangat saat akan menungganginya.


"Aku tidak sakit, aku baik - baik saja," jawabnya.


Satya kemudian melirik sekilas kearah Mawar yang terlihat pucat, istrinya ini pasti sedang tidak baik - baik saja. Jadi Satya menyarankan untuk tidak pergi bekerja dulu.


"Ayolah sayang, jangan dulu pergi bekerja. Lihatlah, wajahmu yang terbiasa sangat cantik kini malah terlihat seperti Zombie yang kurang makan,"


"Apa aku terlihat separah itu?" tanya Mawar memastikan.


"Iya, sudahlah kau jangan dulu pergi ke kantor biar aku yang bicara pada calon saudara tiriku itu," ucapan Satya sukses membuat Rosa tersedak bahkan sampai terbatuk-batuk.


Mawar pun kemudian memberikan air minum pada Rosa, karena merasa kasihan melihat mertuanya yang tersedak hingga memerah wajahnya.


Setelah batuknya agak reda, Rosa langsung menatap Satya dengan kesal. Membuat pangeran kodok terheran-heran karena merasa tak punya salah pada ibunya yang sudah cetar dari pagi itu.


"Kenapa Mamah melihatku seperti itu?" tanya Satya.


Namun, karena Rosa yang tak ingin bertanya dulu pada anaknya langsung mengatupkan lagi bibirnya. Karena hari ini ia sedang terburu-buru, dan ia tak mau jika Satya akan mengajaknya berdebat dan akan membuang sebagian waktunya yang berharga.


"Tidak apa-apa," jawab Rosa dan kembali memakan sarapannya kembali. Namun, dalam hati ia menggerutu karena kesal pada putra kesayangannya ini. Kenapa ucapannya barusan membuat jantung Rosa bergetar? Entahlah karena jika sudah menyangkut tentang Tama. Jantung dan hati Rosa memang selalu berdenyut tak karuan.

__ADS_1


Dan akhirnya, Satya melanjutkan untuk membujuk Mawar kembali agar tidak bekerja. Bahkan ia membujuk Istrinya itu akan mengajaknya membeli berlian, asalkan ia tidak bekerja atau kalau bisa keluar saja. Karena Satya masih sangat sanggup untuk membiayai Istrinya itu. Namun, Mawar tetap menolaknya karena ia memang bukan tipe perempuan yang menyukai hal-hal seperti itu.


*


*


*


"Mas, pokoknya aku tidak mau tahu kalau apartemen itu harus menjadi milikku," rengek Arini pada Bayu, membuat mood pria itu hancur saja. Bagaimana tidak, jika dari kemarin malam Arini terus saja membahas masalah yang sama yaitu apartemennya. Yang memang sebenarnya apartemen itu adalah milik Satya, ia tak mempunyai hak apa pun di sana. Tadinya Bayu berpikir jika Satya tidak akan mempermasalahkannya, karena ia pun tak tinggal di sana. Dan tinggal di rumah yang saat itu ia beli dengan menggunakan uang Rosa. Untuk itulah ia akan memberikan apartemen itu untuk Arini saja. Siapa sangka, jika Satya akan menolaknya mentah-mentah. Bahkan membiarkan istri da mertuanya hampir seharian berdiri di luar.


"Arini, sudahlah apartemen itu memang milik Satya. Jadi tak usah lagi kau mengusiknya, lagi pula rumah ini cukup besar untuk kita dan Mamahmu juga bisa tinggal di sini. Dia bebas memilih kamar yang mana saja yang ia mau," Bayu mencoba memberikan pengertian pada Arini, tapi sayangnya perempuan cantik itu terlihat kesal dan malah membuat Bayu semakin kesal saja. Kenapa hal seperti ini saja Arini tak mau memahami posisi Bayu.


"Ternyata kau memang pria pembohong, kau bahkan tidak bisa menepati janjimu untuk memberikan apartemen itu padaku," ucapnya sambil terisak.


Bayu mengusap wajahnya dengan kasar, ia pikir jika Arini akan mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Seperti biasanya yang selalu pengertian padanya dan tak pernah banyak menuntut. Akan tetapi kini Arini malah semakin merajuk dan merengek padanya membuat Bayu sakit kepala saja.


"Tapi ..."


"Aku tidak ingin mendengar apapun pagi ini,"


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?" tanya Bayu yang masih heran dengan perubahan sikap dari istrinya ini, perubahan sikapnya mendadak membuat Bayu sakit kepala dan kesal secara bersamaan. Bayu heran, kenapa Arini sama sekali tak mengerti dengan apa yang ia katakan.


"Dulu uangmu sangat banyak, dan kau mampu memberikan aku apa saja. Bahkan dengan mudahnya memberikanku perhiasan dan lainnya. Lalu sekarang, aku ingin membeli mobil baru pun kau tak mengijinkannya,"


"Astaga Arini, bukankah kau sangat tahu alasannya kenapa sekarang kita harus menghemat. Itu karena perusahaan dipegang oleh Satya dan sebagian kekayaan yang aku miliki dulu adalah milik Rosa. Dan sekarang karena aku sudah bercerai dengannya, otomatis semua kembali ke pemiliknya. Dan aku pun sudah membahas semua ini padamu bukan, aku pikir kau mengerti,"

__ADS_1


Arini tak menjawab dan hanya memalingkan wajahnya yang terlihat kesal, akan tetapi untuk saat ini Bayu tidak mau mempedulikannya. Karena ia tidak ingin merusak mood paginya yang akan merusak pekerjaannya nanti saat di kantor.


Setelah selesai sarapan, Bayu pun kemudian berangkat dengan suasana hati yang kurang baik karena Istrinya sudah membuat ia kesal. Kesal karena akhir-akhir ini yang dibicarakan oleh Arini hanya tentang uang dan harta saja, Bayu sampai bosan mendengarnya.


Bayu berangkat ke kantornya, dan Lidya pun datang ke rumahnya. Lebih tepatnya rumah yang masih ada hak Rosa di sana.


"Bagaimana apa suamimu akan memberikan apartemen itu untuk Mamah?"


Baru datang saja, Lidya sudah membuat Arini kesal saja. Tak tahukah ia jika pertanyaannya itu membuat Arini tertekan, hingga ia pun menekan suaminya.


"Sudahlah Mah, jangan membahas itu lagi. Aku pusing mendengarnya,"


Lidya hanya berdecih mendengar ucapan putrinya ini, karena sepertinya mimpi menjadi orang kaya, sirnalah sudah. Akan tetapi ikut tinggal di rumah mewah ini, ia pikir tak ada salahnya. Jadi Lidya bisa sedikit memaafkan kegagalan untuk mendapatkan apartemen itu. Karena rumah ini pastinya jauh lebih mahal dari apartemen itu.


Baru saja ia masuk ke dunia khayalannya, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi. Arini pun kemudian membalikkan tubuhnya dan membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Namun, kedatangan orang itu membuat Arini sangat terkejut.


"Kau!"


****


Visual Mamah Rosa nih, cantik gak 🤗



Dan ini visual duda matang, Tama


__ADS_1


__ADS_2