Suami Bayaran

Suami Bayaran
Bab 87


__ADS_3

Rosa dan Tama kini berada di sebuah taman kota, tepatnya di pinggir sebuah danau. Tempat yang sering kali ia temui jika ia sedang merasa gundah. Entah apa yang Tama pikirkan, karena kini ia membawa Rosa kesana.


Dan untuk Rosa, saat ini hatinya terasa tenang. Suasana di sana membawa ketenangan untuk hati Rosa. Ia merasa sedikit lega, walaupun tadi ia sempat merasakan pikirannya kacau dan juga kalut. Hatinya pun terasa sakit, seperti terkena hantaman yang cukup membuatnya terguncang. Saat ia melihat Tama bersama dengan istri barunya.


Tak bisa dipungkiri, hatinya sakit saat melihat mantan suami yang dulu sangat ia cintai, yang namanya terukir begitu indah di hatinya. Kini pria yang dulu sangat istimewa di hatinya itu, telah menjadi milik orang lain.


Dihadapannya pria itu membawa pengganti dirinya, jika dulu Rosa lah ia gandeng, tapi kini posisinya itu menjadi milik istri baru Bayu. Sesak sudah pasti, sakit itu yang ia rasakan. Sayangnya ia tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya pasrah menerima keadaan.


""Bagaimana perasaanmu?" tanya Tama, pandangannya kini tertuju pada Rosa yang tengah menikmati suasana yang membuat hatinya tenang ini.


"Perasaanku sangat tenang, tadi aku sempat kacau. Maaf, seharusnya aku tidak terlihat kacau seperti tadi," ucap Rosa memperlihatkan senyumannya yang sangat cantik.


"Kenapa minta maaf padaku?" Tama tertawa melihat Rosa yang menurutnya adalah seorang perempuan yang lucu. Menurut pandangan Tama, selama akhir - akhir ini. Rosa adalah tipe perempuan yang tidak mau memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang lain. Hatinya sakit, tapi semua itu ia pendam sendiri. Ia tipe perempuan ceria, keras kepala akan tetap berhati lembut. Dia adalah seorang perempuan yang unik di mata Tama.


"Apa aku terlihat menyedihkan?" tanya Rosa.


"Lumayan,"


"Ishhh ..."


"Jangan bersedih dengan masa lalu, anggaplah masa lalu sebagai bagian dari hidup kita. Dan jangan pernah mengenang hal yang akan menyakitkan, karena itu hanya akan membuat hatimu terluka. Jika kau ingin membuka lembaran lalu, maka kau harus siap menutup cerita lama," ucap Tama panjang lebar.

__ADS_1


"Apa saat kau berpisah dengan istrimu, kau tidak merasa sedih?" tanya Rosa penasaran, karena dari cerita yang ia dengar jika Tama ini dulu sangat mencintai mantan istrinya. Hingga ia melupakan anak-anaknya dan hanya fokus pada Mirna. Jika ditanya dari mana Rosa tahu, Rosa tahu sedikit tentang masa lalu Tama dari Mawar.


Rosa rupanya senang mengorek kehidupan Tama di masa lalu dari Mawar, karena dulu Mawar bersahabat dengan Zein. Sedikitnya ia tahu tentang Tama dari Zein yang dulu selalu bercerita padanya. Di saat hubungan mereka pernah dekat sebagai sahabat. Namun, kini hubungan Mawar dan Zein tak lebih hanya sebagai atasan dan juga sekretarisnya.


Karena kini mereka sudah mempunyai kehidupan rumah tangga masing-masing, tak baik jika bersahabat dengan lawan jenis. Untuk itu mereka hanya berkomunikasi jika sedang ada pekerjaan saja. Tak pernah lebih dari hati, karena baik Zein maupun Mawar mereka harus bisa menjaga masing-masing dari pasangan mereka. Dan selalu menjaga sikap agar tidak ada yang terluka.


Mendapatkan pertanyaan dari Rosa, Tama menghela napasnya. Sejenak kemudian ia tersenyum dan melihat ke arah Rosa.


"Apa kau ingin tahu bagaimana perasaanku dulu saat berpisah dengan istriku?" tanya Tama, Rosa pun mengangguk mantap. Ia sangat penasaran, wanita seperti apa yang bisa menyia-nyiakan pria setampan dan sebaik Tama.


"Ceritakanlah, aku sangat ingin tahu," Rosa terlihat merengek pada Tama, sungguh ia penasaran dengan kehidupan Tama dulu.


"Mirna adalah seorang perempuan yang mampu membuat pandanganku gelap, dengannya aku bisa melupakan semuanya. Kau tahu semuanya... semuanya aku lupa dan hidupku hanya untuk Mirna," Tama sejenak menjeda ucapannya.


"Beruntung sekali Mirna, tapi kenapa kalian bisa berpisah?"


"Sepanjang kehidupanku, aku dedikasikan hidupku hanya untuknya. Seluruh cinta dan kasih sayangku semua aku berikan. Apapun yang ia inginkan, akan selalu aku usahakan. Bahkan hingga titik darah penghabisan, semuanya aku serahkan,"


Mendengar cerita Tama, sungguh hati Rosa sangat tersentuh. Cinta yang dimiliki oleh pria disampingnya ini sangatlah besar. Ia ingin sekali menggantikan posisi Mirna yang begitu istimewa di hatinya.


"Tapi kau tahu apa yang ia lakukan padaku? Ia sama sekali tak pernah menghargai apa yang aku lakukan padanya. Tak sedikit pun ia merasakan simpati atau memberikan kasih sayang dan juga perhatian padaku. Dunia ini hanya tentangnya, tak pernah ada tentangku. Dan itu sangat menyakitkan untukku. Tak pernah sedikitpun ia memperhatikanku sebagai suaminya. Tak pernah sedikitpun ia memberikan perhatiannya. Yang ia lakukan hanyalah tentang kehidupannya,"

__ADS_1


"Benarkah seperti itu?" Tama pun mengangguk mengiyakan, hingga sampai di titik akhir hatiku terasa sangat lelah. Di saat tahun-tahun terakhir kebersamaan kami. Kami mendapatkan hukuman dari apa yang telah aku perbuat pada putraku sendiri,"


Tama Bun kemudian menceritakan tentang ia yang menjual Zein, hanya demi kebahagiaan Mirna. Dan itu membuat Rosa sangat terkejut, ia tak bisa membayangkan Bagaimana egoisnya seorang Mirna terhadap Tama.


Tama "menceritakan perjalanan hidupnya setelah ia dibuang oleh keluarga Guntara untuk menjalankan hukuman karena kesalahan yang mereka perbuat. Hingga sampai akhirnya ia menjadi pegawai bangunan dan bekerja keras demi menghidupi Mirna. Akan tetapi dalam kesusahan itu, Mirna sama sekali tidak pernah mempedulikannya. Yang ia pedulikan hanyalah tentang hidupnya, hidupnya dan kebahagiaannya.


Hingga tibalah di titik akhir kesabaran Tama, di mana Tama sudah merasa sangat lelah dengan sikap Mirna yang tak pernah memperdulikannya. Seberapa pun kerasnya Tama berjuang, sama sekali tak ada harganya di mata Mirna.


Dan di situlah Tama memutuskan untuk berpisah, dia mulai mengingat kembali anak-anaknya dan ingin sekali meminta maaf kepada Zein dan juga Zaira. Namun, hatinya terlalu malu untuk mengungkapkan semua itu, hingga akhirnya tanpa ia tahu jika sebenarnya putranya itu selalu mengikutinya.


Dari sanalah Tama memulai lembaran baru lagi dan hidup bahagia bersama dengan anak dan juga cucunya, tak pernah terbesit sedikitpun tentang Mirna dalam pikirannya. Ia sudah mengubur masa lalunya yang sangat menyakitkan dan takkan pernah mau mengingat ataupun mengenangnya lagi. Cukup sudah cerita yang menyakitkan, karena sesuatu yang menyakitkan tak pantas Untuk dikenang.


Mendengar cerita Tama, Rosa menjadi sedih. Ia menangis. Karena ternyata pria tampan di sampingnya ini mempunyai seribu cerita tentang kehidupannya. Namun, dari sini Rosa paham jika yang diucapkan oleh Tama adalah benar adanya. Karena sesuatu yang menyakitkan tak pantas untuk dikenang, cukuplah sampai di sini dan dia akan membuka lembaran hidup baru yang benar-benar baru.


Dalam hatinya Rosa berdoa semoga Tama yang akan menjadi cerita hidupnya yang baru, dan membuka lembaran baru.


*****


Yang lagi nunggu karma Bayu, sabar ya karena ceritanya harus bertahap agar alurnya jelas 😘😘😘


Kalau like dan komentarnya banyak, nanti aku bakal up lagi 😁

__ADS_1


Sambil nunggu cerita ini up, mampir di cerita- cerita aku yang lainnya 😍


__ADS_2