
"Astaga apa yang aku bicarakan," gumam Rosa.
"Benarkah dengan apa yang kau katakan tadi?" tanya Tama dengan tersenyum ke arah Rosa yang saat ini mendadak gugup. Membuat keadaan Rosa semakin tidak baik-baik saja. Tak tahukah Tama jika senyumannya itu mampu membuat dunia Rosa jungkir balik, bahkan ginjalnya sampai bersalto ria.
"T-tidak, ya ampun tadi aku salah bicara. Maafkan aku, pikiranku sedang sangat kacau tadi, jadi aku pasti bicara sembarangan," ujar Rosa sambil tertawa sumbang. Sungguh saat ini ia sangat malu sekali, hingga ia tak berani menatap Tama secara langsung. Ia terus saja menyembunyikan wajah cantiknya, yang kini entah sudah semerah apa. Membuat Tama semakin gemas saja, melihat janda cantik ini.
"Ahhh ... aku sangat kecewa mendengarnya. Aku pikir kau menyukaiku," ucap Tama memasang wajah pura-pura kecewa, karena ia pun tahu jika wanita ini juga tengah memiliki perasaan yaang sama dengannya. Dari mana Tama tahu, karena hanya dengan menatap mata Rosa saja ia sudah sangat tahu jika perempuan ini memiliki perasaan terhadapnya. Pandangannya selama ini selalu malu-malu kambing padanya, akan tetapi terlihat sangat menggemaskan di hadapan duda matang ini.
"A-apa, apa maksudmu itu. Kau sedang bercanda kan?" astaga jantung Rosa saat ini hampir melompat keluar dan ingin berlari menjauhi Tama, agar berdetak normal seperti biasanya.
Tapi Tama malah menggelengkan kepalanya dengan ekspresi menggemaskan. Hingga ginjal Rosa semakin berdegup tak karuan, bahkan saat ini ia harus mengatur napasnya agar bisa bernapas dengan normal. Apa pria yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya ini memiliki perasaan yang sama dengannya. Jika iya, pasti saat ini Rosa akan pingsan karena terlalu bahagia. Ya, saat ini Rossa hampir saja pingsan mendengar ucapan Tama yang membuat tubuhnya terasa melayang-layang.
"Tidak! Aku tidak bercanda aku memang berharap jika kau menganggapku lebih dari seorang sahabat. Aku berharap jika kau menganggapku sebagai seseorang yang spesial. Seseorang yang mungkin bisa menghangatkan hatimu, seseorang yang bisa menggetarkan jiwamu dan bahkan memberikan kenyamanan dan kehangatan dalam tidurmu,"
Rosa cukup terkejut mendengar perkataan Tama padanya, benarkah apa yang pria ini katakan barusan, jika ia menginginkan Rosa menganggapnya spesial. Ini bukan mimpi kan, karena jika ini hanya mimpi maka Rosa akan sangat kecewa.
"Apa kau serius?" tanya Rosa, ia hanya ingin memastikan pendengarannya tidak salah. Jika saat ini Tama sedang mengungkapkan perasaannya kepada Rosa.
"Sangat, aku sangat serius dengan perasaanku padamu. Awalnya aku merasa jika ini hanya perasaan biasa saja. Akan tetapi selama ini ternyata aku salah Rosa. Karena perasaanku padamu sangatlah istimewa, ini adalah perasaan yang indah. Rosa, aku mencintaimu,"ucapan Tama mampu membuat jantung dan ginjal Rosa hampir berpindah tempat, bahkan kini ia sudah sesak napas saking bahagianya.
"Maukah kau menjadi istriku?" ucap Tama lagi. Saat ini Tama sedang sangat serius mengungkapkan perasaannya kepada Rosa. Ia sedang melamarnya dan Tama menginginkan jika Rosa menjadi istrinya. Akan tetapi respon Rosa sangat mengejutkan Tama. Karena dengan tiba-tiba tubuh rosalimbung dan kemudian terjatuh.
Brukk
Rosa pingsan karena terlalu bahagia, ia sudah tak mampu lagi menahan debaran jantungnya hingga pada akhirnya ia pun jatuh pingsan. Reaksi jantung dan hatinya memang sangat luar biasa saat mendengar Tama melamarnya. Karena semua itu adalah impiannya yang menjadi kenyataan, tak pernah sedikitpun Rossa mengira jika pria yang selama ini ia suka juga mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.
__ADS_1
Sontak saja Tama sangat terkejut, jika wanita yang baru saja ia lamar ternyata pingsan. Ia pun panik dan langsung membawa Rosa ke rumah sakit.
Tama pikir, jika setelah mendengar lamarannya maka Rosa akan memeluknya, menciumnya, dan bahkan mungkin langsung mengajaknya ke penghulu. Akan tetapi ternyata perempuan ini malah pingsan saat mendengar Tama melamarnya. Sungguh diluar nurul memang sang Ratu kodok ini.
*
*
*
Saat membuka mata, Rosa mencium aroma obat yang sangat kuat. Ia juga melihat jika suasana di sekelilingnya berwarna putih. Itu artinya, ia sedang berada di rumah sakit. Ia memegang kepalanya sambil mengingat-ingat bagaimana bisa ia bisa berada di rumah sakit.
Ia pun kemudian melihat ke sekelilingnya, dan pandangannya kini mengarah pada Tama yang sedang tersenyum ke arahnya. Debaran jantungnya menjadi tidak normal lagi. Kenapa pria ini senang sekali membuat jantungnya terkejut.
"Tama," ucap Rosa, dan kemudian ia pun mencoba untuk duduk dan dibantu oleh Tama.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja. Kau membuatku hampir terkena serangan jantung, dan kau malah tersenyum menyebalkan," Rosa merajuk pada duda matang ini.
"Jadi bagaimana?" tanya Tama.
"Apanya yang bagaimana?"
"Saat kau pingsan tadi kau tidak hilang ingatan kan?"
Rosa pun jadi teringat jika Tadi Tama melamarnya, tapi apakah benar dengan apa yang ia katakan. Rosa takut jika Tama hanya mempermainkannya saja.
__ADS_1
"Anak dan menantuku bahkan sudah sangat setuju dengan hubungan kita,"
"A-pa! Benarkah?"
"Tentu, untuk apa aku berbohong padamu. Aku pernah mengatakan padamu, jika aku memberikan hatiku pada seorang perempuan, maka perasaanku ini tidak akan main-main." Tama berusaha untuk meyakinkan Rosa, karena saat ini ia sedang sangat serius.
"Apa kau tahu Tama, saat ini kau sudah dua kali membuatku terkena serangan jantung,"
"Apa jawabanmu Rosa, aku tidak ingin menunggu dan meminta jawabanmu saat ini juga," Rosa pun tersenyum ke arah Tama, senyum yang sangat manis dari janda cantik ini.
"Baiklah, jika kau memaksa. Aku mau menjadi istrimu, tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak membuatku menjadi janda lagi," Tama tertawa mendengar jawaban Rosa. Jawabannya sangat aneh dan membuat lambung Tama merasa geli saat mendengarnya. Tapi sungguh ia sangat bahagia saat ini.
"Hei Nyonya, tidak ada yang memaksamu di sini," ucap Tama membuat Rosa mengerucutkan bibirnya kesal. Padahal ia ingin Tama sedikit memaksanya, itu akan membuat Rosa terasa mahal. Tapi bukannya memaksa, duda matang ini malah menertawakannya.
"Iissh kau ini memang sangat menyebalkan, setidaknya kau harus memaksaku agar aku mau menjadi istrimu,"
Cup
Tidak bisa lagi menahan gejolak yang ada di hatinya Tama pun kemudian mencium bibir Rosa yang terlihat sangat menggoda. Awalnya hanya kecupan biasa, akan tetapi ******* yang membuat keduanya tenggelam dalam lautan gelora cinta mereka berdua. Dimana selama ini kedua orang ini sama-sama menahan perasaannya.
"Oh ya ampun, apa ini saatnya aku punya adik!"
Tiba-tiba saja pangeran kodok datang dan merusak suasana romantis itu. Tama jadi menyesal karena sudah memberitahu calon anak sambungnya ini, jika Rosa tengah pingsan dan dia membawanya ke rumah sakit.
'Memalukan,' Tama membatin.
__ADS_1
****
Cubit aja ginjal pangeran kodok ini, ganggu aja sihh πΆππ