
Sudah hampir tiga bulan Kevin Sanjaya membuka perusahan baru miliknya,dia sangat bersyukur karena semuanya berjalan sesuatu keinginannya dan dia juga merasa bingung karena akhir-akhir ini perusahan kecilnya banyak sekali para investor baru membuatnya semakin semangat dalam bekerja.
Sedikit pun Kevin tidak pernah mengeluh di hadapan mamanya dan dia juga membiarkan papanya melakukan semuanya,dia ingin menunggu waktunya papanya datang memohon maaf kepadanya dan juga mamanya.
Walaupun kantornya masih sangat kecil,dia tidak peduli,bahkan ada juga para pesaingnya dulu menghinanya beberapa bulan belakangan ini dia sama sekali tidak peduli,dia masih semangat memulai dari nol itu karena Hanna juga selalu memberikan dukungan kepadanya.
Drtttt....Drtttt....Drttt
Kevin kaget dari lamunannya saat ponsel yang dia letakkan di atas meja berdering,dia mengambil ponselnya dan melihat peneleponnya.
"Ada apa dengannya,sudah beberapa bulan ini,dia selalu menghubungiku,apa dia masih belum sadar juga,apa dia ingin aku tetap membantunya sementara aku saja sudah bangkrut." Ucap Kevin,dia kembali mengabaikan panggilan calista.Dan lagi-lagi wanita itu menghubunginya mungkin dia tidak lelah menghubunginya.
📞 Ada apa nyonya Calista,aku sedang sibuk.
__ADS_1
📞 Baiklah aku akan menemui mu sekarang juga.
Kevin mengakhiri panggilannya lalu beranjak dari tempat duduknya menemui Calista calon mertuanya kelak,bagaimana pun juga sebagai pria terpelajar dia harus menghormati wanita itu.
Mereka bertemu di sebuah cafe kecil di tengah kota,Kevin menepikan mobilnya saat menemukan cafe yang di beritahu oleh Calista.
Calista sangat bahagia saat melihat kedatangan Kevin,dia sedikit aneh dengan penampilan Kevin yang jauh dari kata mewah,bahkan pria itu terlihat sedikit lebih kurus dari sebelumnya.
Calista menemuinya hannya memakai daster biasa,layaknya seorang wanita pada umumnya rambut yang di ikat kebelakang dan wajahnya terlihat semakin menuai dan keriput dimana-mana.
"Ada apa nyonya menyuruhku datang kemari?" Tanya Kevin,dia mengurungkan niatnya untuk menanyakan keadaan Calista,dia tidak mau di cap lelaki tidak punya moral.
"Hehe...Kamu langsung ke intinya,setidaknya basa-basi sedikit saja,bukankah suatu saat aku akan menjadi mertuamu juga,tapi maaf ya nak kok perasan ku kamu banyak berubah,kamu terlihat kurus dan penampilan juga tidak menunjukkan kamu seperti pria berduit lagi." Ucap Calista,dia berbicara sedikit pelan dia takut ucapannya menyinggung perasaan Kevin Sanjaya.
__ADS_1
"Iya benar seperti yang kamu lihat,aku bukan orang kaya lagi,keluargaku sudah bangkrut,tapi aku tidak masalah karena wanita yang aku cintai tetap berdiri di sampingku walaupun keadaan ku seperti ini." Ucap Kevin,dia sengaja menekan ucapannya,dia ingin wanita itu sedikit tersinggung dengan ucapannya.
"Huh....Memang benar Hanna adalah wanita yang baik,dan bertanggung jawab aku tau itu,maka dengan itu aku memutuskan meninggalkan mas Hendra dan kembali kepada anak-anakku,aku sangat menyesal dengan semua perbuatan ku di masa lalu,aku tau aku memang tidak layak di terima oleh mereka tapi aku akan berusaha merubah hidupku sampai mereka benar-benar memaafkan aku.Kevin,aku mohon tolong beritahu aku mereka tinggal dimana sekarang?" Tanya Calista setelan dia berbicara panjang lebar.
Kevin memberitahu alamat Hanna dan kedua adiknya,biar bagaimana pun di masa lalu Calista tetap lah mama mereka,itu tidak bisa di pungkiri dan semoga saja mulai hari ini semua berjalan dengan baik-baik.
Sementara itu disebuah gedung mewah,Hamdan sangat emosi melihat perkembagan perusahannya yang semakin hari semakin menurun,sudah tiga bulan belakangan ini perusahannya tidak berjalan dengan lancar bahkan para pemilik saham sudah mulai bolak-balik datang menanyakan kinerja perusahaan itu,mereka sangat menyangkan sikap Hamdan yang mengantikan Kevin sebagai pengelola perusahaan itu.
"Mas,aku dengar Kevin sudah membuka perusahan baru,sepertinya dia sangat marah kepadamu,aku takut dia akan menyerang balik kita."Ucap Bella,Hamdan menatap sinis kepada wanita itu.
"Kamu harus siap menerima semua karma dari perbuatan mu."Ucap Hamdan dengan emosi.
*** bersambung***
__ADS_1