
Sudah hampir jam sembilan Kevin belum juga bangun,dia masih tertidur pulas di kamarnya,ayahnya yang sudah menunggunya di kantor hanya bisa marah kepada Sambo,dia menyalahkan asisten itu yang tidak bisa menjaga Kevin dengan baik.
"Sekarang kamu berangkat ke rumah dan seret anak itu ke hadapanku,umur sudah tua tapi kelakuannya kayak bocah,bagaimana bisa hannya karna wanita dia bisa bersikap seperti itu tiap hari mabuk-mabukan,kamu juga sebagai asisten jika kamu tidak bisa menjaga dia dengan baik lebih baik kamu mengundurkan diri saja,masih banyak orang yang menginginkan posisi mu itu."Ucap Hamdan,dia sangat marah saat melihat laporan keuangan yang sangat buruk bahkan beberapa klien membatalkan kerja sama sepihak karna kesalahan fatal yang dilakukan oleh Kevin Sanjaya atau anak semata wayangnya.
"Baik tuan "Jawab Sambo,dia meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kecewa,dia adalah orang yang selalu disalahkan saat Kevin melakukan kesalahan,bahkan sekarang ini dia tidak tau bagaimana menghadapi pria itu,walaupun umurnya sudah sangat dewasa tapi entah kenapa semenjak kehilangan Hanna sikapnya benar-benar berubah.Dia mengabaikan semua pekerjaannya di kantor,setiap malam dia mabuk-mabukan bahkan paling sedihnya dia pernah memergoki tuannya menagis pilu di ruangannya.
"Terus aku harus bagaimana,kenapa harus aku selalu salah dimata keluarganya,ini semua karna istrinya yang durhaka,bisa-bisanya ada wanita jahat seperti itu,mana ada pria yang doyan punya istri tempramental kayak gitu,tuan Kevin wanita seperti apa pun pasti dengan mudah bisa dia dapatkan."Batin sambo.Wajahnya yang masam keluar dari ruangan direktur lalu turun menggunakan lift,beberapa staf melihatnya dengan heran.
"Selamat pagi tuan,"Setiap kariawan yang bertemu dengannya selalu menyapa dengan sopan tapi karna moodnya yang buruk hari ini dia mengabaikan mereka dia keluar menuju parkiran dan berangkat menuju rumah tuannya.
Sambo berjalan memasuki rumah,karna dia adalah kaki tangan pemilik rumah semua orang juga menghargai dia dirumah itu sama seperti tuannya.
"Dimana tuan Kevin?" tanya Sambo kepada Butet yang sedang membersihkan ruang tamu,sementara Bella sedang keluar menghabiskan uang suaminya.Semenjak dia tidak bekerja di rumah sakit milik suaminya bahkan dia dikeluarkan dari ikatan dokter Indonesia atau disebut IDI,dia hannya menghabiskan waktu di rumah kadang ke salon bahkan shoping.
"Beliau masih di kamar tuan,bahkan dia belum keluar dari kamar mulai dari tadi pagi."Ucap Butet,Sambo langsung bergegas berlari menaiki tangga lalu membuka pintu dan benar saja otak yang biasanya sangat disiplin hari ini dia masih tidur dengan pulas.
__ADS_1
"Tuan....Tuan,bangunlah tuan besar sudah menunggu anda di rumah sakit."Ucap Sambo,dia mengguncang tubuh Kevin hingga pria itu membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan disini pergilah,aku malas berangkat ke kantor hari ini,rasanya untuk bangun saja aku sangat malas."Jawab Kevin.Sebenarnya Sambo antara kasihan dan jengkel melihat tingkah Kevin umur sudah tua tapi bisa-bisanya dia bersikap seperti bocah.Dia seperti bukan Kevin yang dikenalnya berwibawa dan sangat disegani tapi sekarang dia berubah menjadi pria cengeng.
"Tuan maafkan aku,tolong ikut ke kantor bersama ku,tuan besar sudah sangat marah kepadaku ,aku sangat membutuhkan pekerjaan ini,jika tuan tidak ikut bersamaku mungkin ini terakhir aku menjadi asisten mu."Ucap Sambo.Mendengar ucapan dari asistennya dia akhirnya bangun lalu menatap Sambo,
"Sejak kapan pak tua itu berani memberikan ancaman kepadaku,apa dia ingin aku menghancurkan segalanya,ingat aku muak dengan mereka semua,ayo kita ke kantor aku juga tidak mau terlalu egois."Ucap Kevin.Lalu dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi,Sambo keluar dari kamar dan menunggu tuannya di ruang tamu.
"Untung tuan Kevin masih bisa di ajak kerja sama hari ini,sebenarnya dia pria yang sangat baik dan punya rasa belas kasihan yang tinggi tapi sayang istrinya punya sikap yang egois dan sombong,akhirnya pernikahannya harus berakhir seperti ini."Batin Sambo,dia menikmati teh yang disuguhkan oleh Butet,pelayan yang selalu ramah kepada siapa pun.
*****
Kevin tidak bisa melawan atau membantah ucapan ayahnya karna memang benar,selama beberapa bulan ini dia tidak pokus menjalankan perusahaan,bahkan dia sering membatalkan sepihak setiap pertemuan dengan para kliennya.Untuk saat ini Kevin benar-benar tidak ada semangat untuk bekerja,
"Pokoknya papa tidak mau tau,kamu harus perbaiki semua kesalahan yang sudah kamu lakukan dan para klien yang sempat pergi bujuk kembali bagaimana pun caranya,papa tidak ingin karna masalah pribadimu,perusahan yang sudah berdiri kokoh hancur seketika."Ucap Hamdan.Wajahnya terlihat datar,dia menilai Kevin sangat berlebihan.
__ADS_1
*****
Hanna berdiri di atas balkon sambil menatap kebawah mobil yang terlihat sangat kecil bahkan nyaris tidak terlihat membuatnya sedikit terhibur.Entah kenapa hatinya merasa sangat kosong,dia seakan kehilangan sesuatu yang tidak tau apa dia mencoba keras untuk mengingat masa lalunya tapi entah kenapa itu sangat sulit dan usahanya hannya menyakiti diri nya sendiri.
"Aku seperti kehilangan sesuatu,tapi aku tidak tau itu apa,mungkin kah aku sudah punya suami atau anak kenapa yang tersisa di pikiranku hannya kedua adikku."Batin Hanna,dia tersenyum kecut memikirkan nasibnya, bagaimana dia akan menghadapi kedepannya tidak mungkin selamanya dia menumpang kepada Dewa pria baik yang sudah menyelamatkan hidupnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tiba-tiba saja dewa sudah berada di sampingnya,
"Tuan,kamu sudah pulang kenapa pulang secepat ini?" Tanya Hanna,lalu dia kembali menatap ke bawah walaupun dewa sangat baik kepadanya untungnya dia tidak salah menilai kebaikan yang di berikan dewa kepadanya.
"Sudah...Mau istrahat saja rasanya tubuhku sangat lelah hingga aku butuh istrahat."Ucap dewa dia berjalan meninggalkan balkon lalu Hanna mengekor dari belakang.
Hanna tampa disuruh langsung berjalan kebelakang lalu membuatkan kopi untuk pria itu,setidaknya dia punya kegiatan di apertemen itu dan terkesan tidak hannya menumpang hidup.
"Ini tuan kopinya." Hanna meletakkan kopi di atas meja,dewa menoleh ke arah Hanna rasanya dia kurang nyaman di layani oleh Hanna apalagi dia juga punya pelayan.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu melakukan ini kepadaku Hanna."
**** bersambung****