
Hanna sudah berjanji akan menjadi pelayan di apertemen dewa,bahkan rencananya dia ingin meminta supaya pelayan yang biasa melayaninya tidak perlu lagi datang karna dia sudah pintar menggunakan semua peralatan yang ada di apertemen itu.Entah kenapa rasanya Hanna sangat enggan jika tidak melakukan apa pun di apertemen itu sementara dia menumpang di sana.
"Tuan ini kopinya."Ucap Hanna lalu meletakkan kopi itu di atas meja.Dewa menghentikan aktifitasnya lalu menoleh ke arah Hanna.
"Han,kamu tidak perlu melakukan ini,kamu pokus saja sama kesehatanmu,."Ucap dewa,seketika wajah Hanna berubah sedih,
"Tuan aku mohon ijinkan aku bekerja di apertemen mu ini,aku sangat merasa tidak nyaman jika aku menumpang disini tapi aku tidak melakukan apa pun."Ucap Hanna dengan raut wajah sedih.Dewa melihat perubahan wajah Hanna sebenarnya dia sangat iba kepada wanita itu,dia tidak tau apa yang terjadi kepada wanita itu tapi entah kenapa dia merasa iba melihat Hanna.Bahkan dia tidak menginginkannya bekerja karna dia sangat tidak tega apa lagi dengan keadaanya yang belum sembuh.
"Han,bukannya aku tidak mengijinkan mu bekerja disini,tapi aku tidak tega membiarkanmu bekerja sementara kamu masih belum sembuh." Ucap dewa,dia tidak ingin melihat wajah sedih Hanna.
"Aku lebih tidak nyaman lagi,saat aku makan minum tapi tidak melakukan apa pun disini."Jawab Hanna.Akhirnya dewa menyetujui permintaan Hanna dia tidak tega melihat wajah sedih Hanna.
"Makasih tuan,mulai hari ini aku akan melakukan apa pun apa yang tuan minta,semoga hasil kerjaku tidak mengecewakanmu."Ucap hanna wajahnya terlihat lebih bahagia,Dewa hannya bisa tersenyum melihat tingkah Hanna yang sedikit kekanak-kanakan menurut dewa.
Hanna berjalan menuju dapur tiba-tiba dia mendengar bel berbunyi dia dan dewa saling menatap,akhirnya Hanna berjalan menuju pintu lalu membuka saat pintu terbuka dia sudah melihat teman-teman pemilik apertemen berdiri di depan pintu.
"Silahkan masuk tuan."Ucap hanna mempersilahkan mereka masuk,mereka menatap Hanna tidak suka,mereka tidak nyangka jika dewa ternyata memboyong wanita sampai ke apartemennya.
__ADS_1
"Ngapain wanita ini disini,keterlaluan dewa masak wanita begini di bawa ke apertemenya."Ucap salah seorang dari mereka, berbisik tapi mereka yakin jika Hanna mendengar bisikan itu.Kini Hanan sadar jika teman-teman tuannya tidak menyukainya,tapi dia tidak ambil pusing selagi pemilik apertemen itu tidak mempermasalahkannya.
"Siapa Hanna," terdengar dewa memanggilnya,dan keempat orang itu saling menatap akhirnya Hanna kembali masuk dan meninggalkan mereka.
"Teman-teman tuan."Jawab Hanna lalu masuk kedalam kamarnya tidak peduli bahkan tidak mau melayani orang-orang yang tidak menyukainya.Dewa mengerutkan keningnya melihat perubahan sikap Hanna.
"Hai....bro,ternyata kamu membawa wanita itu ke apertemen mu,kok bisa kamu membawanya kesini?" Tanya Rian,sambil mendaratkan bokongnya di atas sopa,lalu meletakkan minuman yang dia bawa di atas meja.
"Kenapa kalian datang kemari padahal aku lagi sibuk nih."Ucap Dewa,hari ini dia sedikit malas menyambut teman-temannya karna melihat Hanna yang langsung berubah saat temannya datang.
"Sibuk apaan sih,jangan-jangan karna sudah ada mainan baru,sudah tidak mau berteman dengan kita lagi."Jawab Rian ketus.Dia membuka minuman yang dia bawa,sudah biasa memang mereka datang mengunjungi dewa kalau mereka sedang ada waktu.
"Hahahaha sejak kapan seorang dewa tiba-tiba peduli dengan orang lain,jangan-jangan kamu suka sama tu bocah."Tanya Rian menyelidik tapi dewa tidak menanggapinya sama sekali.
Hanna berdiam di kamar sebenarnya dia sangat bosan tidak melakukan apa pun di dalam sana tapi dia tidak suka dengan teman-temannya dewa akhirnya dia membaringkan tubuhnya di ranjang sambil menunggu mereka keluar dari sana.
*****
__ADS_1
Hanna dan adiknya sedang duduk di belakang rumah,mereka terlihat santai karna kepala panti sedang membawa anak-anak panti untuk mengemis di jalanan.Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu Lisa tidak berani lagi berbuat kesalahan sedikit pun di hadapan wanita jahat itu karna dia tidak ingin dirinya dan adiknya semakin menderita di sana.
"Kak,sebenarnya siapa yang tega memukuli Kaka Hanna waktu itu,aku jelas-jelas mendengar pukulan demi pukulan di layangkan ke tubuh Kaka."Tanya Puspa.
Lisa hannya diam,rasanya dia tidak tega menceritakan semuanya kepada adiknya karna dia belum cukup dewasa untuk mengetahui semua rahasia kakanya.Semenjak mereka berada di panti sekolahnya pun terputus.
"Kaka juga tidak tau dek,sekarang Kaka sangat sedih karna akhirnya kita berdua harus putus sekolah,bagaimana dengan masa depan kita nanti Kaka juga tidak tau."Ucap lisa,ingin sekali dia kabur dari tempat itu tapi ketakutannya jauh lebih besar di bandingkan niatnya.Beberapa hari setelah mereka sampai di panti dia berusaha keras untuk membawa adiknya kabur tapi sayangnya mereka gagal pemilik panti itu menjaga mereka dengan sangat ketat.
"Seandainya om,Kevin tau kita disini aku yakin dia akan menolong Kita kak,dia pria yang sangat baik kak."Ucap Puspa.Lisa menghela napas berat,rasanya dia tidak percaya kenapa bisa Kevin begitu mencintai kakak nya sementara dia sendiri punya istri.
"Kakak kenapa Kaka diam saja,tidak bisa kah kita berusaha untuk kabur dari tempat ini lagi kak,aku sudah tidak kuat tinggal di tempat ini kak."Ucap Puspa dengan suara sedih,hal itu membuat Lisa semakin terluka,dia tidak tau bagaimana menjelaskan kepada Puspa bagaimana takutnya dia kehilangan adiknya.Lisa sangat takut jika mereka berbuat sesuatu yang membuat pemilik panti marah maka mereka akan dipisahkan itu ancaman yang pernah di ucapkan wanita jahat itu kepadanya.
"Sabar dek,Kaka tidak berani kamu berdoa saja semoga suatu saat kita bisa kabur dari tempat ini."Ucap Lisa,dia mengelus rambut adiknya.Saat ini Lisa hannya berharap dia dan adiknya tidak dipisahkan,dia sudah bertekad dalam hatinya apa pun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan adiknya karna cuma dia keluarga nya yang tersisa.Baginya dia menganggap mereka sudah yatim piatu mereka menderita karna ulah kedua orang tuanya yang terlalu egois dan mementingkan diri sendiri.
"Kakak!!!"
"Iya dek!!!!"
__ADS_1
"Sampai kapan kita menderita kak? Setelah orang tua kita membuang kita, kenapa orang yang sangat mencintai kita harus pergi,tidak kah Tuhan mengijinkan kita bahagia kak? Kenapa nasib kita begitu malang??" Mendengar penuturan adiknya tidak terasa air mata Lisa menetes,bahkan dia tidak tau harus menjawab apa untuk saat ini,yang bisa dia lakukan hanya memeluk tubuh adiknya.
**** bersambung****