
Chapter 107
Jia Li dan juga Firman yang mendengarkan cerita dari Bulan menjadi tersentuh, Jia Li sebagai wanita paham betul bagaimana rasanya sakit kehilangan keluarga.
Bedanya Jia Li dibuang oleh keluarganya sedangkan Bulan dibuang oleh kekasihnya padahal sudah rela meninggalkan keluarga demi sang kekasih tapi malah dikhianati.
Sedangkan Firman sendiri seperti memikirkan sesuatu setelah mendengar cerita dari Bulan tadi, ia seperti sedang memikirkan ulang bagaimana cerita Bulan tersebut karena saat dipikir kembali cerita Bulan itu sangat mirip dengan apa yang dialami oleh Karmila teman Firman yang keluarganya hancur akibat hutang ayahnya yang banyak.
Tapi setelah dipikir kembali dugaan Firman itu mungkin salah, karena dari cerita Bulan dia berselingkuh dengan rekan kerjanya, sementara cerita dari Karmila mengatakan bahwa ibunya berselingkuh dengan manajernya sendiri.
Karmila juga tidak pernah mengatakan siapa nama ibu ataupun ayahnya, alhasil Firman jadi sangat bingung dengan cerita dua orang yang hampir mirip tapi ada sedikit perbedaan tersebut. Akhirnya Firman memutuskan untuk bertanya langsung kepada Bulan agar tidak menjadi penasaran lagi.
"Maaf aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Firman dengan sopan karena berbicara dengan orang yang hampir seumuran dengan ibunya.
"Boleh hiks.....hiks....." balas Bulan dengan air mata yang masih menetes karena mengingat kembali masa lalu kelamnya.
"Kalau boleh tau, siapakah nama anakmu itu?" tanya Firman penasaran.
"Namanya Herlina," jawab Bulan merasakan kesedihan yang mendalam karena kembali mengingat anaknya tersebut.
Bulan sangat menyesal telah meninggalkan anaknya bersama dengan suaminya dahulu, sebenarnya Bulan juga tahu kelakuan buruk sang suami, tapi karena telah termakan untaian kata-kata manis dari rekan kerjanya jadilah Bulan pergi dari rumah meninggalkan anak dan suaminya.
'Berarti bukan dia ibu dari Karmila, aku pikir jika benar maka aku bisa mempertemukan mereka dan bisa saling memaafkan, tapi ya sudahlah mungkin belum waktunya,' batin Firman agak kecewa saat mendengar jawaban dari Bulan barusan.
"Untuk apa kamu bertanya tentang anakku?" tanya Bulan karena merasa heran dengan Firman yang bertanya tentang sang anak.
__ADS_1
"Tidak apa apa. Baiklah ayo kita kembali ke desa, ini sudah mulai larut malam berbahaya jika terus berada di sini," ujar Firman.
Mereka bertiga kemudian berjalan untuk kembali menuju desa dengan keadaan gelap karena hari sudah malam, Jia Li membantu Bulan berjalan karena Bulan agak sulit berjalan diakibatkan tubuhnya yang kelelahan disiksa terus menerus oleh Wirjo dan anak buahnya.
"Nama kamu siapa cantik?" tanya Bulan kepada Jia Li.
"Nama aku Jia Li tante," jawab Jia Li tersenyum tampak sangat manis.
"Nama kamu indah sekali, sesuai dengan artinya 'Indah' pasti yang memberikan nama itu orangnya tahu jika nanti kamu akan menjadi gadis yang cantik indah seperti ini," balas Bulan memuji kecantikan Jia Li yang memang tidak usah diragukan lagi, bahkan mungkin jika Jia Li hidup pada jaman kerajaan jaman dulu, mungkin sudah terjadi perang antar kerajaan karena memperebutkan dirinya.
"Terima kasih tante, tante juga cantik kok," ucap Jia Li balas memuji Bulan.
Bulan menanggapinya hanya dengan tersenyum, memang Bulan memiliki wajah yang cantik di usianya yang sudah lumayan ini, tapi dia merasa kecantikan tersebut membawa kutukan baginya.
Kecantikan yang dimiliki Bulan itulah yang membuat ia harus mengalami semua hal yang membuat Bulan merasa dirinya sangat buruk, Bulan merasa dirinya sangat kotor karena telah digunakan oleh banyak sekali pria yang hanya menginginkan tubuhnya saja tanpa mau bertanggung jawab.
Firman yang mendengar obrolan mereka dari awal juga mendengar gumaman Bulan barusan, Firman tahu jika Bulan merasa tidak pantas dikatakan cantik karena dirinya yang merasa tubuhnya sudah sangat kotor.
"Kecantikan datangnya bukan dari wajah maupun tubuh, tapi dari hati yang bersih dan bisa menerima apapun tanpa menghakimi orang," ucap Firman yang membuat Jia Li dan Bulan tertegun mendengarnya.
"Ya kamu benar, tapi seorang wanita yang tubuhnya sudah sangat kotor dan hatinya sudah ternoda dengan keserakahan serta kesombongan, apakah itu masih bisa dikatakan cantik?" balas Bulan mengungkapkan isi hatinya.
"Itu memang buruk, tapi semua manusia pasti memiliki suatu hal yang menyakitkan di hidupnya, orang jahat yang mau berubah demi menjadi lebih baik itu lebih hebat ketimbang orang yang sok baik tapi suka mengatai orang lain jahat tanpa melihat dirinya sendiri," ucap Firman yang membuat Bulan tersentuh mendengarnya.
Mereka terus berjalan menyusuri hutan yang lumayan lebat tersebut hanya bermodalkan sebuah senter untuk penerangan.
__ADS_1
"Sayang, ibu kamu sama warga tadi dimana? Apakah mereka sudah kembali ke desa? " tanya Jia Li yang teringat dengan para warga yang tadi diselamatkan dari pabrik.
"Aku sudah menyuruh mereka kembali terlebih dahulu tadi sore, mungkin saat ini sudah sampai di desa," jawab Firman.
Setelah berjalan lumayan lama akhirnya mereka sampai juga di pinggir hutan tempat dimana awal masuk hutan, di depan terlihat rumah-rumah warga desa.
Sampailah Firman di depan rumah ibunya yang terlihat sudah terbuka, ada juga beberapa warga yang masih menunggu di sana mungkin menunggu kedatangan Firman yang telah menyelamatkan mereka dari kejamnya penjaga pabrik.
Tari yang melihat anak kesayangannya telah kembali, langsung menghampiri Firman dan memeluknya erat meskipun tubuh Firman masih penuh dengan darah bekas pertempuran di pabrik tadi.
"Kamu gak papa kan nak? Gak ada yang luka kan? Kaki kamu gimana? Apakah sakit? Tangan kamu gak sakit?" Firman langsung diberondong pertanyaan oleh ibunya karena merasa sangat khawatir melihat keadaan Firman.
"Aku gak papa bu, gak ada yang luka sama sekali," ucap Firman menjawab pertanyaan ibunya dengan tersenyum senang.
Firman sudah lama tidak mendengar suara sang ibu makanya saat bertemu dengan ibunya kembali Firman sangat senang, meskipun ibunya agak cerewet tapi itulah yang dirindukan oleh Firman dari ibunya.
"Eh Bu....Bulan..." ucap Ibu Firman kaget saat melihat Bulan yang sedang dipapah oleh Jia Li.
Bulan yang mendengar ada yang memanggilnya pun melihat siapa orang yang memanggil dirinya barusan, saat Bulan menoleh kearah Tari, betapa kagetnya Bulan.
"Kak Tari!!" ucap Bulan spontan sanking kagetnya.
"Bulan!!" mereka berdua mendekat dan langsung berpelukan.
Para warga yang ada di sana terlihat bingung tidak dengan apa yang terjadi, Firman dan Jia Li sendiri juga bingung kenapa ibunya bisa kenal dengan Bulan bahkan sampai berpelukan seperti tidak bertemu sangat lama.
__ADS_1
"Ya Ampun, aku tidak menyangka akan bertemu kamu lagi," ucap Tari ibu Firman setelah melepas pelukannya.
"Aku juga gak nyangka kak bisa bertemu kakak kembali hiks.....hiks....." ucap Bulan menangis haru.