
Chapter 146
Pertemuan pun diadakan dengan dihadiri lebih banyak orang yang kemungkinan semuanya merupakan pemegang jabatan tinggi di kepolisian, bahkan sampai ada beberapa anggota tentara yang turut hadir dalam pertemuan kali ini.
Firman sendiri hanya diam saja sepanjang jalannya acara, dia sebenarnya ingin membuka semua apa yang ia dapatkan setelah menghancurkan dua organisasi dibawah mafia luar negeri.
Namun begitulah, Firman melihat ada banyak sekali orang yang memiliki jabatan tinggi di kepolisian maupun tentara, yang sepertinya sedang mencoba mencari popularitas maupun perhatian atasan nya masing-masing.
Hal itu sudah dapat dipastikan dengan mereka yang dengan angkuhnya menyombongkan keberhasilan masing-masing dalam mengungkap informasi tentang penjualan obat yang sedang marak terjadi.
Mereka melakukan itu pastinya dengan harapan agar dinaikan jabatannya ataupun mendapatkan bonus tambahan, namun sayang sekali keberhasilan mereka tidak ada yang sebanding dengan Firman yang sudah membongkar banyak sekali informasi serta bukti tentang organisasi mafia luar negeri.
Untungnya Angga dan para petinggi lainya seperti bisa diajak kompromi, mereka hanya diam saja tidak menanggapi para bawahannya yang sedang menggonggong seperti hewan mencari perhatian tuannya.
'Keberhasilan mereka tidak ada yang sebanding dengan Firman ataupun Junita, tapi ingin dinaikan jabatannya melebihi mereka, akhirnya aku tau kebusukan kalian!' batin Angga yang melihat para anggotanya yang masih terus mencari perhatian.
............
Setelah pertemuan selesai, Firman pergi keruangan Angga untuk melaporkan hasil yang didapatkan dalam misi kemarin, sekalian bertemu dengan para petinggi lainya yang sepertinya juga sedang berada di ruangan Angga.
Cklek...
Saat membuka pintu ruangan, Firman melihat ada beberapa orang yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam ruangan milik Angga.
Dari seragam serta berbagai lencana yang terletak di baju mereka, Firman bisa menebak jika mereka semua memiliki pangkat yang tinggi baik di kepolisian maupun di militer tentara.
"Selamat datang kembali, Firman!" ucap Angga menyambut kedatangan Firman dengan gembira karena bisa lolos dari amukan anaknya, Ika.
Flashback...
Setelah Firman mengatakan rencananya kepada Angga dan Junita waktu itu, Angga dihubungi oleh anaknya yaitu Ika untuk sekedar bertanya mengenai kabar Firman.
"Halo Pa, gimana kabar tentang suami aku?" tanya Ika dari seberang telepon.
Angga yang ditanya seperti itu menjadi gugup seketika saat ingin menjawabnya, ia bingung harus menjawab apa kepada sang anak mengenai kabar Firman.
__ADS_1
Jika Angga menjawab Firman baik-baik saja itu tidak mungkin karena sama saja ia berbohong, namun jika menjawab jujur dengan mengatakan bahwa Firman saat ini sedang bertaruh nyawa untuk menyerang kelompok mafia besar, bisa habis Angga dimarahi anaknya.
"E... Suami kamu sedang mengerjakan tugas, dia baik-baik saja," jawab Angga dengan sedikit kebohongan untuk membuat Ika tenang.
"Baiklah, aku minta supaya Papa memberitahu aku terus kabar tentang dia," ujar Ika
Setelah itu telepon pun berakhir dan Angga berharap agar Firman bisa kembali dalam keadaan selamat dalam menjalankan misinya.
Flashback off...
Angga menyambut Firman dengan baik yang membuat para petinggi militer yang belum mengenal Firman menjadi bingung, bagaimana bisa seorang pimpinan tertinggi kepolisian begitu baik kepada anak remaja yang mungkin masih seusia dengan anak-anak mereka?
"Halo Pa, maaf aku terlambat karena tadi harus mengerjakan laporan sedikit," balas Firman menyalami calon ayah mertuanya tersebut.
"Hahaha iya tidak papa, ayo duduk, di sini ada beberapa orang yang ingin aku kenalkan kepadamu" ucap Angga.
Firman pun menghampiri orang-orang yang sedang duduk tersebut dengan memberikan sedikit hormat kepada mereka seperti khas anggota kepolisian.
Setelah itu Firman duduk di sana, Angga juga duduk kembali di kursinya tadi seraya dipandangi oleh orang yang ada di sana dengan tatapan bertanya.
Angga menyadari tatapan tersebut yang pastinya mereka semua penasaran siapakah Firman, lalu Angga memperkenalkan Firman kepada mereka semua yang ada di sana.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut kaget bukan main saat mendengar penuturan dari Angga, bukanya mereka tidak percaya terhadap omongan dari Angga.
Namun mereka seperti bingung harus menanggapi apa hal tersebut. Anak yang masih remaja menjadi seorang komandan polisi? Sungguh mereka merasa lemas seketika saat mendengarnya.
Mereka yang sedari kecil di didik secara keras oleh keluarganya yang memang memiliki basic militer dan polisi, kalah bakatnya dengan seorang anak remaja yang baru masuk polisi beberapa waktu lalu.
"Apa yang kau katakan itu benar, Angga?" tanya salah satu orang yang menggunakan seragam tentara berpangkat tinggi.
"Benar, Tito. Dia merupakan komandan termuda sepanjang sejarah negara ini, atau mungkin dunia," jawab Angga.
"Dan dia juga merupakan calon menantuku hahaha... " Lanjut Angga dengan bangga memperkenalkan Firman sebagai calon menantunya.
Para petinggi yang hadir di ruangan tersebut menjadi iri dengan Angga yang bisa mendapatkan calon menantu sehebat Firman, mereka juga percaya dengan ucapan Angga karena tidak mungkin bagi seorang pimpinan besar seperti Angga berbicara omong kosong.
__ADS_1
"Anda sangat beruntung tuan Angga."
Setelah sedikit berbasa-basi mereka melanjutkan pembahasan mengenai penyebaran obat yang semakin membuat resah masyarakat.
Pasalnya obat-obatan terlarang tersebut kebanyakan dijual kepada kalangan anak muda bahkan anak-anak yang bisa membuat mereka kehilangan kesadaran atau juga berhalusinasi.
Halusinasi itulah yang membuat otak para remaja tersebut rusak sehingga sering membuat keributan serta kerusuhan di masyarakat, para orang tua takut anak mereka tidak dapat sembuh kembali, sedangkan masyarakat resah lantaran kejahatan semakin merajalela seiring berjalannya waktu.
"Bagaimana menurutmu nak?" tanya Jenderal tinggi Tentara yang bernama, Ardhito Mahendra, atau biasa dipanggil Jenderal Tito.
"Saya sudah menghabisi dua kelompok pengedar obat di dua wilayah berbeda, yang pertama di wilayah timur yang mana mereka membuat markas tepat di tengah hutan agar petugas tidak dapat menemukan nya.
Sedangkan untuk yang kedua di wilayah pusat, baru saja saya habisi malam kemarin, mereka memiliki markas di pinggiran kota yang lumayan ramai penduduk, mereka mengedarkan obat dengan menggunakan cara kurir anak kecil untuk menghindari kecurigaan petugas," balas Firman menjelaskan.
Semua orang yang ada di sana sekali lagi dibuat terkejut dengan ucapan Firman, mereka tidak menyangka jika anak yang diam saja selama rapat tersebut ternyata memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap misi kali ini.
Bahkan Angga juga kaget karena Firman menghancurkan kelompok mafia besar yang bahkan dirinya saja mungkin perlu waktu lama untuk mengalahkannya, namun Firman hanya dalam satu malam dapat menaklukan mafia itu.
"Kelompok apa yang kau hancurkan itu?" tanya salah satu petinggi militer lainnya.
"Black Dragon dan sebuah kelompok yang diketuai oleh orang yang bernama Wirjo," jawab Firman santai.
Bagai disambar petir, mereka semua kaget mendengarnya, dua kelompok besar yang mereka incar sejak lama dapat dihancurkan dengan mudah oleh Firman, mereka sekarang memandang Firman dengan hormat setelah melihat betapa hebatnya Firman.
"Nak, aku tidak menyangka kau ternyata sehebat itu, lantas bukti apa saja yang kau dapatkan dari sana?" tanya Tito.
Firman lalu mengeluarkan laptopnya dan menunjukan berbagai bukti yang ia dapat dari markas Black Dragon kemarin, banyak bukti yang Firman perlihatkan, salah satunya adalah bukti keterlibatan mafia luar negeri dalam masalah kali ini.
"Lagi-lagi mereka! Memang organisasi brengsek! Selalu saja membuat masalah di seluruh dunia!" umpat Angga setelah melihat keterlibatan mafia luar negeri dalam banyak sekali kasus kejahatan, bukan hanya penjualan obat terlarang.
"Aku juga dapat informasi jika berbagai kelompok di negara ini yang melakukan kejahatan di dukung oleh mafia luar negeri ini, mereka membiayai para kelompok untuk membuat kejahatan ataupun berbisnis," ucap Firman.
"Lalu apa rencana mu untuk hal ini, Nak?" tanya salah satu petinggi militer.
"Aku berencana untuk pergi keluar negeri beberapa hari lagi untuk menghancurkan organisasi itu!" ucap Firman dengan nada serius tanpa ada rasa ragu sama sekali.
__ADS_1
Angga dan semua orang yang mendengar ucapan Firman, bingung dengan pemikiran anak tersebut, orang lain pasti akan takut berurusan dengan kelompok sebesar itu dan lebih memilih bekerja sama dengan orang lain untuk menjatuhkannya.
Tetapi Firman ingin menyerang organisasi mafia luar negeri sendirian? Sungguh pemikiran yang gila bagi sebagian orang, itu sama saja misi bunuh diri namanya.