
Chapter 212
Kembali kepada Firman yang masih menunggu selesainya Gina untuk memakaikan kembali pakaian Reiko agar mereka dapat melanjutkan perjalanan lagi untuk segera menuju kota.
Rencananya saat mencapai kota nantinya Firman akan langsung menuju ke arah rumah sakit untuk membawa Reiko supaya lebih cepat mendapatkan pertolongan medis yang sangat dibutuhkannya pada saat ini untuk menyelamatkan nyawa Reiko sendiri dari maut.
Setelah menghabiskan satu batang tadi, Firman pun kembali lagi menuju tempat mobil yang mereka gunakan tadi untuk membawa Reiko. Mobil yang terlihat sudah tidak lagi ditutupi oleh terpal tersebut menandakan bahwasanya Gina telah selesai memakaikan baju pada tubuh Reiko.
Firman berjalan menuju mobil tersebut lalu melihat ada Gina yang sedang memasukan kembali terpal yang tadi digunakan untuk menutup mobil supaya tidak kelihatan dari luar. Nampak Gina agak kesulitan memasukan terpal itu kedalam bagasi mobil.
Melihat sang kekasih yang kesulitan memasukannya membuat Firman bergerak untuk membantu Gina memasukan terpal tersebut ke dalam bagasi mobil, setelah mendapatkan bantuan dari Firman dengan mudahnya Gina bisa meletakan terpal tersebut di dalam bagasi.
"Terima kasih sayang," ucap Gina dengan senyuman manis yang mampu membuat lelaki terpikat dengannya.
"Sama-sama," jawab Firman singkat lalu berjalan ke arah pintu mobil bagian pengemudi kemudian masuk kedalamnya.
Gina yang melihat sikap kekasihnya tersebut menjadi khawatir apakah kesalahannya tadi yang menyebabkan Firman bersikap seperti itu kepadanya, padahal dirinya tadi hanya bersikap normal saja sebagai seorang kekasih.
Maklum saja jika sebagai wanita yang melihat pria nya sedang menatap perempuan lain dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali, pastinya wanita tersebut akan sangat cemburu bahkan bisa sampai marah yang membuat emosinya meluap-luap.
Tapi Gina sendiri juga merasa bersalah telah bersikap seperti tidak baik seperti tadi kepada Firman, padahal ia tahu jika niat awal Firman hanya ingin menyelamatkan nyawa Reiko agar bisa lolos dari masa kritisnya.
Gina menyusul masuk kedalam mobil, tapi kali ini dirinya bukan duduk di belakang seperti awal tadi, namun sekarang Gina duduk disamping Firman tepatnya pada kursi yang berada di samping tempat duduk pengemudi.
Melihat Gina yang duduk disebelahnya sontak membuat Firman menatapnya bingung. Padahal Firman sudah menyuruh Gina untuk selalu duduk di belakang untuk menjaga tubuh Reiko supaya tidak sampai terbentur.
__ADS_1
"Kenapa kamu duduk didepan? Lalu siapa yang akan memegangi Reiko dibelakang?" tanya Firman.
"Aku ingin duduk disamping kamu sayang, lagipula keadaan nona Reiko saat ini sudah mulai membaik dan tidak perlu lagi dijaga karena sudah aku pasangkan sabuk pengaman dan juga peralatan lainnya agar tubuhnya tidak berbenturan dengan badan mobil ataupun kursi," jawab Gina.
"Baiklah, terserah kamu saja." Firman menyalakan mesin mobil kembali dengan sedikit usaha, maklum saja mobil tua ini sangatlah menyusahkan karena memiliki mesin yang sangat tua.
Akhirnya mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju kota lebih cepat. Firman mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saja karena saat ini ia tidak terlalu buru-buru.
Saat pertama kali jalan tadi Firman berjalan dengan terburu-buru pastinya karena keadaan Reiko yang sangat kritis hingga membuat mereka semua panik yang membuat Firman melajukan mobilnya secepat mungkin supaya bisa dengan segera membawa Reiko ke rumah sakit guna mendapatkan pengobatan lebih lanjut.
Tapi untuk perjalanan kali ini Firman bisa sedikit lebih santai karena kondisi tubuh Reiko yang sudah mulai membaik meskipun masih membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk membuat kondisinya semakin membaik.
Perjalanan terasa sangat canggung sekali karena baik Firman maupun Gina sama-sama diam tidak mengucapkan sepatah kata pun selama perjalanan. Untuk Firman sendiri wajar bila tidak mengeluarkan suara mengingat sifat dirinya yang tidak terlalu suka mengeluarkan suara jika tidak dibutuhkan atau bisa dikatakan Firman ini tidak terlalu suka berbasa-basi.
Tentunya rasa bersalah menyelimuti hati Gina walaupun dirinya merasa itu adalah hal yang wajar cemburu dalam keadaan seperti tadi, namun tetap saja Gina jadi tidak enak jika harus marahan terus seperti ini dengan Firman.
Setelah beberapa saat diam menenangkan dirinya, Gina saat ini sudah membulatkan tekadnya untuk meminta maaf kepada Firman, dengan menghela nafas beberapa kali untuk menetralisir rasa gugupnya Gina akan mulai mengatakan ucapan maaf kepada Firman.
Namun sebelum Gina berhasil mengucapkan kata maaf yang sudah dirancang olehnya untuk Firman, secara tidak terduga tiba-tiba Firman mengeluarkan kata-kata yang membuat Gina langsung menatapnya.
"Gina, aku minta maaf tentang kejadian tadi, aku hanya berusaha untuk menyelamatkan nyawa Reiko saja tanpa ada maksud yang lainnya. Aku tahu sebagai wanita kamu pasti merasa cemburu saat aku melihat tubuh wanita lain yang bukan kekasihku, tapi aku tidak memiliki pilihan lagi selain melakukan hal itu untuk menyelamatkan Reiko," ungkap Firman terdengar sangat tulus dengan nada lembut yang membuat Gina tersenyum mendengarnya.
Sebagai seorang lelaki sudah menjadi kewajiban bagi Firman untuk mengakui kesalahannya lalu meminta maaf, sebenarnya bukan hanya untuk lelaki saja, namun semua orang bila telah berbuat salah sebaiknya langsung mengaku saja agar nantinya tidak menimbulkan masalah yang lebih lanjut apalagi sampai ada permusuhan hanya karena masalah belum terselesaikan.
Lebih baik menurunkan gengsi dan meminta maaf lalu masalah selesai daripada masih mempertahankan gengsi tidak ingin mengakui kesalahan sampai membuat masalah terus berlarut-larut, itu merupakan ciri seorang yang disebut sebagai pecundang.
__ADS_1
Mendengar ungkapan kata maaf yang diucapkan oleh Firman tersebut tentunya membuat Gina merasa sangat bahagia sekali, padahal awalnya ia mengira jika Firman akan marah pada saat dirinya bersikap seperti itu, namun justru sebaliknya malah Firman yang merasa tidak enak kepada Gina.
"Tidak apa-apa, aku juga ingin meminta maaf karena sikapku yang terlalu posesif sebagai kekasihmu. Aku merasa tidak senang jika kamu melihat wanita lain seperti itu makanya aku marah," balas Firman menatap Firman dengan penuh kasih sayang.
Firman menoleh sekilas kearah Gina lalu memperlihatkan senyum di wajah tampannya yang membuat hati Gina berdebar kencang saat melihatnya, setelah itu Firman kembali fokus ke arah depan karena saat ini dirinya masih mengemudikan mobil.
'Ahkk ... senyuman mu itu memang seperti magnet bagi semua perempuan, aku saja yang sebagai kekasihnya masih saja merasa salah tingkah saat melihat senyumannya,' batin Gina melamun masih dengan membayangkan senyuman Firman.
"Gina, nanti aku akan langsung kembali menuju negaraku, mungkin nanti malam aku akan langsung terbang, apakah kamu bisa mencarikan aku tiket pesawat yang terbang nanti malam? Jangan menggunakan jet pribadi, aku ingin menggunakan pesawat biasa saja," ucap Firman.
Gina yang tadi masih melamun telah sadar kembali saat mendengar ucapan Firman, "Iya nanti aku akan mencarikan kamu tiket pesawat, dan juga tolong jangan panggil aku menggunakan nama, panggil aku sayang! Jika kamu tidak memanggilku dengan sebutan sayang maka aku tidak akan membantu kamu mencari tiket!" kata Gina dengan kesal karena terus dipanggil nama saja oleh Firman,
Dipanggil dengan sebutan nama memang tidak ada salahnya sama sekali, tapi bagi pasangan kekasih itu terasa agak kurang saja karena tidak menunjukan sisi keromantisan pasangan kekasih, Firman selalu saja memanggil nama padahal Gina ingin sekali dipanggil dengan sebutan sayang seperti pasangan kekasih pada umumnya.
Firman hanya bisa menghela nafas panjang mendengar permintaan Gina yang seperti itu, sebenarnya Firman mau saja memanggil dengan sebutan seperti itu, lagi pula ia juga sering memanggil para kekasihnya dengan sebutan sayang, tapi itu hanya dalam beberapa waktu saja.
"Baiklah, sayang bisakah kamu membantuku untuk memesankan tiket pesawat nanti malam?" ucap Firman mengikuti apa yang diinginkan Gina.
Gina pun tersenyum mendengar panggilan tersebut, "Siap sayangku, nanti malam kamu akan langsung terbang." mereka pun kembali melanjutkan perbincangan untuk membuat perjalanan menjadi tidak terasa canggung lagi.
Mereka tidak menyadari ada ancaman apa yang akan mereka hadapi nantinya, sekarang mereka masih bisa tertawa bersama menikmati waktu berdua tapi tidak tau untuk nanti, kita hanya bisa melawan saja bila ada masalah ataupun ancaman yang menghadang, jangan takut jika memang kita tidak bersalah.
Sementara untuk Reiko yang berada dibangku belakang sebenarnya sudah sadar dari tadi saat mereka baru saja melanjutkan perjalanan kembali setelah berhenti untuk mengobati tubuhnya, alhasil ia mendengar semua percakapan yang Firman bersama dengan Gina bicarakan, termasuk tentang Firman yang melihat tubuhnya yang seketika itu pula membuat wajah Reiko memerah karena malu tubuhnya telah dilihat oleh seorang laki-laki.
Reiko hanya diam saja masih berpura-pura tidak sadarkan diri sampai dirinya tertidur karena merasa kelelahan hingga membuat ia mengantuk.
__ADS_1