
Chapter 159
Setelah mengemudikan mobil selama beberapa waktu, akhirnya Firman dan juga Gina telah sampai di tempat markas mafia Roses Girl yang diketuai oleh Gina berada.
"Kita sampai," ucap Firman kepada Gina yang sedang asyik memakan makanan ringan yang tadi sempat dibeli pada saat perjalanan.
Gina langsung membuka pintu mobilnya dan turun dari kursi tempatnya duduk, ia lalu melihat beberapa anggota mafia miliknya yang sedang berjaga di depan pintu masuk gedung markas tersebut.
"Queen!" kata anggota Roses Girl yang berjaga tadi.
"Semuanya! Queen telah kembali!"
Tak lama kemudian banyak sekali anggota mafia milik Gina yang berbondong-bondong keluar dari dalam markas hanya untuk menyambut kedatangan ketua mereka yang baru sampai di markas.
"Selamat datang kembali Queen!" sambut mereka yang jumlahnya kira-kira 30-an orang wanita.
"Mana yang lain?" tanya Gina heran, karena melihat anggotanya sangat sedikit sekali.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Gina, seketika suasana yang tadinya senang gembira menyambut kedatangan Gina kembali, sekarang menjadi sedih karena semua orang menundukan kepalanya.
Gina yang paham akan situasinya saat ini tidak lagi menanyakan hal itu kepada mereka, ia sangat tau jika saat ini para anggotanya tersebut sedang dirundung kesedihan lantaran kawan-kawan mereka sesama anggota Roses Girl sedang dalam masalah besar.
"Kalian tenang saja, aku berjanji akan membebaskan mereka secepatnya dan bisa berkumpul kembali dengan kita di sini," kata Gina untuk mengembalikan suasana supaya tidak larut dalam kesedihan.
Para anggota itu lalu mengangkat kepala mereka melihat ke arah Gina dengan tatapan penuh harap serta hormat, bagaimanapun juga Gina merupakan ketua mereka yang harus dihormati.
'Huft ... Aku pasti akan menghancurkan mu sampai habis!' batin Gina yang merasakan kesedihan yang sama seperti anggota yang lainnya.
Suasana pun kembali normal, meskipun masih ada jejak kesedihan dari raut wajah yang ditampilkan oleh mereka semua termasuk Gina, tapi demi terlihat tangguh dan berusaha untuk menekan rasa sedih serta marahnya, Gina bersikap biasa saja padahal hatinya merasa sakit.
Apalagi salah satu dari korban yang ditangkap oleh musuhnya itu telah dianggal Gina sebagai adiknya sendiri yang dirawat dengan baik olehnya hingga tumbuh menjadi gadis tangguh dan kuat menghadapi kehidupan yang sangat keras ini.
__ADS_1
"Baik Queen, kami sangat percaya kepada anda. Kami juga ingin membantu membebaskan teman-teman kami supaya kita dapat berkumpul bersama kembali!" ucap salah satu anggota dengan tegas.
Gina tersenyum tipis tanpa disadari para anggotanya lalu ia berkata, "Baiklah, kita bicarakan ini di dalam saja."
"Eh ... Maaf Queen, karena terlalu senang menyambut kedatangan anda kembali, kami jadi lupa saat ini masih berada diluar," kata salah satu anggota mafia.
"Yasudah ayo masuk, tapi sebelum itu aku ingin memanggil orang dulu," kata Gina yang membuat penasaran semua orang, siapakah orang yang dipanggil Gina tersebut?
Lalu tidak lama setelah Gina mengatakan hal tersebut, turunlah Firman dari mobil dengan menggunakan setelan semi formal karena ada kaos putih polos dipadu dengan jas warna gelap serta celana panjang warna coklat dengan sepatu sneaker warna putih yang terlihat sangat stylish saat dipakai oleh Firman.
Seketika semua mata tertuju pada Firman yang sudah turun dari mobil, para anggota mafia Gina yang semuanya merupakan para gadis muda sampai tua terpana melihat ketampanan serta gaya cool dari Firman.
"Tampannya laki-laki itu."
"Usianya paling sama denganku."
"Iya kamu benar, dia seusia dengan kita jika dilihat dari postur tubuh serta wajahnya."
"Hey kau! Sadar diri wajahmu masih kalah jauh denganku!"
"Apa masalahmu nenek tua?!"
Kata-kata pujian ditujukan kepada Firman yang memang terlihat sangat menawan dengan balutan pakaian seki formal yang dikenakanannya, apalagi ditambah kharisma khas seorang pemimpin tampak terlihat jelas pada diri Firman yang membuatnya semakin menarik dimata para wanita baik muda sampai yang tua.
Firman sendiri yang mendapatkan pujian tersebut hanya diam saja tanpa berkata apapun sama sekali, mereka berbicara menggunakan bahasa asing, untungnya Firman memiliki skill bahasa yang membuatnya dapat dengan mudah memahami bahasa negara lain tanpa harus susah-susah menerjemahkannya.
Sementara itu Gina yang daritadi melihat kekasihnya terus dipandangi oleh anggotanya, membuat Gina terlihat kesal. Bagaimanapun juga Firman itu kekasihnya yang sangat ia sayangi.
Firman berjalan ke arah Gina dan lalu berdiri di sampingnya dengan tegap dengan tetap mempertahankan wajah tanpa ekspresi miliknya yang mana itu semakin membuat Firman terlihat sangat tampan.
"Apakah enak sayangku, kamu diidolakan oleh banyak wanita cantik?!" tanya Gina dengan nada terlihat sedang menahan kesal.
__ADS_1
"Entahlah," jawab Firman seadanya karena memang ia malas berkomentar tentang hal tersebut.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam markas dan berkumpul di aula tengah yang lumayan luas karena memang gedung tersebut lumayan besar untuk ukuran sebuah markas kelompok mafia.
Di sana Gina mendengarkan semua omongan yang dibicarakan oleh para anggotanya, sesekali ia juga mengeluarkan ucapanya untuk membuat tenang anggotanya yang sedang dirundung duka.
"Queen, apakah saya boleh bertanya siapakah laki-laki yang ada disamping anda? Bukankah menurut peraturan dilarang untuk membawa pria asing masuk ke dalam lingkungan markas, Queen?" tanya salah satu anggota senior yang penasaran mengenai identitas Firman.
"Dia kekasihku," jawab singkat Gina.
Semua orang seketika terdiam karena terkejut mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Gina barusan, mereka sungguh sangat kaget karena baru kali ini ketua mereka tersebut memperkenalkan seorang pria sebagai kekasihnya.
"A ... Apakah itu serius, Queen?" tanya anggota lainnya memastikan.
"Iya itu benar," jawab Gina.
Setelah itu tak ada lagi yang berani untuk bertanya tentang Firman, mereka sudah terlalu takut untuk berbicara tentang Firman apalagi di depan Gina yang sudah memasang wajah galak bagaikan pengawal yang siap menjaga tuannya saat diganggu orang lain, bisa habis mereka jika berani menggoda Firman didepan Gina.
Karena merasa bosan hanya duduk saja mendengar Gina dan anggotanya sedang berdiskusi membahas rencana yang akan mereka lakukan untuk membebaskan rekan-rekanya yang ditahan, Firman keluar dari ruangan itu untuk pergi keluar markas guna menikmati r0kok dan juga melihat suasana yang ada di sekitar markas.
Markas Gina berada di pinggiran kota yang lumayan ramai, tempatnya yang berada di kaki gunung membuat hawa dingin sangat terasa sekali hingga menusuk tulang.
Firman duduk di sebuah kursi dengan ditemani kabut yang lumayan tebal menyelimuti. Dikarenakan hari sudah malam yang mana udara terasa berkali-kali lipat lebih dingin daripada di siang hari, Firman bahkan menggunakan jaket tambahan yang diambilnya dari koper barang-barang yang dibawa Gina tadi.
Walaupun ini bukan waktunya musim dingin tetapi tetap saja jika berada di kaki gunung pastinya akan terasa sangat dingin.
"Nanti aku akan mengajak semua keluargaku liburan ke sini, sepertinya itu akan terasa sangat menyenangkan sekali," ucap Firman bermonolog sendiri sambil melihat pemandangan sekitar.
"Apakah aku bangun saja perusahaan di sini ya? Nanti sajalah aku bicarakan dengan Bang Yudi ataupun Kalina," lanjutnya.
"Bodohnya aku dingin seperti ini malah keluar, hachi … " Firman masuk kembali kedalam markas mencari tempat yang nyaman untuk bersantai sejenak, karena sebentar lagi ia harus membantu Gina untuk membebaskan anggotanya malam ini juga, takutnya jika terlalu lama ditunda anggota Gina yang disandera akan mengalami masalah yang lebih besar lagi di sana.
__ADS_1