
Chapter 108
Firman yang masih bingung melihat ibunya dan juga Bulan berpelukan tadi, rasa penasaran semakin menyeruak pada pikiran Firman ingin mengetahui hubungan apa yang sebenarnya ada pada ibunya dan Bulan hingga bisa sedekat itu.
"Bu, kalian sudah saling kenal?" tanya Firman penasaran.
"Hahaha tentu saja sudah nak," jawab Tari menanggapi pertanyaan anaknya.
Firman dibuat semakin bingung bagaimana cara ibu nya bisa kenal Bulan padahal belum pernah bertemu, masih berfikir positif, Firman berpikir mungkin pada saat di pabrik ibunya sempat bertemu dengan Bulan, tapi tidak mungkin jika mereka baru kenal sebentar tapi saat bertemu kembali rasanya seperti sudah sangat lama kenal.
"Memangnya ibu kenal dia dari kapan?" tanya Firman semakin penasaran.
"Jadi gini nak, ibu itu sama Bulan adalah adik kakak, ibu sebagai kakak sementara Bulan adik, kami terpisah sejak usia belasan tahun karena orang tua kita bercerai," jawab Tari menjelaskan tentang hubunganya dengan Bulan.
Orang-orang yang masih ada di sana terkejut karena baru mengetahui bahwa Tari memiliki saudara yaitu adik, yang mereka tahu Tari adalah seorang wanita sendirian karena ditinggal suaminya pergi pada saat mengandung dahulu.
Firman juga sangat kaget saat mengetahui fakta baru ini, pasalnya sang ibu tidak pernah bercerita bahwa ia memiliki saudara, dari kecil yang Firman tahu ibunya adalah anak tunggal yang orang tuanya bercerai.
"Jadi Tante Bulan ini saudara ibu kandung?" tanya Firman memastikan kebenarannya.
"Iya benar," jawab Tari.
"Apakah itu benar Tante?" tanya Firman memastikannya langsung kepada Bulan.
"I...Iya benar," jawab Bulan tergagap karena merasa gugup dilihat banyak orang.
Akhirnya Firman percaya jika ibunya dan juga Bulan adalah saudara kandung setelah mendengar jawaban dari keduanya barusan, entah Firman harus merasa senang atau sedih.
__ADS_1
Sebenarnya Firman merasa senang karena dengan bertemunya mereka berdua sang ibu jadi tidak sendirian lagi karena sudah bertemu dengan saudaranya.
Namun di sisi lain Firman juga merasa sedih dan marah karena mengetahui saudara dari ibunya atau bibinya telah menjadi korban pelecehan serta kekejaman dari Wirjo, Firman tahu jika semua ini memang murni kesalahan Bulan sendiri, tetapi karena tindakan Wirjo sudah sangat keterlaluan membuat Firman ingin sekali mencarinya lalu membalas semua kejahatan pria itu.
Karena hari sudah larut malam dan para warga sudah lelah, akhirnya mereka kembali kerumah masing-masing dengan keadaan tenang karena tidak lagi diganggu dengan penjaga yang akan menyiksa mereka.
Firman juga sudah selesai membersihkan tubuhnya yang kotor akibat pertarungan berdarah yang terjadi di pabrik tadi, Jia Li juga ikut membersihkan dirinya yang kotor setelah Firman selesai.
Pak Tono beserta keluarganya yang mengetahui jika Firman berhasil membebaskan para warga menjadi sangat senang dan sangat berterima kasih kepada Firman yang telah membantu semua warga bebas dari genggaman tangan kejam Wirjo dan para komplotanya.
Saat ini dirumah ibu Firman semua keluarga sedang berkumpul untuk menyambut kedatangan Firman sekaligus merayakan bebasnya mereka dari cengkraman Wirjo.
Jia Li sedari tadi hanya diam saja setelah mengobati Bulan tadi, ia bukannya tidak ingin berbicara tetapi Jia Li masih agak gugup karena bertemu dengan calon ibu mertuanya.
Sebagai seorang kekasih, tentu saja Firman mengetahui perasaan Jia Li yang sedang gugup, Firman membawa Jia Li ke depan ibunya lalu memperkenalkan dia kembali kepada ibunya.
"I...Iya Tante," jawab Jia Li masih merasa gugup.
"Tidak usah takut, kamu calon istri Firman jadi panggil saja ibu, karena nanti kamu juga akan jadi anak ibu kan," balas Tari sambil mengelus pundak Jia Li yang berada di depannya duduk dilantai.
Jia Li yang merasakan sentuhan seorang ibu menjadi sangat bahagia, selama ini ia jarang sekali mendapatkan perhatian dari ibunya semenjak sang ayah meninggal dunia, hanya ada penyiksaan yang selalu diterima oleh Jia Li yang dilakukan oleh ibunya.
Air mata bahagia keluar dari pelupuk mata Jia Li lantaran sangat bahagia akhirnya setelah sekian lama tidak merasakan kasih sayang orang tua akhirnya bisa merasakannya kembali dengan adanya ibu Firman.
"Eh jangan nangis, nanti cantiknya nambah loh hahaha," ucap Tari menggoda Jia Li.
"Ihh...Ibu jangan menggoda aku!" balas Jia Li merasa malu karena mukanya yang sudah memerah setelah mendengar godaan ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Hahaha...
Keluarga lain yang ada di sana tertawa melihat keakraban ibu dan menantunya tersebut, mereka sudah sangat lama tidak melihat ada tawa diantara mereka, biasanya hanya ada suara pecutan serta teriakan yang selalu mereka dengar para saat bekerja di pabrik.
Firman yang melihat Jia Li akhirnya bisa akrab merasa senang, ia juga merasa bahagia karena Jia Li sekarang bisa merasakan kasih sayang kembali setelah lama ditinggal orang tuanya.
'Aku harap kebahagiaan ini tidak akan pernah hilang,' batin Firman tersenyum bahagia melihat keluarganya yang tersayang.
'Sepertinya aku harus cepat-cepat kembali pulang, jika tidak maka ketiga singa itu pasti akan marah besar,' lanjutnya membayangkan ketiga kekasihnya yang lain pasti akan sangat marah jika Firman terlalu lama pergi.
Setelah mengobrol sebentar mereka semua akhirnya pergi tidur karena sudah merasa mengantuk, Firman tidur di kamarnya dulu waktu kecil sementara Jia Li tidur bersama ibu Tari karena Tari belum mengijinkan mereka berdua untuk tidur bersama sebelum menikah, namun itu bisa saja berubah nanti tergantung bagaimana cara Firman membujuk ibunya.
.................
Sementara itu di sebuah rumah besar pada salah satu kamar terlihat ada seorang gadis muda sedang memandang langit malam ditemani cahaya rembulan yang terang menyinari malam.
Gadis tersebut duduk di balkon kamarnya menikmati semilir angin malam yang sejuk, gadis cantik itu seperti sedang memikirkan sesuatu sambil terus memandang bulan yang ada dilangit.
"Apakah aku bisa bertemu denganmu lagi bu? Aku sangat merindukan kamu, walaupun ibu pernah jahat padaku karena meninggalkan aku bersama ayah dahulu aku tetap menyayangi ibu," ucap gadis tersebut dengan diiringi air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
"Ibu aku kangen hiks...hiks...." cahaya rembulan bersinar semakin terang menyinari malam, seakan mengerti kesedihan yang dialami gadis tersebut dan berniat ingin menghiburnya.
Karena malam semakin larut, gadis itu pun masuk kembali kedalam kamarnya lalu naik ke atas kasur dan beristirahat tidur.
...........
"Maafkan ibu anakku, ibu sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Ibu berjanji akan berubah dan ibu pasti akan menemuimu untuk meminta maaf," ucap Bulan sesaat sebelum pergi tidur sambil memandang cahaya rembulan yang indah.
__ADS_1
Setiap manusia pasti melakukan kesalahan pada hidupnya dan mereka juga berhak mendapatkan maaf atas kesalahannya tersebut, namun yang perlu diketahui bahwa tidak semua orang dapat memaafkan kesalahan orang lain kepadanya.