
Chapter 148
Suasana di dalam ruangan khusus tempat Wirjo ditahan terasa sangat mencekam, keadaan Wirjo masih belum sadarkan diri dari kemarin sejak dibawa Firman ke markas, ia masih pingsan dengan keadaan tubuh terikat tali.
"Bangunkan dia!" perintah Firman yang langsung dilakukan oleh anak buahnya.
Satu anak buah Firman membangunkan Wirjo dengan cara memberikan semacam obat yang ditaruh di bawah hidung Wirjo agar membuatnya terbangun dari pingsan lamanya.
Tak lama kemudian Wirjo bangun setelah menghirup obat tersebut, dilihatnya sekeliling tempat ia berada saat ini terasa sangat asing.
"Dimana aku saat ini?!" kata Wirjo bertanya-tanya melihat sekelilingnya.
"Akhirnya kau bangun juga!" suara Firman terdengar sangat jelas di dalam ruangan itu.
Wirjo kemudian melihat siapakah orang yang berbicara barusan, betapa kagetnya Wirjo saat melihat asal suara tersebut merupakan anak yang ia incar selama ini untuk dihabisi, sekaligus anak yang telah menghancurkan kelompok miliknya.
"Ka ... Kau anak yang itu ... " Wirjo sudah tidak dapat berkata-kata lagi melihat kehadiran Firman di depannya.
Firman yang ada di depan Wirjo terlihat seperti seorang malaikat maut yang sedang mengawasi korbannya, mata tajam dengan pupil merah yang membuat kesan menakutkan pada diri Firman semakin terasa, apalagi tengahnya tidak berhenti memutar-mutar sebuah pisau kecil yang semakin membuat Firman terlihat sangat menakutkan.
"Ada apa? Apakah kau mencariku selama ini Pak?" ucap Firman dengan memperlihatkan senyum devil yang semakin membuat Wirjo ketakutan.
"To ... Tolong lepaskan aku ... A... Aku minta maaf atas kesalahan yang telah ku buat selama ini ... Tolong bebaskan aku, Tuan ... " ucap Wirjo memohon ampunan kepada Firman, berharap akan dilepaskan.
Firman menatap sejenak kearah Wirjo untuk melihatnya, "Baiklah aku akan membebaskanmu," kata Firman.
'Aku pikir dia pintar, ternyata dia sangat b0doh hingga dengan mudahnya aku tipu hahaha... ' batin Wirjo kesenangan karena berpikiran ia berhasil menipu Firman.
Melihat ekspresi Wirjo yang terlihat senang, Firman tersenyum smirk seraya mendekati Wirjo dengan membawa sebilah pisau kecil yang selalu ia bawa sedari tadi.
Wirjo yang berpikiran bahwa Firman akan membuka kan tali yang mengikat dirinya, ia pun melihat ke arah Firman dengan tatapan penuh harap, tetapi kejadian selanjutnya sungguh diluar ekspektasi Wirjo yang ingin bebas.
__ADS_1
Srettt...
Firman menyayat tangan Wirjo yang diikat di sebuah kayu yang membuatnya dengan mudah disayat oleh Firman, karena sayatan tersebut darah menetes dengan derasnya dari luka bekas sayatan yang dilayangkan oleh Firman.
Argh...
Merasakan sakit yang sangat besar membuat Wirjo tidak dapat membendung suara untuk berteriak guna melampiaskan rasa sakit yang dia rasakan karena sayatan di tangan nya yang dilakukan Firman.
"Ka... kau kurang ajar! Dasar anak sialan beraninya kamu menyayat tanganku bodoh!" ucap Wirjo dengan perasaan marah merasakan tangan nya yang sangat sakit.
"Oh... Apakah itu sakit? Maaf jika aku menyakitimu, Pak tua!" balas Firman memasang wajah tanda dosa yang membuat Wirjo semakin geram ingin menghabisinya.
"Baiklah, aku akan membuat mu tidak merasakan sakit lagi, tunggu sebentar ya," kata Firman kembali mendekati Wirjo.
Melihat Firman yang mendekatinya lagi membuat perasaan Wirjo semakin ketakutan jika nantinya akan disiksa lagi, karena sangking takutnya keringat dingin mengalir deras di seluruh bagian tubuh Wirjo membuatnya basah kuyup hanya karena keringat sendiri.
"Ma... Mau apa kamu?! Menjauhlah dariku...! Menjauh kau iblis...! " suara ketakutan Wirjo.
Setelah berada tepat di depan Wirjo yang sedang ketakutan sekali, Firman jongkok di depannya lalu mengangkat tangan yang masih baik tanpa bekas sayatan sama sekali.
Srek...
Suara sayatan yang lebih besar dan kasar terdengar sangat jelas di telinga semua orang yang ada di ruangan tersebut, cairan merah mengalir begitu derasnya dari tangan Wirjo hingga menyentuh lantai.
Para anak buah Firman yang ada di sana termasuk Bagas, terdiam saat melibat ketua mereka menyayat orang dengan mudahnya tanpa berkedip sama sekali, mereka semua menelan salivanya dengan perasaan merinding takut melihat adegan yang diperlihatkan oleh Firman.
Ahkk....
Teriakan kesakitan Wirjo membuat para anak buah Firman tersadar dari lamunan nya tadi, mereka melihat ceceran darah mengalir di lantai hingga menyentuh sepatu mereka.
Namun bagi Firman teriakan Wirjo seakan musik yang sangat indah didengar telinganya yang membuat Firman semakin bersemangat untuk terus menyiksa tanpa henti.
__ADS_1
"Bagaimana Pak, apakah tanganmu yang satu tadi sudah tidak sakit lagi? Aku mengobatimu loh... Aku melakukan hal yang lebih dari sayatan tadi kepada tanganmu yang satunya agar tanganmu yang tadi tidak merasakan sakit kembali, bagaimana baik kan aku ini?" kata Firman dengan senyum mengerikan nya.
Wirjo tidak dapat mengucapkan kata-kata lagi karena lukanya sekarang sudah sangat lebar, bahkan kulit tangan nya sudah terkelupas hampir semuanya karena dikuliti oleh Firman yang terlihat seperti sedang menguliti daging hewan.
Bagas beserta anak buah Firman lainya yang hadir di sana menyaksikan penyiksaan yang dilakukan oleh Firman di depan mereka, hal itu membuat mereka semua semakin takut dak tidak mau membuat ketua mereka itu marah karena takut akan dikuliti juga seperti yang dialami Wirjo saat ini.
"Kira-kira kulit ini enaknya dibuat apa ya? Apakah kau ada saran Bagas?" tanya Firman menoleh ke arah Bagas yang ada di belakangnya dengan wajah penuh keringat lantaran ketakutan.
"I... Itu untuk makan peliharaan kita saja Tu... Tuan... " jawab Bagas dengan gugup.
"Oh ide yang bagus, tapi tunggu nanti saja setelah aku menyelesaikan pekerjaan ini, baru kita berikan dagingnya untuk makanan peliharaan," ucap Firman.
Dengan menggunakan tang penjepit yang dibawakan anak buahnya, Firman menarik satu persatu kuku yang ada pada tangan serta kaki Wirjo, suara dari Wirjo sudah tidak dapat di dengar lagi karena semua suara yang ingin dikeluarkan olehnya seperti tertahan di tenggorokannya tidak dapat dikeluarkan.
Setelah selesai menarik semua kuku nya, Firman mengambil sebuah gunting besar lalu menyuruh anak buahnya untuk membuka seluruh pakaian yang dikenakan Wirjo.
Wirjo sudah dalam keadaan polos tanpa pakaian sama sekali, sekali lagi Firman menyuruh salah satu anak buahnya untuk menarik bagian bawah Wirjo atau tongkat kebanggan para laki-laki yang dimiliki Wirjo.
Setelah dilakukan oleh anak buahnya, Firman mengepaskan guntingnya di tongkat milik Wirjo, dirasa sudah pas pada tempatnya dengan sekali guntingan, tingkat kebanggan milik Wirjo sudah terputus dari pangkalnya berada di lantai.
Arghh...
Wirjo berteriak meskipun suaranya tertahan hanya di tenggorokan. Sedangkan anak buah Firman yang melihat adegan barusan langsung reflek melindungi tongkat mereka masing-masing.
Sebagai laki-laki pasti akan merasa ngilu saat melihat adegan barusan, itulah yang dirasakan Bagas serta yang lainya, mereka menelan ludah kasar dengan perasaan ngilu menatap Wirjo yang sudah hilang tongkat kebanggaan nya.
"Itu aku lakukan untuk membalas apa yang telah kau lakukan kepada para wanita yang sudah kau setubuhi! Termasuk keluargaku yang sudah kau siksa selama ini!" kata Firman dengan perasaan marah mengingat kekejaman yang dilakukan Wirjo kepada keluarganya, khususnya kepada Bulan yang menjadi budak Wirjo untuk di setubuhi sepuasnya.
Firman terus melakukan penyiksaan dengan berbagai hal, mengikuti hingga habis sampai menyiram luka yang dimiliki Wirjo di tubuhnya menggunakan air dicampur garam.
Penyiksaan yang berlangsung lumayan lama itu akhirnya selesai setelah Wirjo tidak bernyawa lagi, Firman langsung menyuruh Bagas untuk membawa mayat Wirjo untuk diberikan kepada peliharaan mereka yang ada di ruangan khusus yang terletak di dalam markas.
__ADS_1