
Chapter 147
Angga sendiri panik saat mendengar Firman mengatakan akan menyerang mafia luar negeri sendirian, ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan anaknya nanti jika bertanya tentang kabar Firman.
Sebagai seorang ayah, Angga sangat menyayangi anaknya, apapun akan ia lakukan untuk membuat sang anak bahagia.
Meskipun memiliki jabatan yang tinggi dan sangat disegani orang khususnya di kepolisian, tetapi itu semua tidak berarti bisa sudah bersama dengan keluarganya, intinya bagi Angga kebahagiaan keluarga adalah hal yang paling utama.
"Apa kau yakin nak ingin pergi sendiri?" tanya Angga memastikan.
"Aku yakin Pa, sekaligus aku ingin meminta supaya jangan memberitahukan hal ini kepada Ika dan yang lainya, aku tidak ingin mereka khawatir padaku," ucap Firman dengan serius menatap mata Angga.
Angga awalnya ingin menolak permintaan Firman, bagaimanapun juga ia tidak mau anaknya menangis sedih jika nanti Firman mengalami sesuatu yang tidak diinginkan saat menjalankan misinya.
Firman juga sudah dianggap anak sendiri oleh Angga yang membuatnya sangat khawatir kepada kondisi Firman saat menjalankan misinya nanti, bisa-bisa Ika dan kekasih Firman yang lainya menjadi janda sebelum menikah jika nantinya Firman mengalami hal buruk.
Mereka kembali mendiskusikan rencana Firman kali ini, para petinggi yang ada di sana sepertinya tidak dapat menahan keinginan Firman untuk pergi sendiri guna menyerang organisasi mafia luar negeri yang diketuai oleh Richard itu, jadi mereka semua hanya bisa menghela nafas dan menyetujui rencana Firman.
Keputusan akhirnya, Firman diijinkan untuk pergi namun harus dengan berbagai persiapan yang matang seperti peralatan maupun persiapan secara fisik dan mental Firman yang tetap harus terjaga supaya tidak down nantinya saat berlawanan dengan kelompok organisasi besar itu.
.............
Para petinggi yang lainya kembali menuju tempatnya masing-masing, sebelum pergi mereka berpamitan kepada Firman dan juga Angga, setelah itu baru pergi meninggalkan kantor kepolisian pusat.
Saat Firman ingin pamit keluar juga, Angga memintanya untuk duduk sejenak untuk membicarakan sesuatu yang penting, Firman duduk di depan Angga yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat, itu bisa terlihat dari matanya yang menyimpan sesuatu.
"Apa kau yakin dengan keputusan ini Firman? Aku tidak melarangmu untuk pergi, tetapi aku hanya takut kau tidak kembali nanti, aku sudah menganggap mu seperti anakku sendiri, bukan hanya aku yang khawatir akan keselamatan mu.
__ADS_1
Aku yakin para wanita dan keluargamu juga pastinya akan sangat khawatir dengan keadaanmu nanti," ujar Angga yang masih mencoba untuk menahan Firman agar tidak pergi.
Meskipun sebagai polisi harus tetap menjalankan tugas apapun resikonya, tetapi Angga tau jika resiko yang dihadapi Firman sangatlah besar, bukan hanya nyawa tapi mungkin Firman akan merasakan yang namanya neraka dunia jika sampai tertangkap oleh pihak musuh.
"Aku sangat yakin untuk melakukan hal ini, karena aku sepertinya menemukan sesuatu yang selama ini aku cari-cari ada di sana, aku akan mencari hal itu dan menyerang organisasi mereka!" jawab Firman tanpa keraguan sedikitpun.
"Kau pikirkan lagi nak, mereka itu bukan lah kelompok mafia biasa, tapi mereka itu sebuah organisasi kejahatan tingkat tinggi yang sering membuat negara-negara besar kerepotan menghadapi tingkah mereka dan tentunya mereka semua manusia yang sangat kejam tidak segan-segan untuk menyiksa korbannya terlebih dahulu sebelum menghabisinya," balas Angga mengingatkan Firman.
"Semua ini sudah aku rencanakan dengan matang, aku tau mereka bukan kelompok biasa, tapi aku sangat yakin bisa mengalahkan mereka semua!" ucap Firman dengan tatapan yang mengerikan layaknya elang sedang mengawasi mangsanya.
Melihat kegigihan yang diperlihatkan oleh Firman dan juga saat melihat tatapan mata Firman barusan, Angga seperti melihat sebuah jejak kesedihan, marah, emosi, senang, bahagia, ceria, semua itu menjadi satu.
Entah apa yang ada dipikiran Firman saat ini, tetapi yang pasti Firman sangat membenci organisasi mafia luar negeri itu karena kejahatan yang telah mereka lakukan sangatlah keji.
Setelah mengobrol beberapa menit, akhirnya Firman pamit untuk kembali karena urusan nya masih sangatlah banyak.
Firman pergi menuju mobilnya kembali dengan tatapan yang berasal dari orang-orang yang melihatnya mengendarai mobil mewah dengan sangat elegan membuat para kaum wanita terpukau.
............
Entah musuh seperti apa yang sedang mereka hadapi, tetapi bisa dilihat dari persenjataan yang sangat banyak serta para anggota yang memiliki kemampuan profesional, dapat dipastikan jika Gina kali ini akan melawan musuh yang sangat hebat.
"Ayo semua, kita habisi para keparat itu! " seru asisten Gina untuk mengembangkan semangat para anggotanya.
Mereka semua sangat bersemangat karena akan melakukan perang besar-besaran untuk yang pertama kalinya dalam hidup para anggota Roses Girl's.
Sebelumnya mereka juga pernah berperang tetapi hanya dalam skala kecil saja, itupun hanya melawan mafia kecil yang sok berkuasa yang dengan sentilan sedikit saja sudah hilang dari muka bumi ini karena ulah mafia milik Gina yang bernama Roses Girls.
__ADS_1
"Kita menyerang secara diam-diam dulu agar bisa meminimalisir korban, jika memang sudah ketahuan serangan yang kita dilancarkan oleh pihak musuh, baru kita akan menyerang secara terang-terangan," ucap Gina dengan aura kepemimpinan yang tinggi.
"Yes Queen!" jawab para anggota serempak.
"Bagus, malam ini kita akan menyerang mereka," ucap Gina lalu pergi dari sana bersama dengan asistennya.
Gina pergi menuju kamarnya kembali setelah memberikan beberapa perintah kepada asistennya yang sekaligus bertugas sebagai wakil ketua mafia Roses Girl's.
Ranjang king size dengan dihiasi berbagai foto Firman di setiap sudut ruangan kamarnya, Gina merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan hanya menggunakan pakaian dalam saja.
Itulah kebiasaan Gina yang tidak terlalu suka memakai pakaian yang besar karena merasa panas, ia lebih suka memakai pakaian santai yang sedikit terbuka namun tetap terlihat elegan nan mewah dipakai oleh Gina saat didalam rumah, jika diluar Gina paling hanya memakai baju santai saja, karena tidak terlalu suka pakaian formal kecuali ada acara penting baru Gina akan memakai baju Formal.
Berbanding terbalik dengan Gina yang dulu waktu sekolah dengan Firman, Gina yang culun selalu memakai pakaian kebesaran yang membuatnya sering dikatain gendut oleh teman-temannya, padahal dibalik pakaian besar tersebut tersimpan keindahan maha karya tuhan yang sangat sulit untuk didapatkan.
"Ahh... akhirnya penyerangan akan segera dimulai, sebenarnya aku belum mau melakukan rencana ini karena aku belum bertemu dengan darling ku sayang ~
Tapi apa boleh buat, mereka sudah semakin bertindak tidak masuk akal, jadi aku harus segera bertindak.
Sayangku ~ tunggu aku ya, atau kau mau menjemputku disini hihihi... " ucap Gina tertawa sembari memeluk foto Firman yang sedang tersenyum entah dapat darimana.
Gina memang terlihat mengerikan, namun didalam hatinya Gina merupakan gadis lemah lembut yang suka si sayang, cintanya kepada Firman itu pun membuat hidup Gina juga seperti semakin berwarna.
Karena semenjak kejadian waktu kecilnya dulu terjadi yang membuat hidup Gina menjadi suram hingga ia terpaksa jatuh ke dunia bawah yang sangat amat kejam ini.
...............
Firman telah sampai di markas Serigala Hitam pada malam harinya karena tadi sore ia berjalan-jalan lebih dulu untuk sekedar meringankan pikiran yang sedang pusing.
__ADS_1
Sesampainya di markas, Firman langsung berjalan menuju tempat dimana Wirjo ditahan, di sana terdapat penjaga yang selalu siap siaga di depan ruangan agar tidak ada yang masuk ke dalam kecuali Firman dan Bagas.
Firman memasuki ruangan tersebut ditemani dengan Bagas serta beberapa anak buah Firman yang membawa beberapa alat yang akan digunakan oleh Firman melakukan sesuatu yang akan selalu diingat oleh Wirjo sampai kapanpun.