System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 114 Kembali Ke Kota


__ADS_3

Chapter 114


Semua urusan Firman di desa telah selesai, mulai dari pembangunan tempat untuk warga desa gunakan sebagai tempat serbaguna bagi mereka, sampai pembangunan beberapa fasilitas seperti sekolah bagi anak-anak dan pemasangan jaringan internet.


"Bu, besok kita balik ke kota sekalian ibu dan tante Bulan juga ikut," ujar Firman yang saat ini sedang mengobrol berdua saja dengan ibunya di ruang tamu.


"Tapi nak, ibu merasa berat karena harus meninggalkan desa ini," ucap Tari menahan kesedihannya.


Semua orang pasti pernah merasakan bagaimana sedihnya jika kita harus meninggalkan tempat dimana kita hidup dengan sangat baik, serta orang-orang yang ada di sekitar kita selalu membantu saat kita sedang kesulitan.


Itulah yang dirasakan oleh Tari, desa tempat dia tinggal dari kecil sekarang harus ditinggalkan karena akan pergi bersama anaknya ke kota. Di desa inilah Tari dibesarkan oleh kedua orang tuanya bersama dengan Bulan sang adik.


Tari merasa sangat berat jika harus meninggalkan desa, selain karena ini memang tempat tinggalnya dari kecil, hal yang membuat Tari merasa berat meninggalkan desa adalah kebaikan para warga desa yang telah membantunya keluar dari masa sulit dahulu.


Di saat Tari dalam masa-masa kelam ditinggal suaminya pergi padahal saat itu Tari sedang hamil tua, para warga desa selalu membantu Tari agar tetap semangat menjalani hidup, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari warga desa juga memberi Tari bahan makanan agar janin nya selalu sehat.


Kebaikan seperti inilah yang membuat Tari rindu pada saat itu, padahal biasanya jika orang tahu tetangga mereka ada yang hamil tapi ditinggal suaminya pergi, maka mulut para tetangga tidak akan pernah diam membicarakannya bahkan hingga sampai menghina.


Tapi di desa ini berbeda, warganya selalu membantu di saat ada tetangga mereka yang kesusahan meskipun itu adalah masalah yang besar seperti yang dialami oleh Tari, bahkan pada saat Tari melahirkan orang yang membayarkan persalinannya adalah Pak Tono bersama warga desa lainya mengumpulkan uang untuk Tari bersalin.


"Iya Bu, aku juga berat meninggalkan desa ini dulu pada saat pertama kali harus ke kota untuk bersekolah, tapi aku juga sadar jika tetap di sini maka aku tidak akan pernah berkembang dan mengetahui dunia luar.


Aku pergi juga karena ingin menambah ilmu serta menjadi orang yang sukses agar aku bisa membuat desa ini berkembang saat aku kembali, semua itu yang aku lakukan saat ini, aku membangun banyak fasilitas agar warga bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan desa dan warganya," ungkap Firman yang juga merasakan hal yang sama dengan ibunya.

__ADS_1


"Ibu sangat bangga padamu nak, kamu tidak hanya memikirkan diri sendiri saja tapi juga memikirkan orang-orang disekitar kamu yang telah berjasa pada kehidupan mu," ucap Tari tersenyum bangga kepada sang anak.


Kedua pasangan ibu dan anak itu pun saling berpelukan mengenang masa-masa dulu pada saat Firman kecil yang suka bermain.


Firman dari kecil memang bukan anak rumahan, ia sering bermain keluar desa hanya untuk pergi ke warnet yang ada di dekat sekolahnya dulu, sekolah Firman memang berada lumayan jauh dari desanya jadi harus menempuh beberapa kilometer untuk mencapainya.


"Aku janji akan selalu membuat kalian bahagia," ucap Firman memandang wajah ibunya dengan senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan.


Tari tersenyum lalu mengangkat tangan kanannya dan mengusap kepala Firman dengan perasaan sayang sebagai seorang ibu kepada anaknya. Firman pun pamit pergi untuk melihat perkembangan fasilitas yang ia bangun untuk warga desa, sementara Jia Li sendiri sedang mengemasi barang-barangnya dan juga barang Firman karena besok mereka harus kembali ke kota.


"Ayahmu pasti menyesal telah meninggalkan anak seperti kamu nak, ibu harap kamu tidak seperti ayahmu dan ibu mau kamu bisa membuat pasanganmu bahagia selalu," ucap Tari memandang punggung Firman yang pergi keluar.


..................


Hari ini Firman dan keluarganya akan pergi kembali ke kota, Tari dan Bulan juga sudah selesai membereskan barang bawaan mereka kedalam tas masing-masing, hanya sedikit barang yang mereka bawa karena memang Firman berkata agar jangan terlalu banyak membawa baju karena nanti Firman akan membelikan mereka baju saat sampai di kota.


Warga desa juga sudah berkumpul di depan rumah ibu Firman untuk mengantar kepergian Firman sang pahlawan bagi mereka pergi kembali ke kota, terlihat dari wajah para warga desa sedang sedih karena kepergian Firman.


Apalagi para gadis muda yang sangat sedih lantaran idola mereka akan kembali pulang ke rumahnya di kota, padahal selama beberapa hari ini para gadis tersebut selalu mendapatkan tontonan yang membuat mereka menjerit histeris yaitu saat melihat Firman sedang berolahraga dengan melepas bajunya memperlihatkan perut kotak-kotak miliknya.


Semua sudah siap dan barang bawaan juga telah dimasukan kedalam mobil, sekarang hanya tinggal berpamitan kepada para warga desa.


"Pak, kami pamit kembali ke kota," ucap Firman bersalaman dengan Pak Tono.

__ADS_1


"Huh....Padahal Bapak berharap kamu bisa tinggal lebih lama lagi di sini, tapi apa boleh buat kamu juga pasti memiliki banyak pekerjaan di sana. pesan Bapak hanya satu, jangan pernah lupakan darimana kamu berasal dan jangan berbuat semaunya di tempat yang baru kamu datangi," ucap Pak Tono memberikan nasehatnya kepada Firman.


"Baik Pak, terima kasih atas nasehatnya," balas Firman dilanjut bersalaman dengan warga lainya.


Jia Li, Tari, dan Bulan juga ikut berpamitan dengan warga desa, terdapat sebuah momen yang seharusnya sedih tapi malah membuat ketawa banyak orang, yaitu pada saat Jia Li berkaitan dengan anak pak Tono yang bernama Wati.


"Huaa...Kak jangan pergi, aku masih mau sama kakak hiks...hiks..." ucap Wati sambil menangis memeluk Jia Li erat.


"Eh...Kamu kenapa? Biasanya pas aku di sini kamu tidak pernah peduli padaku tuh, kamu cuma peduli pada make up yang aku bawa," balas Jia Li.


"Eh...I...Itu hehehe maaf ya kak, aku juga pingin cantik kayak kakak makanya suka pinjem make up nya," ucap Wati yang ternyata hanya menangis bohongan agar tetap bisa menggunakan make up milik Jia Li.


Warga desa yang melihat interaksi antara Jia Li dengan Wati menjadi tertawa melupakan kesedihan tadi.


"Ya sudah, nih ambil," ucap Jia Li sambil memberikan sebuah kotak yang berisi alat-alat kecantikan.


"K...Kak ini beneran buat aku?" tanya Wati tak percaya.


"Iya beneran, kalau kamu gak mau nanti aku kasih ke mereka aja, sepertinya mereka juga sangat menginginkan barang itu," ucap Jia Li sambil melihat kumpulan gadis muda yang terlihat iri kepada Wati karena diberi hadiah alat kecantikan oleh Jia Li.


Wati langsung mengambil barang itu dan memeluknya erat seakan tidak mau jika barang itu diambil orang lain, "Terima kasih kak."


Setelah berpamitan, tiba saatnya Firman dan keluarganya pergi meninggalkan desa, warga desa masih melihat mobil Firman yang mulai berjalan menjauhi desa hingga sampai tak terlihat lagi dari pandangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2